Prof. Dr. Yunahar Ilyas

           

Sapto Waluyo
(Center for Indonesian Reform)

Arena dakwah di Indonesia pada masa kontemporer menampilkan tokoh-tokoh panggung seperti Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat di kalangan muda perkotaan, lalu Mamah Dedeh dan Ustadz Maulana di kalangan ibu-ibu majelis taklim. Dari daerah kita mengenal kealiman Gus Bahauddin Nursalim (asal Rembang, Jawa Tengah) dan keceriaan Ustazah Mumpuni Handayayekti (berbahasaa Jawa Ngapak yang biasa dipakai warga Banyumas). Sebelumnya, ada Aa Gym (KH Abdullah Gymnastiar) dan Ary Ginnanjar, populer dengan konsep Manajemen Qalbu dan Emotional-Spiritual Quotient (ESQ). Tokoh yang meninggalkan jejak penting, antara lain: KH Zainuddin MZ (dai sejuta umat), KH Kosim Nurseha (guru mengaji keluarga Cendana), Habib Mundzir al-Musawa (Majelis Rasulullah), dan M. Arifin Ilham (Majelis Zikir Adz-Dzikra). Yang masih bertahan sejak masa reformasi 1998 hingga sekarang adalah Emha Ainun Najib dengan jamaah pengajian-budaya Maiyah.

            Pada era 1980-an Indonesia juga mengalami kebangkitan intelektual Muslim dengan kembalinya para mahasiswa dari studi di mancanegara. Pelopornya antara lain, Imaduddin Abdul Rahum, Nurcholid Madjid, Amien Rais, Syafi’i Maarif, dan Jalaluddin Rakhmat yang bekolaborasi dengan dengan aktivis pergerakan di lapangan semisal Adi Sasono, Dawam Raharjo, Aswab Mahasin, A.M. Saefuddin, Abdurrahman Wahid dan Jusuf Hasyim. Mereka tak hanya memakmurkan masjid-masjid kampus (Masjid Salman ITB, Jamaah Shalahuddin UGM, Masjid ARH UI, dll), namun juga membentuk lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSP, LKIS, LSAF, Paramadina, dan lain-lain). Proses dakwah dan transformasi masyarakat terus bergulir di tengah tekanan rezim Orde Baru yang ditopang birokrasi-militer otoriterian, hingga terbentuklah jaringan nasional Lembaga Dakwah Kampus (LDK) tahun 1987. Tiga tahun kemudian (1990), jaringan LDK berhasil mengumpulkan cendekiawan Muslim dari beragam kelompok dan menginisiasi pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang menandai bergesernya orientasi politik ORBA. Terpilihnya Prof. Dr. B.J. Habibie selaku Ketua Umum ICMI merupakan sinyal awal sirkulasi  kekuasaan pasca-Soeharto.

            Pengamat politik hanya melihat pergiliran kekuasaan sebagai interaksi antar elite politik dengan dukungan pemodal dan kekuatan militer. Pengamat dakwah melihat lebih jauh, faktor penggerak ribuan aktivis dan jutaan warga yang tercerahkan. Di situlah peran tokoh-tokoh di balik panggung yang tidak disorot media massa seperti Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag. yang wafat tanggal 2 Januari 2020 lalu di Yogyakarta. Para aktivis dakwah era 1990-an tentu merasakan sentuhan Buya Yunahar yang memperkenalkan warisan intelektual Islam (at-Turats al-Islamiy) secara sistematik. Ketika teman-teman menyapa Ustadz Yunahar, saya spontan menyebutnya “Buya” Yunahar karena teringat dengan keteguhan sosok Buya A.R. Sutan Mansur yang biasa mengisi pengajian di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta. Nasehat Buya AR menyemangati aktivis pelajar Muslim/Muslimah yang sedang berjuang mempertahankan hak konstitusionalnya  untuk beribadah sesuai dengan keyakinan agamanya, antara lain memakai kerudung bagi siswi Muslimah di sekolah. Di sekolah (SMAN 21 Jakarta) saya menjadi aktivis Rohani Islam (Rohis) dan Pelajar Islam Indonesia (PII), tapi di lingkungan rumah saya aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), selain menjadi pengurus Remaja Masjid at-Tahiriyah di kampung. Masa remaja yang bergelora menepis trauma atas represi regim ORBA.

            Tatkala Buya AR wafat (1985), saya sudah kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya. Posisinya seakan digantikan oleh Buya Yunahar yang menetap di Yogyakarta, setelah kembali dari studi di Arab Saudi. Tentu kedua tokoh asal Minangkabau itu memiliki ciri khas masing-masing dalam metoda mengajar dan berdakwah, namun satu karakter yang membekas adalah sikap konsisten dan keteguhan memegang prinsip. Saya harus mondar-mandir Surabaya-Yogya untuk menghadiri majelis taklimnya, atau sesekali mengundang Buya Yunahar ke Surabaya dalam halaqah ilmiyah. Sebagian aktivis “menemukan Islam” di tengah jalan karena latar belakang keluarga yang sekuler atau abangan, belajar di sekolah umum (bahkan ada yang lulusan sekolah Kristen/Katolik) dan menempuh sains-teknologi modern di perguruan tinggi umum. Mereka belajar Islam secara instan dan lebih sering menangkap semangat (ghirah)-nya, yang dikemas dalam program Latihan Mujahid Dakwah (LMD) atau Pesantren Kilat. Program belajar instan itu kini dituding sebagai sebab kedangkalan pemahaman dan tumbuhnya bibit radikalisme di kalangan aktivis. Padahal, pada zaman ORBA, itu cara efektif untuk merawat semangat perubahan.

            Buya Yunahar mengarahkan ghirah dan membimbing pemikiran para aktivis, terutama dari aspek aqidah secara kritis dan tertib dengan memanfaatkan sumber rujukan terpercaya. Cara belajar skematis (rasm al-bayan) memang mengakselerasi penambahan pengetahuan, namun pengkajian referensi utama akan memperdalam pemahaman dan memperluas wawasan. Karena itu, ditulisnya buku “Kuliah Aqidah Islam” (1992) sebagai panduan, hasil interaksi dengan berbagai kelompok kajian. Tetapi para aktivis tidak hanya membutuhkan aqidah yang lurus dan mantap, melainkan juga sikap dan tindakan yang konsisten serta mampu beradaptasi dengan lingkungan beragam. Untuk itu, Buya menuliskan panduan berikutnya tentang “Kuliah Akhlaq” (1999) dan “Akhlaq Masyarakat Islam” (2002).

            Dalam acara refreshing Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surakarta (21/5/2019), Buya Yunahar memaparkan 10 karakter kader Muhammadiyah. Acara tersebut dihadiri anggota Muhammadiyah dari berbagai tingkat, mulai tingkat Ranting hingga tingkat Daerah, selain juga warga umum. Sepuluh karakter yang harus dimiliki ialah; (1) al-Fahmu, (2) al-Ikhlas (3) al-Amal, (4) al-Jihad, (5) at-Tadhiah, (6) al-Jama’ah, (7) ath-Tho’ah, (8) al-Ukhuwwah, (9) ats-Tsabat, dan (10) at-Tajarrud. Karakter pertama, Al-Fahmu yang bermakna paham atau memahami. Yakni paham tentang Islam secara paripurna. Kader Muhammadiyah tidak boleh mempunyai paham Islam yang setengah-setengah (parsial). “Yang harus kita pahami pertama kali yaitu Islam, karena Muhammadiyah adalah gerakan Islam, jangan salah paham apalagi gagal paham,” ujar Yunahar. Paham Islam yang dianut Muhammadiyah ialah paham manhaji bukan paham mazhabi karena Muhammadiyah tidaklah bermazhab.

            Karakter kedua, al-Ikhlash (keikhlasan) yang –alhamdulillah– sudah menjadi sifat mainstream di kalangan warga Muhammadiyah. Lebih jauh, Buya menjelaskan tiga indikator suksesnya seorang kader dalam kehidupan, yaitu Ikhlasunniyyah (niat yang ikhlas) untuk membantu menghidupi persyarikatan, tidak pamrih dan tidak pelit. Kemudian, itqonul ‘amal (profesional dalam bekerja) dengan memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Dan akhirnya, jaudatul ada atau memberikan hasil yang terbaik/maksimal. Setiap periode kepemimpinan haruslah lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya. Jika diberi amanah, harus berusaha memberikan hasil yang memuaskan. Penjelasan Buya tidak hanya ditujukan bagi warga Muhammadiyah, tapi berlaku bagi semua aktivis pergerakan.

            Tidak banyak karya ilmiah yang ditulisnya, karena kontribusi Buya terutama dalam membina umat dan mengkader para aktivis. Bahkan, ketika sudah menjadi pimpinan teras organisasi besar seperti Muhammadiyah dan MUI, Buya masih meluangkan waktu untuk hadir membina warga asrama mahasiswa dan anggota kelompok diskusi. Jika lokasi pengajian cukup dekat dari rumahnya, maka Buya akan datang sendiri atau siap dijemput oleh panitia, meski hanya berkendaraan motor roda dua. Dalam hal pengkaderan, bukan cuma generasi muda Muhammadiyah yang digemblengnya dalam Darul/Baitul Arqam, melainkan juga pegiat organisasi dan lembaga lain, termasuk juru dakwah yang bertugas di daerah terpencil untuk mencerdaskan masyarakat. The mentor’s spirit will never die.

            Pengabdian Buya bukan musiman dan formalitas belaka, sebab sejak muda memang terlatih untuk membaktikan diri tanpa pamrih. Usai menamatkan Sekolah Dasar di Bukittinggi (1968), Yunahar remaja memilih Pendidikan Guru Agama Negeri (1972) Bukittinggi dan menuntaskannya di kota Padang (1974) setingkat SMA. Sambil mengajar, Yunahar melanjutkan studi ke Fakultas Tarbiyah, IAIN Imam Bonjol hingga meraih gelar Sarjana Muda (1978). Dari kota Padang, Yunahar merantau ke  Arab Saudi untuk mendalami Ushuludin di Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Su’ud, Riyadh sampai tahun 1983. Perjalanan intelektual serupa pernah dilalui ulama-ulama Minangkabau sebelumnya. Sepulangnya dari Saudi, Yunahar muda sempat menuntaskan pendidikan Sarjana di IAIN Padang demi memadukan dua tradisi keilmuan: Timur Tengah dan Indonesia yang mulai terpapar modernisme.

            Yang menarik, bukan sekadar tekun menuntut ilmu dan aktif dalam organisasi (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), Yunahar melakoni tradisi nyantri saat memilih Yogya sebagai kota perjuangannya, dengan setia menemani KH A.R. Fachrudin dan H.M. Muchlas Abrar dalam berbagai kesempatan dakwah. Begitu dekatnya hubungan Yunahar dengan kedua tokoh Muhammadiyah itu, sehingga dijuluki zawil qurba (keluarga dekat). Tetapi bukan nepotisme yang membuatnya aktif di Badan Pendidikan Kader, dan akhirnya menjadi Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus di Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melainkan karena kepakaran dan bukti pengabdian yang tak putus.

            Buya tergolong tipe intelektual yang tidak tercerabut dari akar tradisinya, walau menempuh pendidikan di mancanegara (Saudi) seangkatan dengan Abdi Sumaithi, tokoh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang lebih dikenal dengan nama Abu Ridho. “Beliau mendalami Ushuluddin, sedang saya kuliah di Fakultas Dakwah dan Komunikasi,” kenang Abu Ridho yang kini menjadi Anggota DPD RI dari Provinsi Banten. Abu Ridho bercerita bahwa generasinya ditugaskan oleh M. Natsir untuk belajar di luar Indonesia agar menyerap sebanyak-banyak ilmu dan informasi, agar nanti dibawa pulang sebagai modal membangun Indonesia. Karena itu, Abu Ridho banyak menerjemahkan buku-buku daras Islam dan pergerakan yang menjadi konsumsi utama generasi muda era 1980-an.

            Uniknya, Buya tetap mewarisi khazanah pemikiran Ulama Nusantara dan melakukan kritik-konstruktif terhadap pemikiran Barat modern sesuai dengan prinsip Muhammadiyah untuk menyebarkan Islam Berkemajuan. Tesis magisternya dalam bidang Agama Islam di Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1996) berjudul “Isu-isu Feminisme dalam Tinjauan Tafsir Al-Qur’an, Studi Kritis terhadap Pemikiran Para Mufassir dan Feminis Muslim tentang Perempuan”. Tesis itu diperdalam lagi dalam disertasi doktoral di kampus yang sama dengan topik: “Konstruksi Gender dalam Pemikiran Mufasir Indonesia Modern (Hamka dan M. Hasbi ash-Shiddiqy)” tahun 2004. Buya mewakili seorang ahli tafsir al-Qur’an dengan dengan spesialisasi yang langka: studi gender. Karena itu, kepergian Buya benar-benar kehilangan besar bagi Umat Islam. Perlu hadir pemikir muda yang melanjutkan jihad intelektual Buya.

            Kepakarannya dalam ilmu tafsir turut mendukung Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam menyusun tafsir At-Tanwir yang diluncurkan pertama kali (Juz 1) pada 13 Desember 2016. Jika mengikuti prosedur ilmiah yang baku, tafsir At-Tanwir menurut Buya perlu waktu selama 50 tahun agar tuntas (30 Juz). Akan tetapi, PP Muhammadiyah berupaya mempercepat penyelesaian tafsir tersebut secara kolektif diperkirakan selesai dalam 7 tahun. Jihad intelektual yang melibatkan cendekiawan dari berbagai latar disiplin ilmu. Pada rapat Tanwir (forum tertinggi sebelum Muktamar) di Ambon (22-24 Februari 2017) diterbitkan Tafsir At-Tanwir jilid ke-2. Tafsir at-Tanwir sebagai pandangan resmi Muhammadiyah dengan tiga pendekatan terpadu: bayani (teks al-Qur’an dan al-Hadits), burhani (berbagai disiplin ilmu) dan irfani (pandangan orang shalih). Sampai akhir hayatnya, Buya masih mengajar tafsir di gedung Muhammadiyah di Yogyakarta dan Jakarta. Kedalamasn ilmu tafsirnya bisa menjadi obor dalam memahami dan menerapkasn Islam dalam kehidupan. Nan terpenting, Buya menjalankan prinsip “Nahnu du’at qabla kulli syai’in” (Kita adalah penyeru ke Jalan Allah sebelum profesi lain).

            Bersama jajaran ulama dan pemikir Muhammadiyah, Buya berperan merumuskan nilai-nilai dan membangun fondasi pemahaman Islam tentang Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa as-Syahadah yang ditetapkan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 pada 3-7 Agustus 2015 di Makassar. “Darul Ahdi artinya negara tempat kita melakukan konsensus nasional. Negara kita berdiri karena seluruh kemajemukan bangsa, golongan, daerah, kekuatan politik, sepakat untuk mendirikan Indonesia. Kita ingin mengembalikan ke sana,” jelas Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir. “Kalau Darul Syahadah artinya negara tempat kita mengisi. Jadi setelah kita punya Indonesia yang merdeka, maka seluruh elemen bangsa harus mengisi bangsa ini menjadi negara yang maju, makmur, adil dan bermartabat.” Saat ini ramai dibicarakan soal kecenderungan radikalisme, walaupun gejala separatisme lebih berbahaya. Muhammadiyah ingin kembali meluruskan kiblat bangsa. Mengajak seluruh elemen bangsa untuk berpijak pada prinsip dasar bahwa negara Indonesia ini milik kita bersama, dan negara ini harus kita bangun, kita selamatkan, tak boleh kita rusak.

            Karakter keulamaan Buya tampak nyata dalam sikap dan tindakan, tidak hanya ucapan dan wejangan, yakni selalu berhati-hati dalam menyampaikan pendapat, sehingga bisa diterima di kalangan sesama organisasi Islam dan organisasi kemasyarakatan non-Muslim. Buya adalah tokoh umat dan bangsa bukan hanya milik Muhammadiyah. Posisi formalnya sebagai Ketua PP Muhammadiyah dan Wakil Ketua Umum MUI Pusat tak mengecilkan kualitas kenegarawanan dan kearifannya. Terbukti, kala K.H. Makruf Amien terpilih sebagai Wakil Presiden RI, maka Buya Yunahar yang sebenarnya layak menjabat Ketua Umum MUI Pusat tidak menunjukkan ambisi untuk mengganti jabatan itu. Walaupun sejumlah tokoh ulama berpendapat sudah selayaknya dilakukan regenerasi kepemimpinan MUI sebagai barometer umat. Sampai detik akhir hayatnya, Buya menunjukkan kepada para aktivis yang mungkin terjebak pada sihir kekuasaan akan petuah sederhana: sepi ing pamrih, rame in gawe. Karena jabatan publik itu adalah beban (taklif) yang harus dipertanggung-jawabkan, bukan kehormatan (sharaf) atau pekerjaan (kasab).

            Di tengah kondisi Indonesia yang semakin memburuk dalam beberapa aspek fundamental dan situasi global yang masih bergejolak, kita mengantar kepulangan Buya Sang Mentor bagi para aktivis. Perubahan (sosial) butuh keteguhan (aktor). []