Oleh: Ajeng Wulandari. ( Mahasiswa STEI SEBI)

Dalam kamus bahasa arab, maqsad dan maqasid berasal dari akar kata gashad. Maqasid adalah kata yang menunjukkan banyak ( jama’), mufradanya adalah maqshad yang berarti tujuan atau target. Maqasid syariah sering dikenal dengan istilah hikmah. Maqasid syariah berfungsi menguatkan isi hukum, maka illat berfungsi menentukan ada dan tidak adanya sebuah hukum. Maqasid syariah merealisasikan maslahat setiap manusia dan meninggalkan mafsadad dari mereka. Maqasid syariah adalah maslahat dan maslahat adalah maqasid syariah.

https://web.facebook.com/Grosir-Kaca-Mata-1734066946827730/

Maqasid syariah juga bisa disebut hajat manusia. yang terdiri dari berbagai tingkatan , diantaranya : hifdzu din, hifdzu nafs, hifdzu aql, hifdzu mal, hifdzu nasb. Maqasid syariah memiliki tingkatan urgensi, Diantaranya : dhararuruyat (kebutuhan yang harus dipenuhi), hajiyat ( kebutuhan yang seyoginya dipenuhi ), tahsinat ( kebutuhan pelengkap ).Maqasid syariah bukan dalil yang berdiri sendiri tetapi menjadi dalil yang memiliki nash yang menjadi sandarannya.

Maqasid syariah memiliki 3 fungsi: bisa memahami nash sumber hukum ( beserta hukumnya ) secara konferehnsif, menjadikan maqasid syariah salah satu standar (murajjihat ) untuk mentarjuh salah satu pendapat fuqaha, memahami ( ma’ allat ) pertimbangan jangka panjang.

Kaidah – kaidah untuk mengetahui maqashid syariah : menerbitkan maslahat dan mafsadad setiap perbuatan dipandang oleh syara berdasarkan maslahat atau mafsadadnya, seluruh ketentuan syariah harus memiliki tujuan, taqsid ( menentukan maqasid ) itu harus berdasarkan dalil.

Penerapan dalam maqasid syariah merupakan penjabaran dari maqashid ( tujuan ) besarnya yaitu hifdzu mal ( menjaga dan memenuhi hajat dan maslahat akan harta). Hifdzu mal tersebut juga menjadi rumpunan kaidah dalam bidang muamalah, kaidah ini dijabarkan dengan maqassid ammah ( tujuan-tujuan umum) dan maqashid khassah ( tujun kusus) yang sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya.

Di dalam penerapan maqasid ammah mempunnyai nilai tersendiri diantaranya, setiap kesepakatan harus jelas, setiap kesepakatan bisnis harus adil, komitmen dengan kesepakatan, melindungi hak kepemilikan, ketentuan akad – akad syariah, harta itu harus terdistribusi, kewajiban bekerja dan memproduksi, Investasi harta, investasi dengan akad mudharabah, keseimbangn antara keuntungan dan resiko.

Sedangkan maqashid khassah ketentuannya adalah : maqasid pelaranga riba dalam surah ali- imran ayat 130, maqasid pelaranga riba dalam surat al- baqarah ayat 275, maqasid perbedaan antara jual beli dan riba, maqasid larangan riba qardh, maqasid larangan riba buyu’, maqasid larangan praktik talaqqi rukban, maqashid larangan gharar, maqashid dalam hadits tentang gharar, maqashid larangan ba’I al -innah, maqashid dalam perbedaan ulama dalam ba’I al- innah, maqashid larangan ba’I al –kali bi al- kali ( jual beli piutang), maqashid perbedaan ulama tentang bai’ al- dain lighairihi al- madin bi tsamanin hal, maqasid larangan ihtikar, maqashid larangan bai najasy, maqashid bai’atain fi bai’ah ( two in one ), maqashid laranagn maisir, maqashid larangan risywah ( suap ), maqashid dalam perbedaan ulma tentang pengelolaan dana non halal, maqashid larangan menggunakan emas bagi laki- laki, maqashid larangan tas’ir ( menetapkan harga), perintah meninggalkan transaksi jual beli saat azan jum’at, maqashid larangan menghambur- hamburkan harta, maqashid penentuan ukuran dan timbangan, maqashid akad-akad dalam fiqih, maqashid berinfak, maqashid pembagian ghanimah, maqashid hukum mencatat hutang piutang, maqashid khiyar dalam jual beli, maqashid akad dalam jual beli, maqashid kewajiban berzakat, maqashid hadits tentang zakat ftrah, perintah menghadirkan saksi dalam transaksi.

Maqasid syariah memiliki beberapa akad. Tujuan akad hampir mirip degan hukum akad, yakni hal-hal yang disebabkan oleh akad sesuai dengan jenis akadnya. Berikut ini tujuan setiap akad, yaitu sebagai berikut:

  1. Tujuan akad ba’I adalah untuk memberikan barang dengan harga secara dawam
  2. Tujuan akad ijarah adalam memberikan jasa upah secara temporal
  3. Tujuan akad qordh adalah memberikan barang berupa harga mitsil dan bisa dikonsumsi dengan tujuan sosial untuk dikembalikan dengan barang sejenis pada waktu yang disepakati.
  4. Tujuan akad hibah adalah memberikan harta kepada orang lain secara Cuma-Cuma tanpa imbalan
  5. Tujuan akad rahn adalah menahan barang sebagaai jaminan, jika pembeli tidak melunasi hutangnya
  6. Tujuan akad kafalah adalah menjamin hutang orang lain untuk melunasi hutangnya
  7. Tujuan akad hawalah adalah mengalihkan hutang dari pihak yang berutang kepada orang yang berpiutang kepadanya
  8. Tujuan akad wakalah adalah memberikan kewenangan kepada seseorang untuk melakukan kontrak atas nama dirinya
  9. Tujuan akad I’aroh adalah memberikan kewenangan terhadap orang lain untuk memanfaatkan barangnya tanpa imbalan untuk dikembalikan
  10. Tujuan akad mudharabah adalah kerja sama dalam usaha dengan cara kontribusi modal disatu pihak dengan skil dipihak lain untuk mendapatkan bagi hasil
  11. Tujuan akad syirkah adalah kerja sama dalam usaha dengan caraa kontribusi modal dan keahlian untuk mendapatka bagi hasil
  12. Tujuan akad I’da adalah seseorang meminta bantuan kepada orang lain untuk menjaga hartanya
  13. Tujuan akad iqalah adalah kesepakatan pihak akad untuk memfasahkan akad yang telah lalu antara keduanya
  14. Tujuan akad ibra’ adalah menggugurkan haknya terhadap orang lain.

Dengan tujuan- tujuan akada sebagaimana dijelaskan diatas itu, maka produk keuangan yang menggunakan akad itu harus sesuai dengan tujuannya.