WAJIB : Jajaran pengurus Koperasi Syariah Bina Auladi Mandiri memimpin penyelenggaraan RAT.

DepokNews -Koperasi Syariah Bina Auladi Mandiri menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke II Tahun Buku 2017 di aula Kecamatan Tapos, Selasa (20/3/18)

Acara tersebut dihadiri Deputi Bidang II Kementerian dan UKM Solekan, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kota Depok M. Fitriawan, Camat Tapos Hasanuddin, perwakilan Dekopinda Kota Depok, para pengurus, dan ribuan anggota.

Ketua Koperasi Syariah Bina Auladi Mandiri, Muhammad Yusuf menguraikan bahwamaksud dari penyelenggaraan RAT adalah memenuhi ketentuan dari pemerintah dan kewajiban setiap koperasi. RAT juga menjadi bukti sehatnya sebuah koperasi.

“RAT juga menjadi momen pembagian SHU (sisa hasil usaha). Tahun kemarin SHU mencapai Rp80 jutaan. Tahun ni meningkat menjadi sekitar Rp112 juta. Itu setelah dipotong pajak,” ungkapnya didampingi Ketua Dewan Pengawas Syariah Koperasi Bina Auladi Mandiri Ustaz Hamdani, anggota Dewan Pengawas Syariah Koperasi Ustaz Aceng Toha, dan para pengurus lainnya.

Dijelaskannya, sesuai ketentuan yang ada di peraturan koperasi, 100% SHU akan dibagi menjadi beberapa pos, yakni sosial 2,5%, kesejahteraan pengurus 5%, dan anggota minimal 40%.

“Tahun 2016 masih ada SHU yang belum dibagikan. Rencananya saat ini akan dibagikan semua,” katanya.

Yusuf menuturkan, koperasi yang berkantor di Jalan Raya Tapos-Cimpaeun, No 20, Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos, ini memiliki anggota 2.353 orang per 31 Desember 2017, dengan 99% anggota merupakan kaum ibu.

“Koperasi ini digolongkan grameen bank. Artinya, anggota yang direkrut dengan sistem per kelompok minimal 10 orang maksimal 40 orang,” pungkasnya.

Sistem ini, katanya lagi, disebut rembuk pusat dengan pola tanggung renteng. Maksudnya, jika ada satu anggota yang bermasalah, semua anggota kelompok memiliki tanggung jawab untuk menanggulangi.

“Paling tidak, anggota memberikan arahan dan masukan agar bisa terus mengembalikan pinjaman. Secara sistem, pola ini sangat safety bagi koperasi. Jika di koperasi lain kredit macet bisa mencapai 5%, di Koperasi Syariah Bina Auladi Mandiri kredit macet hanya nol koma, sangat rendah,” tegasnya.

Perihal besaran pinjaman, Yusuf memaparkan dimulai dari angka Rp1 juta. Setelah melunasi, peminjaman bisa meningkat. Keseluruhan pinjaman diarahkan utuk keperluan produktif, seperti membuka usaha kelontongan, bakso, dan lainnya.

“Besaran pinjaman sudah mencapai Rp10 juta perorang. Selain pembiayaan, kami juga memberikan pembimbingan usaha agar terus bisa meningkat usahanya. Untuk pengembalian bisa memilih dengan sistem mingguan atau bulanan,” tuturnya.

Yusuf menyampaikan, per-April 2018 koperasi yang dipimpinnya dihadapkan pada tantangan untuk membuka cabang di wilayah Sawangan, dan sekitar Juni beralih di daerah Purwakarta.

“Dengan banyaknya anggota yang ada dan makin besarnya pinjaman. Karena itu, kita akan menjajaki kerjasama dengan bank untuk penyediaan modalnya. Bank yang sudah melakukan komunikasi, yakni Bank Muamalat, Bank DKI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri,” tuturnya.

Dengan perkembangan yang positif, pihaknya menargetkan pada tahun 2020 jumlah anggota minimal mencapai 20.000 orang, dengan aset minimal Rp15 miliar.

“Saat ini aset baru Rp4 miliar. Mudah-mudahan tahun keempat, kami sudah menjadi koperasi besar di Depok,” harapnya.