Demo masakan tradisional Palestina

DepokNews–Warisan budaya yang dimiliki bangsa Palestina selama ribuan tahun menjadi sebuah bukti akan eksistensi bangsa Palestina atas tanahnya. Kepemilikan bangsa Palestina atas tanahnya tidak hanya ditandai dengan kehadiran mereka sebagai manusia yang telah turun temurun berada di sana. Dengan latar belakang tersebut, Asia Pacific Women’s Coalition for Al Quds and Palestine (ApWCQP) mengadakan International Conference on Palestine Kuala Lumpur (ICPKL) dengan tema “Palestina, Budaya dan Warisan Ribuan Tahun” secara online.

Konferensi bertujuan untuk menghidupkan warisan dan kejayaan sejarah Palestina sepanjang zaman. Selain itu, mengungkap realita lapangan dan menyingkap kebohongan klaim zionis Israel.

ApWQP beranggotakan tiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand. Selaku Ketua Koalisi, Nurjannah Hulwaini dari Indonesia menyatakan, ” Semoga dengan diadakan acara Konperensi Internasional Palestina di Kuala Lumpur, perjuangan kita untuk membantu Palestina terus terjaga dan kita bisa bersama-sama bergerak menghentikan segala bentuk pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan penjajah Israel di tanah Palestina.”

Jeff Halper, antropolog Amerika, Direktur Komisi Israel Penentang Penghancuran Rumah (ICAHD) di Yerussalem menjadi pembicara pembuka. Ia mengatakan penjajahan zionis berupa pemukiman ilegal bermaksud untuk mengusir dan memusnahkan penduduk asli Palestina.

Halper penulis buku dan masuk nominasi calon penerima nobel di tahun 2006 menyatakan: “Ketika Zionisme datang ke Palestina, tujuannya adalah mengambil seluruh negara, bukan hanya 70 atau 90 persen. Yang dilakukan Israel terhadap penduduk asli adalah memindahkan mereka, mengeliminasi mereka bahkan membunuh mereka.”

Ia secara gamblang menjelaskan bagaimana kebijakan penghancuran rumah yang dilakukan Israel. Sebanyak 99 persen pengusiran rumah terjadi bukan karena alasan keamanan atau lahan pertanian, sebagaimana yang diargumentasikan Israel. Penghancuran rumah juga dilakukan karena 99 persen izin bangunan yang diajukan penduduk Palestina ditolak Israel. Penghancuran rumah merupakai bagian rencana sistematis Israel untuk menguasai tanah Palestina.

Menyambung pembicara pertama, Dr. Sharif yang merupakan CEO Alquds Foundation Malaysia menjelaskan tentang tiga alasan Israel dalam melakukan penghancuran rumah. Pertama, alasan administratif karena tidak adanya izin bangunan atas rumah tersebut. Kedua, sebagai bentuk hukuman kolektif terhadap kesalahan salah satu anggota keluarga. Hal ini melanggar hukum internasional yang berlaku karena membuat orang tidak bersalah ikut menderita hukuman.

Terakhir, penghancuran rumah dengan alasan kebutuhan militer. Penghancuran rumah-rumah di perbatasan antara Rafah dengan Mesir dilakukan atas dasar ini. Di akhir pembicaraannya, Dr. Sharif mengajak kepada seluruh peserta untuk, “Memboikot perusahaan-perusahaan yang mendukung israel untuk menghancurkan rumah-rumah di Palestina. Kami mengajak dunia untuk memboikot HHI Caterpillar, dimana sebagian besar rumah Palestina dihancurkan perusahaan ini.”

Sebagai selingan, konferensi yang dihadiri lebih dari 700 peserta ini menampilkan demo memasak tradisional Masakhan dan Mutobbaq, kuliner asli Palestina yang telah melegenda dan diwariskan dari masa ke masa.

Konferensi yang dihadiri wakil 32 negara dunia di antaranya Malaysia, Indonesia, Inggris, Turki, dan lainnya, menghadirkan Baha Milo, yang merupakan sosiolog sekaligus warga asli Palestina. Ia menjelaskan tentang keberadaan pohon-pohon Zaitun yang ada di Palestina sejak 5000 tahun yang lalu merupakan bukti keberadaan bangsa Palestina. Pohon Zaitun bukan merupakan pohon liar dan membutuhkan perawatan. Hal ini menolak argumentasi Israel untuk menjajah Palestina yang mengatakan, “Palestine is a land without people for people without land (Jews).”

Israel tidak hanya melakukan peghancuran terhadap rumah, tetapi juga terhadap pohon-pohon Zaitun untuk dijadikan wilayah pemukiman, jalan ataupun dinding pembatas apartheid. Padahal pohon Zaitun tersebut merupakan warisan turun temurun keluarga Palestina. Menurut Baha, “Ketika Israel mencabut pohon Zaitun, hal tersebut seperti mencabut sebuah keluarga atau orang, yang merupakan warisan di masa lalu.”

Edukator Palestina melalui pertanian, travel dan budaya ini berpesan di akhir pembicaraannya, “Selama seseorang atau pemerintahan memiliki hubungan dengan rezim zionis, maka rezim ini akan terus menghancurkan kehidupan rakyat Palestina sampai kami menghilang.”

Konferensi juga ditujukan untuk menggalang dana bagi yatim di kota Al Quds san ditutup pemaparan Dr. Fauziah yang merupakan ketua MWCQP. Ia mengingatkan bahwa ada tiga pesan yang diamanahkan oleh konferensi ini, yakni sebarkan dukungan, perlihatkan kepedulian dan tanamkan benih. “Sendirian saya hanya bisa memindahkan batu kecil, bersama kita bisa memindahkan sebuah gunung,” tutup dokter yang ikut serta dalam aksi Women Boath to Gaza. []