Simulasi-Mengahadapi bencana Gempa Bumi

DepokNews–Pada 23 Januari 2018 lalu terjadi gempabumi di Lebak, Banten dengan kekuatan 6.1 SR, berpusat di 72 km baratdaya Lebak (BMKG, 2018). Setelah gempabumi terjadi, ramai diperbincangkan tentang ancaman gempabumi yang akan melanda Jakarta dengan kekuatan 8.7 SR. Namun sayangnya berita tersebut tergolong hoax. Walaupun demikian, ibukota Indonesia ini memang berPOTENSI terdampak gempa > 8 SR.

Indonesia memiliki beberapa zona gempabumi megathrust. Terdapat lima zona megathrust di barat Sumatra Selatan dan Lampung serta selatan Pulau Jawa menurut Pusat Studi Gempa Bumi Nasional (Pusgen, 2018).  Zona megathrust merupakan zona sesar-sesar besar berjenis sesar naik hasil dari subduksi antara lempeng-lempeng tektonik dan dapat mengakibatkan gempabumi besar. Sehingga, jika gempabumi megathrust terjadi, dikhawatirkan akan mengakibatkan banyak kerusakan.

Tiga dari lima zona megathrust sudah pernah mengalami gempabumi bermagnitudo >7 SR yaitu Megathrust Mentawai-Pagai, Enggano dan West-Central Java. Dua lainnya yaitu Megathrust Sunda Strait dan East Java belum menunjukkan aktivitas serupa dalam 30 tahun terakhir. Zona yang sedang “tertidur” ini disebut seismic gap. Zona ini diibaratkan seperti orang tidur yang sedang men-charge energinya, sehingga dikhawatirkan ke depannya akan terlepas energi yang selama ini tersimpan sehingga menyebabkan gempabumi besar dengan magnitudo hingga >8 SR.

Pada Rabu 31 Agustus 2018, tim pengabdian masyarakat dari program studi geologi dan geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia melaksanakan sosialisasi kebencanaan banjir, kebakaran, dan potensi gempabumi > 8 SR di Jakarta. Sosialisasi yang menargetkan siswa dilaksanakan di SMAN 31 Jakarta dan mengundang beberapa siswa dari beberapa sekolah yang berada di kelurahan di Kecamatan Matraman, Jakarta Timur untuk ikut serta. Sekolah-sekolah tersebut adalah SMKN 5 Jakarta, SMAN 22 Jakarta, SMA PSKD II Jakarta, SMA Fons Vitae 1 Jakarta, SMK Cipta Karya, SMK Pancasila serta dari SMAN 31 Jakarta. Sekolah-sekolah merupakan perwakilan dari enam kelurahan yang ada di Kecamatan Matraman.

Sosialisasi ini dihadiri oleh beberapa pembicara yaitu Rasmid, M.Si dari Puslitbang BMKG, Tri Indrawan, A.Md. AK. SH. M.Si dari Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta serta Iskandarsyah, M.Si dari Geofisika Universitas Indonesia. Masing-masing pembicara mengangkat topik masing-masing sesuai dengan keahliannya.

Menurut peneliti Puslitbang BMKG tersebut, jika diambil contoh gempabumi Lombok, bangunan di daerah tersebut banyak yang tidak memiliki tiang penyangga di bawah permukaannya ditambah dengan jenis tanahnya yang tidak menyerap gelombang gempabumi, sehingga gempabumi di Lombok Bulan Agustus 2018 sangat dirasakan kuat dan merusak banyak bangunan. “Bencana alam gempa bumi dapat diprediksi potensinya, tetapi tidak dapat diketahui hari, waktu serta detik kapan terjadinya gempabumi. Sehingga penting sekali edukasi kebencanaan untuk meningkatkan awareness dari masyarakat.”, lanjut Rasmid.

BPBD sendiri merupakan Lembaga yang berperan penting saat bencana terjadi di suatu daerah, karena BPBD yang bertanggungjawab penuh terhadap penanggulangan bencana di daerah dengan dukungan lembaga maupun badan terkait. “Tim sar akan menolong korban yang masih selamat terlebih dahulu, maka dari itu setiap individu harus punya keterampilan untuk melakukan evakuasi mandiri ketika bencana terjadi”, tutur Tri Indrawan selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta.

Iskandarsyah selaku dosen serta tim pengabdian masyarakat UI mengatakan bahwa, pentingnya terdapat jalur evakuasi di Kecamatan Matraman. Beliau melanjutkan bahwa, “Menurut penelitian, daerah yang memiliki jalur evakuasi akan lebih cepat melakukan evakuasi dibandingkan daerah yang belum memiliki jalur evakuasi, sehingga tim kami sedang mengembangkan dan membuat jalur evakuasi bencana dan diharapkan dapat membantu masyarakat nantinya.”

Selesainya sosialisasi ini, diharapkan terlahir kader-kader baru dari kalangan siswa untuk menyebarkan ilmu kebencanaan kepada kerabat, keluarga, dan masyarakat sekitarnya agar lebih peduli dan siap siaga jika suatu saat terjadi bencana sesuai dengan tag line acara ini yaitu “Muda, Sigap, Tangguh Bencana”. Bencana banjir dan kebakaran mungkin bisa diprediksi dan dihindari, tetapi bencana gempabumi hingga sekarang belum bisa diprediksi kapan datangnya. Jadi, jangan pernah meremehkan sedikit ilmu tentang kebencanaan, karena kita tinggal di bumi yang penuh dengan misteri.