Fatih al-Qarni (Mahasiswa Program Beasiswa STIDKI Ar-Rahmah, Surabaya)

Oleh: Fatih al-Qarni

(Mahasiswa Program Beasiswa STIDKI Ar-Rahmah, Surabaya)

Kaum muda merupakan kelompok yang sangat signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Sattistik) tahun 2019, penduduk Indonesia berjumlah 266,91 juta jiwa dengan komposisi penduduk kelompok umur anak (0-14 tahun) sebanyak 70,94 juta jiwa atau 25,94 persen; kelompok remaja/pemuda (15-24 tahun) sebanyak 45,97 juta jiwa atau 16,81 persen; kelompok dewasa (25-54 tahun) sebanyak 115,87 juta jiwa atau 42,37 persen. Selebihnya adaah kelompok usia lanjut (14,89 persen).

Terlihat bahwa kelompok usia anak dan remaja/pemuda bila digabung sudah mencapai 42,75 persen merupakan kelompok yang paling besar. Pada masa 5-10 tahun yang akan datang, kelompok ini diperkirakan akan bertambah banyak dan mencapai puncaknya (60-70 persen). Itulah yang disebut bonus demografi, ketika kelompok usia produktif lebih besar dari pada kelompok usia yang tidak produktif (anak dan lanjut usia). Kelebihan demografi akan menjadi bonus, apabila kondisi kesehatan dan pendidikannya berkualitas, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Tetapi, bila sebaliknya, kondisi kesehatan dan pendidikan buruk, maka kaum muda bisa menjadi kutukan demografi. Naudzu billahi min dzalik.

Tantangan terbesar bangsa Indonesia adalah menjaga kondisi kaum muda dari aspek kesehatan publik dan kualitas pendidikan serta keterampilan, terlebih lagi di musim pandemi Covid-19. Meskipun kaum muda memiliki daya tahan (imunitas) yang relatif lebih tinggi, namun cukup banyak yang menjadi korban pandemi. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, 47,3 persen pasien Covid-19 di Indonesia yang meninggal dunia merupakan lansia di atas 60 tahun. Sampai bulan Februari 2021, sekitar 15.023 lansia meninggal dunia karena Covid-19 dari total 31.763 pasien meninggal. Angka kematian pada kelompok umur 19 sampai 30 tahun sebesar 4,8 persen atau sekitar 1.524 orang. Adapun kematian Covid-19 pada kelompok umur 6 sampai 18 tahun sebesar 1,5 persen atau 476 orang.

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memaparkan data kasus Covid-19 yang menyerang anak berusia 0-18 tahun. Hal ini berdasarkan dari data nasional per-29 Desember 2020, dan tercatat 82.710 anak terpapar Covid-19 atau 11 persen dari pasien dewasa. Dari data tersebut, tercatat juga 568 orang anak (2,6 persen dari pasien dewasa) meninggal akibat virus corona di Indonesia. Belum lagi ancaman penyakit lain yang menimpa anak dan remaja.

Melihat data tersebut, sudah menjadi prioritas bagi pemerintah untuk menjaga kesehatan anak dan remaja, agar tidak terjadi lost generation atau kutukan demografi. Jaminan kesehatan untuk ibu yang melahirkan juga sangat penting, sehingga pemeliharaan generasi dimulai sejak dini. Hanya dengan kualitas sumberdaya manusia yang terpelihara, maka bangsa Indonesia bisa mencapai kemajuan dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Aspek lain yang harus diperhatikan adalah kualitas pendidikan, termasuk di masa pandemi, tatkala seluruh siswa dan guru serta perangkat pendidikan dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan transformasi digital. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) harus dilakukan untuk menghindari resiko tertular Covid-19. Namun, tidak semua siswa memiliki fasilitas memadai untuk belajar di rumah (learning from home) dan tidak semua orangtua juga memiliki kemampuan atau kesadaran untuk menemani anak belajar di rumah. Disamping itu, terdapat kesenjangan yang sangat lebar dalam hal sarana pendidikan di desa dan kota, di Jawa dan luar Jawa, sehingga tenaga pendidik juga kesulitan untuk menyesuaikan kurikulum di tengah keterbatasan.

Eksperimen PJJ dengan skala massif dan berlangsung cukup lama telah membentuk budaya belajar yang baru. Fenomena itu mestinya membangun sikap mental baru di kalangan siswa dan pendidik. Menurut Laporan Masa Depan Pekerjaan dari World Economic Forum, hanya lima tahun dari sekarang (2025), lebih dari sepertiga keterampilan penting untuk tenaga kerja hari ini akan berubah. Inovasi teknologi yang bergerak cepat berarti bahwa sebagian besar dari kita akan segera berbagi tempat kerja dengan kecerdasan buatan dan robot. Bagaimana generasi muda mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan yang tidak lama lagi terjadi (near future)?

Ada 10 keterampilan vital yang dibutuhkan kaum muda untuk mendapat pekerjaan di masa depan, menurut majalah Forbes, yaitu:

  1. Kreativitas: merancang produk baru, dengan cara kerja dan teknologi baru.
  2. Kecerdasan emosional (EQ) karena manusia tidak hanya mengandalkan rasio.
  3. Pemikiran Analitis (Kritis) terhadap persoalan yang dihadapi.
  4. Belajar aktif dengan mindset (cara pandang) berkembang, jangan terjebak masa lalu.
  5. Penilaian dan pengambilan keputusan secara tepat dan cepat karena persoalan akan datang silih berganti.
  6. Keterampilan komunikasi interpersonal, berhubungan dengan rekan kerja dan anggota keluarga serta lingkungan.
  7. Skill kepemimpinan, mengarahkan potensi anak buah atau staf.
  8. Keanekaragaman dan kecerdasan budaya, kemampuan adaptasi dengan lingkungan berbeda.
  9. Keterampilan teknologi, terutama pada bidang big data dan kecerdasan buatan.
  10. Merangkul perubahan karena perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Untuk merespon berbagai perkembangan dunia kontemporer, maka generasi muda perlu mengembangkan semangat kewirausahaan (entrepreneurship) sejak dini. Kewirausahaan mungkin tidak masuk dalam mata pelajaran di sekolah, tapi dapat kita contoh dari orangtua di rumah atau lingkungan sekitar. Pada hakikatnya, wirausaha adalah sebuah kegiatan usaha mandiri yang setiap sumberdaya dan kegiatannya dibebankan kepada pelaku usaha terutama dalam hal membuat produk baru, menentukan bagaimana cara produksi baru, maupun menyusun suatu operasi bisnis dan pemasaran produk serta mengatur permodalan.  Berwirausaha adalah suatu kegiatan usaha yang melibatkan kemampuan untuk melihat kesempatan-kesempatan yang ada di lingkungan sekitar, kemudian mengorganisisr, mengatur, mengambil resiko, dan mengembangkan usaha guna meraih keuntungan atau kemanfaatan.

Bagi generasi muda Muslim yang mempelajari Sirah Nabawiyah tentu menyadari teladan Nabi Muhammad Saw dalam berwirausaha. Muhammad terlahir sebagai anak yatim karena ayahnya, Abdullah, meninggal dunia saat ibunya (Aminah) mengandung. Masa kecil Muhammad diasuh oleh ibunya yang memiliki seorang pembantu (Halimah) dan kakeknya, yakni Abdul Muthalib, seorang tokoh terpandang di kota Mekah. Muhammad kecil terpelihara dari keburukan-keburukan yang terdapat di kalangan masyarakat Arab dan secara khusus di kalangan suku Quraisy. Melalui pembinaan keluarga, terbentuklah karakter-karakter kebaikan dalam diri Muhammad, antara lain: sifat jujur (shiddiq) dan tidak pernah berdusta, serta tidak terlibat dalam berbagai kemaksiatan.

Jiwa kemandirian Muhammad semakin terbentuk, saat ditinggal wafat oleh kakeknya dan dirawat oleh pamannya, Abu Thalib. Sejak kecil tatkala diasuh oleh Halimah, Muhammad senang menjadi penggembala kambing/domba; dengan perantara itu Muhammad belajar tentang ilmu kepemimpinan secara alami. Dalam sebuah hadits riwayat Al-Bukhari nomor 2262, dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia memelihara kambing.” Para sahabat bertanya “Dan engkau?” Rasulullah SAW menjawab “Benar, aku pernah memeliharanya dengan upah beberapa qirath bagi penduduk Makkah.” Jiwa kepemimpinan telah menjadi naluri Muhammad karena harus menjaga kambing peliharaan di tengah padang pasir yang banyak dihuni hewan buas, dan harus mencari makan/minum yang cukup.

Pada usia remaja, Muhammad diajak pamannya untuk ikut dalam kafilah dagang ke negeri Syam (Suriah saat ini). Muhammad menyaksikan dunia baru yang maju di luar kota Mekah, karena wilayah Syam saat itu termasuk dalam kendali kekuasaan Romawi Timur, sebuah peradaban adidaya bersama dengan Persia. Muhammad berinteraksi dengan berbagai jenis manusia dari latar belakang ras dan budaya. Semua orang yang berinteraksi dengan Muhammad mengakui kehalusan budi pekerti Muhammad, sehingga seorang pendeta bernama Buhaira melihat tanda-tanda kenabian dalam diri Muhammad dan berpesan agar Abu Thalib senantiasa menjaga dan memperhatikannya.

Ketika Muhammad mencapai usia dewasa, beliau sudah memiliki usaha sendiri dan dipercaya oleh banyak kalangan untuk berdagang dan menitipkan barang jualan. Kejujuran dan kecerdasan Muhammad dalam bermuamalah semakin tampak, sehingga mendatangkan keuntungan bagi banyak orang. Semakin besar kepercayaan masyarakat terhadap diri Muhammad, sehingga beliau diberi gelar sebagai al-Amin (orang yang terpercaya). Tidak hanya dalam perdagangan, melainkan juga dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Di sini terlihat pentingnya menanamkan nilai-nilai dasar: kejujuran, kemandirian, dan keterbukaan dalam pergaulan sejak dini, sehingga muncul jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. Secara fisik Muhammad tinggal di wilayah padang pasir dan di lingkungan masyarakat jahiliyah (tidak mengenal Allah Yang Mahaesa dan Mahakuasa). Namun secara ruhani, jiwanya berkelana ke berbagai penjuru negeri dan berinteraksi dengan banyak orang. Bahkan, di tengah keramaian kota Mekah, Muhammad suka menyendiri dan menyepi (tahannuts) untuk merenungkan kehidupan yang jauh ke depan. Karakter dan kepribadian Muhammad semakin matang dan menonjol di tengah masyarakat yang kehilangan orientasi hidup.

Kajian mendalam terhadap Sirah Nabawiyah menjadi dasar yang kuat untuk memperbaiki proses pelatihan kewirausahaan yang sering kita saksikan di masa kini. Tampaknya yang ditonjolkan adalah kemampuan untuk menjual (selling) barang dan jasa, sehingga mendapatkan hasil (return) dan keuntungan (benefit) dalam waktu cepat. Bahkan, ada pelatihan yang mengiming-iming dalam waktu singkat bisa cepat kaya dan menjadi jutawan. Itu adalah pendekatan instan yang menipu dan justru akan merusak jiwa kewirausahaan sejati. Kejujuran, kemandirian dan keterbukaan merupakan karakter utama yang dibutuhkan dalam berwirausaha. Selanjutnya, akan berbuah kepercayaan masyarakat dan kesediaan untuk bertransaksi, sehingga membuka peluang untuk mendapatkan keuntungan.

Generasi muda Muslim perlu mengembangkan spirit kewirausahaan yang otentik, bukan hanya mimpi untuk menjadi terkenal dan cepat kaya. Walaupun dengan dukungan perkembangan teknologi informasi sangat mungkin untuk mencapai kemajuan secara cepat. Tanpa fondasi kepribadian yang kuat, maka segala capaian fisik dan material akan menjadi musibah. []