(Utoyo Harjito, Mahasiswa Jurusan Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta)

DepokNews–Kota yang nyaman merupakan impian semua warga, memiliki hunian yang layak dengan segala infrastruktur adalah menjadi harapan. Itu semua merupakan dasar bagaimana agar membuat keluarga untuk menjadikan generasi yang lebih baik di masa depan.

Diawali konsep dan pemikiran positif, pembangunan fisik dan nonfisik adalah hal yang mutlak harus diwujudkan. Kini, dengan pesatnya pembangunan di Kota Depok semakin terlihat Kota Depok sebagai kota metropolitan, dan yang pasti warga harus merasakan hasil pembangunan yang diupayakan Pemerintah Kota Depok yang kini telah berusia ke-20.

Hasil-hasil pembangunan ruang terbuka yang layak seperti alun-alun mulai terlihat dan dirasakan warga, meski pelayanan yang berpihak pada masyarakat mesti didorong lagi. Begitu pula dengan pembangunan manusia dan upaya perbaikan pendidikannya terlihat cukup baik. Pembinaan dan kegiatan-kegiatan spiritual yang marak, membuat masyarakat memiliki kehidupan yang lebih religius dalam modernisasi kawasan perkotaan.

Disinilah pertukaran sosial antara pemerintah dan masyarakat terjadi. Dalam teori pertukaran sosial mendalilkan bahwa kekuatan utama dalam hubungan interpersonal dalam sebuah kelompok sosial adalah kepuasan kepentingan antar pribadi. Kepentingan diri sendiri tidak selalu dianggap buruk dan dapat digunakan untuk meningkatkan hubungan sepanjang saling menguntungkan dalam konteks yang positif. Pertukaran interpersonal dianggap menjadi analog secara ekonomi dimana orang puas ketika menerima imbal hasil yang adil dari yang mereka keluarkan.

Masyarakat akan merasa kehidupannya lebih baik ketika diperhatikan kebutuhan sosialnya. Kebutuhan itu seperti pelayanan masyarakat, pendidikan, kesehatan, penataan lingkungan dan pembangunan infrastruktur yang telah menjadi tuntutan kepuasan dalam sebuah kehidupan masyarakat modern.

Kepuasan masyarakat menjadi tolok ukur dari kenyamanan atau kebahagiaan akan tinggal dalam suatu kawasan seperti Kota Depok. Dan tingkat kebahagiaan sangat berkorelasi dengan kualitas hidup yang baik. Tercatat, Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Kota Depok cukup tinggi, yakni 84,18 (2017). Tingginya tingkat kepuasan masyarakat dan indeks pembangunan manusia di Kota Depok dipengaruhi kebijakan Pemkot Depok di bawah kepemimpinan Wali Kota KH Dr Mohammad Idris MA dan Wakil Wali Kota Pradi Supriatna S.Kom, M.Kom.

Ini semua terwujud berkat kerja-kerja keras semua pihak mulai dari kelompok masyarakat yang paling kecil seperti RT/RW,  kelurahan, kecamatan hingga di tingkat elit seperti Forum Koordinasi Pimpinan di Daerah atau Forkopimda serta anggota Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), media dan penggiat sosial lainnya.

Empati Sosial (Social Awareness)

Pada hakekatnya masyarakat harus merasakan hasil pembangunan secara positif, dan sepatutnya hal itu dibarengi dengan empati sosial (social awareness) dari seluruh komponen masyarakat itu sendiri.

Kata empati (empathy) berasal dari bahasa Jerman yaitu, einfuhlung yang berarti merasa terlibat (feeling into).  Tapi, dalam studi komunikasi insani (human communication) empati ini sering dihubungkan dengan sejauh mana seseorang mau mendengar orang lain. Tak melulu memaksakan pandangan dan pendapatnya sendiri. Singkatnya, empati dalam komunikasi adalah bagaimana kita bisa lebih banyak mendengar untuk hal yang positif.

Bantuk empati sosial bisa diwujudkan dalam hal kecil, seperti mengabadikan semua progress atau kemajuan positif di lingkungan sekitar. Keramaian dan harmonisasi sosialita, progress pembangunan, bahkan aktivitas interaksi warga dan keindahan lingkungan/alam memiliki nilai positif  adalah layak disebarluaskan melalui media alternative seperti media sosial facebook, twitter atau Instagram.

Ketika rekan sejawat atau sanak keluarga kita juga ikut menyebarkan, sadar atau tidak itu sudah memberikan kontribusi positif untuk kota kita. Bisa dibayangkan jika masyarakat beramai-ramai mengupload foto keindahan situ-situ di Kota Depok, atau berbagai kuliner yang ada di Kota Depok. Ini akan membawa dampak yang besar terhadap brandcity Depok sebagai kota modern yang humanis.

Inilah kabar atau pesan yang harus disampaikan pada dunia, kita tunjukkan bahwa Kota Depok kini menjadi kota yang ramah dan memiliki segudang potensi dengan sumber daya manusia yang kreatif dan cerdas. Dan ini merupakan bentuk empati sosial kepada kota kita, Kota Depok yang kini semakin ceria, layaknya remaja yang berusia ke-20 tahun. Selamat ulang tahun Kota ku.

(Utoyo Harjito, Mahasiswa Jurusan Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta)