Mendo’akan Orang Lain di bulan Ramadhan

Posted on

 Oleh:  Wali Kota Depok, KH. Dr. Mohammad Idris, MA.

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ: عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينْ، وَلَكَ بِمِثْلٍ” ( رَوَاهُ مُسْلِمٌ )

Artinya: Dari shahabat Abu Darda’ r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda: “do’a seorang muslim untuk saudaranya bizhohril-ghoib (tanpa diketahuinya) merupakan do’a yang mustajab (dikabulkan), (saat itu) malaikat yang diutus (Allah) berada di kepalanya, setiap kali ia memohon kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu mengamininya seraya berkata: “bagi kamu seperti yang kamu minta untuk saudaramu” (H.R Muslim).

Berdoa kepada Alloh SWT merupakan ibadah mulia dan dimuliakan; betapa tidak, karena setiap hamba yang berdoa kepada Alloh pada hakekatnya sedang membuktikan ketundukan dan penghambaannya secara total kepada Alloh SWT, dengan merendahkan hati seraya memujiNya dan meminta dengan sepenuh hati segala hal yang menjadi kebutuhan hidupnya.

Orang kadang berfikir, untuk apa ia ‘capek-capek’ mendo’akan orang lain, untuk dirinya saja belum tentu do’anya dikabulkan; masya Allah, orang itu sangat ‘egois’, ia lupa bahwa ia tidak hidup di dunia seorang diri, ia tidak sadar bahwa selama ini ia hidup bersama orang lain, tak mungkin ia hidup sendirian tanpa bantuan dan kesertaan timbale balik antara dirinya dan masyarakat.

Apa salahnya jika suatu saat ia berdo’a ”ya Allah, limpahkan kedamaian dan keharmonisan hidup bagi rumah tangga bapak Fulan bin Fulan”. Bukankah jika do’anya dikabulkan Allah, berarti ia memiliki tetangga yang harmonis dan bahagia serta dapat hidup berdampingan dengannya secara damai dan tentram. Ketimbang ia mempunyai tetangga yang hidupnya tidak harmonis dan tentunya bisa mengganggu ketentraman dirinya.

Dalam hadits di atas, bahkan dijelaskan, bahwa isi do’a yang dilantunkan seseorang untuk saudaranya sebenarnya do’a untuk dirinya juga, berarti ia memperoleh 2 kali lipat kebajikan, kebajikan perhatian dan peduli kepada saudaranya dan kebajikan permohonan bagi dirinya. Doa seperti ini termasuk do’a yang mustajab dan diaminkan oleh para malaikat yang bersandung dengan tasbih dan tahmid kepada Allah setiap saat dan kesempatan.

Hadits ini juga memberikan pelajaran lain kepada kita, bahwa kita sesama muslim hidup bersaudara dengan ikatan iman dan ketundukan hanya kepada Allah SWT, kita merasakan apa yang dirasakan pahit oleh sebagian saudara kita, kita merasa sempit dengan kesempitan hidup saudara kita, kita sangat menginginkan kebaikan untuk saudara kita, kita sama-sama memohon perlindungan kepada Allah dari segala kejahatan, bencana bagi kehidupan kita.

Perasaan ini muncul dari lubuk hati yang terdalam dengan keimanan bahwa “orang-orang muslim adalah saudara kita”, “al-muslimun ikhwani” orang-orang Islam adalah saudaraku saudara kita semua. Demikian bekal pertanggungjawaban kita di saat terlontar pertanyaan di akhirat “Man Ikhwanuka?” siapa saudara-saudaramu ?