Oleh : Muhamad IlhamSyahroni

Mahasiswa STEI SEBI Depok

Biasanya suatu peristiwa yang dikaitkan dengan hukum kausalitas akan dapat menarik perhatian para pendengar. Apalagi dalam peristiwa itu mengandung pesan-pesan dan pelajaran mengenai berita-berita bangsa terdahulu yang telah musnah, maka rasa ingin tau untuk menyingkap pesan-pesan dan peristiwanya merupakan faktor yang paling kuat yang tertanam dalam hati. Dan suatu nasihat dengan tutur kata yang disampaikan secara monoton, tidak variatif tidak akan mampu menarik perhatian akal, bahkan semua isinya pun tidak akan bisa dipahami. Akan tetapi apabila nasihat itu dituangkan dengan kisah yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, maka akan meraih apa dituju. Orangpun akan tidak bosan mendengarkan dan memperhatikannya, dia akan merasa rindu dan ingin sesuatu apa yang dikandungnya. Akhirnya kisah itu akan menjelma menjadi suatu nasihat yang mampu mempengaruhinya.

Sastra yang membuat suatu kisah, dewasa ini telah menjadi disiplin seni yang khusus diantara seni-seni lainnya dalam bahasa dan kesusatraan. Tetapi kisah-kisah nyata dalam Al Qur’an telah membuktikan kisah-kisah yang paling tinggi nilainya. Dan satra sangat berkaitan dengan sejarah, sejarah orang-orang terdahulu yang telah lama memberikan gambaran kepada kita tentang pentingnya sejarah Islam.

Sebaik-baik kisah sejarah yang dapat diambil pelajaran dan hikmah berharga darinya adalah kisah-kisah yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’ân dan hadits-hadits yang shahîh dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena kisah-kisah tersebut disamping sudah pasti benar, bersumber dari wahyu Allâh Azza wa Jalla yang maha benar, juga karena kisah-kisah tersebut memang disampaikan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat.

 

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman [Yusuf/12:111]

Artinya: kisah-kisah yang menggambarkan keadaan para Nabi dan umat mereka tersebut, serta yang menjelaskan kemuliaan orang-orang yang beriman dan kebinasaan orang-orang kafir yang mendustakan seruan para nabi, berisi pelajaran bagi orang-orang yang beriman untuk memantapkan keimanan mereka dan menguatkan ketakwaan mereka kepada Allâh Azza wa Jalla dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

  1. Pengertian kisah

Kisah berasal dari kata al-qashshu yang berarti mencari atau mengikat jejak. Dikatakan,” qashashtu atsarahu” artinya,”saya mengikuti atau mencari jejaknya.”Kata al-qashash adalah bentuk masdar.seperti firman Allah dalam surah Al Kahfi ayat 64:

قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَارْتَدَّا عَلَىٰ آثَارِهِمَا قَصَصًا

Maksudnya, kedua orang dalam ayat itu kembali lagi untuk mengikuti jejak dari mana keduaya itu datang. Dan firman-Nya melalui lisan ibu musa,

“Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan : ikutilah dia).” (Al Qashash :11). Maksudnya, ikutilah jejaknya sampai kamu melihat siapa yang mengambilnya.

Qashash berarti berita yang berurutan Firman Allah: “Sesungguhnya ini adalah berita yang benar).(Ali Imran :62) ;”Sesungguhnya pada berita mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (Yusuf :111). Sedang Al-qishshah berarti urusan, berita, perkara dan keadaan.

 

Qashash Al Qur’an adalah pemberitaan Al Qur’an tentang hal mengenai umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Al Qur’an banyak mengandung keterangan tentang kejadian masa lalu,sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona.

  1. Jenis-jenis Kisah dalam Al Qur’an
  2. Kisah para nabi. Kisah ini mengandung dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat yang diterima oleh mereka yang mempercayai dan golongan yang mendustakan. Misalnya kisah Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, isa, Muhammad dan nabi dan rasul yang lainnya.
  3. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orangorang yang tidak dipastikan kenabiaanya. Misalnya kisah orang yang keluar darikampung halaman yang beribu-ribu jumlahnya karena takut mati, kisah talut dan jalut, dua orang putra Adam penghuni gua, Zulkarnain, orang-orang yang menangkap ikan pada hari Sabtu, Maryam, Ashabul Ukhdud, Ashabul Fil (pasukan bergajah) dan lain sebagainya.
  4. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah, seperti perang Badar dan perang Uhud dalam surah Ali ‘Imran, perang Hunain dan Tabuk dalam surah At-Taubah, perang Ahzab dalam surah Al-Ahzab, Hijrah, Isra-Mi’raj, dan lain-lain.
  5. Faedah Kisah-kisah Al Qur’an

Kisah-kisah dalam Al Qur’an mempunyai banyak hikmah, diantaranya:

  1. Menjelaskan asas-asas dakwah menuju Allah dan menjelaskan pokok-pokok syari’at yang dibawa oleh para nabi,

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku“. (Al-Anbiya :25)

  1. Meneguhkan hati Rasulullah dan hati umat Muhammad atas agama Allah, memperkuat kepercayaan orang Mukmin tentang menangnya kebenaran dan para pendukungnya serta hancurnya kebatilan dan para pembelanya.

Dan semua kisah rasul-rasul yang kami ceritakan kepadamu, adalah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu;dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”(Hud :120)

  1. Membenarkan para nabi terdahulu, menghidupkan kenangan terhadap mereka serta mengabadikan jejak dan peninggalannya.
  2. Menampilkan kebenaran Muhammad dalam dakwahnya dengan apa yang diberitakan tentang hal orang-orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi.
  3. Menyingkap kebohongan ahli kitab dengan cara membeberkan keterangan yang semula mereka sembunyikan ,kemudian menantang mereka dengan menggunakan ajaran kitab mereka sendiri yang masih asli, yaitu sebelum kitab itu diubah dan diganti. Sebagai contoh firman Allah :

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”. (Ali Imran:93)

  1. Kisah termasuk salah satu bentuk sastra yangdapat menarik perhatian para pendengar mempengaruhi jiwa, Firman Allah:

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf : 111)

 

 Daftar Pustaka

Manna’, Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al Qur’an, 2006 : Pustaka Al Kautsar.

https://almanhaj.or.id/3833-pentingnya-belajar-dari-sejarah.html : (Diakses pada hari Rabu 14Maret 2018,14,00 WIB )

Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Aisarut Tafâsîr, Pusaka Darus Sunnah