Foto:hopkinsmedicine.org

Oleh: RISTI ANJAR WATI / FKM UI

DepokNews– Batu empedu atau kolelitiasis merupakankristal yang terbentuk di dalam kantung maupun saluran empedu. Secara umum,terdapat dua macam batu empedu berdasarkan komposisinya, yaitu kolesterol danpigmen. Batu empedu yang terbentuk dari kolesterol cenderung berwarna kuning,sedangkan batu empedu pigmen cenderung berwarna cokelat kehitaman terbentukakibat bilirubin yang merupakan zat sisa hasil perombakan sel darah merah. Keluhanumum yang sering dialami pasien penderita batu empedu antara lain, nyeri perutbagian kanan atas, nyeri epigastrium (antara dada dan perut), demam, mual,muntah, gangguan pencernaan (dispepsia) dan tubuh menguning. Adapun penyakitbatu empedu juga tidak menimbulkan keluhan (asimtomatik) yang secara insidentalditemukan pada pemeriksaan USG dengan jumlah dan ukuran yang beragam tiapindividu. Ultrasonography (USG)sebagai salah satu pemeriksaan radiologi penunjang yang banyak digunakan untukmendeteksi keberadaan batu empedu dengan akurasi sensitivitas 90% (Gurusamy,2014). Bila tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan komplikasi berupakolesistitis (radang empedu), masalah pada pankreas, bahkan kanker empedu.

Di Amerika pada tahun 2004, tercatat sebanyak 1.8 juta orang yang berobat ke rumah sakit terdiagnosis menderita penyakit batu empedu dengan jumlah penderita berjenis kelamin wanita 58% lebih tinggi dibandingkan pria sehingga beban pembiayaan untuk pengobatan akibat penyakit batu empedu mencapai $6.5 miliar dolar per tahun, jumlah tersebut meningkat 20% selama tiga puluh tahun terakhir (Everhart, 2009). Pada tahun 2006, tercatat 700,000 orang melakukan prosedur pengangkatan kantung empedu (kolesistektomi) setiap tahunnya di Amerika (Shaffer, 2006). Prosedur pengobatan penyakit batu empedu berupa pengangkatan kantung empedu (kolesistektomi) dengan metode laparoskopi yaitu membuat tiga syatan kecil di perut telah banyak digunakan sejak tahun 1988, sebab risiko komplikasi yang terbilang rendah dibandingkan pembedahan terbuka dan proses pemulihan yang cepat (Njeze, 2013). Selain di Amerika, Japan Gallstone Study Group menyatakan bahwa di kawasan Asia Tenggara penderita penyakit batu empedu meningkat sebanyak 10%. Pada kenyataannya penderita penyakit batu empedu banyak terdiagnosis di negara maju, tetapi tidak menutup kemugkinan penderita batu empedu juga banyak terdapat di negara berkembang.

Di negara maju, lebih dari 85% batu empedu yang terbentuk akibat kolesterol (Acalovschi, tanpa tahun). Hal tersebut didukung dengan pola makan masyarakat yang banyak mengonsumsi makanan tinggi lemak, seperti makanan yang diolah dengan cara digoreng dengan pemakaian minyak yang berulang dan makann cepat saji. Kolesterol merupakan lemak dalam darah yang dibutuhkan oleh tubuh, namun apabila jumlahnya melebihi kadar normal maka akan berbahaya bagi kesehatan. Kolesterol diproduksi dalam hati yang kemudian dialirkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Terdapat tiga jenis kolesterol dalam tubuh, antara lain High Density Lipoprotein (HDL), Low Density Lipoprotein (LDL) dan trigliserida. HDL dikenal sebagai kolesterol baik yang berfungsi memperlancar aliran darah dengan mengontrol kadar LDL sehingga jumlah HDL inilah yang harus lebih banyak ada didalam tubuh, sedangkan LDL dikenal sebagi kolesterol jahat yang dapat menghambat sirkulasi aliran darah dalam tubuh dengan plak yang dibentuk. Trigliserida bentuk lemak yang banyak ditemukan pada penderita diabetes dan orang yang sering mengonsumsi alkohol. Acuan kadar kenormalan kolesterol dalam darah diketahui berdasarkan cakupan kadar normal total kolesterol 0-200 mg/dL, trigliserida 0-150 mg/dL, HDL 60-85 mg/dL, dan LDL 0-100 mg/dL (Alexander dkk, 2018).

Alexander dkk melakukan penelitian terhadap 80 pasien penderita batu empedu di India, ditemukan bahwa 79 pasien memiliki kadar HDL rendah dan 35 pasien memiliki kadar LDL tinggi, kedua hasil tersebut lebih tinggi dari level nasional sehingga disimpulkan bahwa kadar HDL rendah dan kadar LDL tinggi dalam darah berhubungan dengan pembentukan batu empedu. Sejalan dengan hal tersebut, pemeriksaan kadar kolesterol total juga dilakukan di RSUD Koja terhadap 102 pasien penderita batu empedu di mana 52 pasien (51%) tergolong memiliki kadar kolesterol tinggi antara 201-300 mg/dL (Febyan, 2017). Tidak hanya berbahaya bagi jantung, kadar kolesterol tinggi ternyata juga berkontribusi pada pembentukan batu empedu yang akhirnya akan menimbulkan permasalahan pada fungsi empedu. Oleh sebab itu, diperlukan perhatian khusus terhadap asupan makanan yang sehari-hari dikonsumsi. Masyarakat perlu melaksanakan diet sehat dengan meningkatkan konsumsi buah dan sayur yang tinggi serat, kurangi makanan berlemak seperti gorengan, kuning telur yang memang memiliki kadar kolesterol tinggi serta perbanyak aktivitas fisik yaitu berolahraga secara teratur agar kadar kolesterol LDL dalam darah dapat tereduksi sehingga aliran darah menjadi lancar dan kualitas hidup menjadi lebih baik.