Fraksi PDI Perjuangan Kota Depok (Foto: Mia Nala Dini-DepokNews)

DepokNews- Raihan penghargaan Swasti Saba Wistara sebagai kota sehat 2019, Kota Depok mendapat kecaman dari Fraksi PDI Perjuangan. Hal tersebut terkait kasus virus Hepatitis A yang baru-baru ini menjangkit ratusan pelajar di Depok.

Anggota Komisi D DPRD Depok, Rudi Kurniawan mengatakan, berdasarkan data yang ia peroleh, ada tujuh faktor dari penilaian terhadap Depok sehingga akhirnya mendapat penghargaan tertinggi sebagai kota sehat. Adapun kriteria tersebut ialah, kawasan permukiman, sarana dan prasarana umum, dan kawasan sarana lalu lintas tertib dan pelayanan transportasi. 

Selain itu ada pula tatanan kawasan industri dan perkantoran sehat, kawasan pariwisata sehat, kawasan pangan dan gizi, kehidupan masyarakat sehat yang mandiri, serta kehidupan sosial yang sehat.

“Tapi beberapa hari lalu ada kejadian luar biasa di SMPN 20 Depok, dimana banyak siswa yang terjangkit Hepatitis A dan semakin hari semakin banyak yang kena,” kata Rudi di ruangan Fraksi PDI Perjuangan DPRD Depok, Jumat (22/11/2019).

Rudi membeberkan, pada Januari tahun ini juga pernah ditemukan kasus serupa di beberapa Sekolah Dasar Negeri. Kemudian April juga tak sedikit warga di kawasan Cinere menjadi korban virus tersebut. 

Namun demikian, Rudi mengaku belum bisa menjabarkan secara detail lantaran datanya belum berhasil ia raih dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

“Artinya yang kami mau soroti Depok cenderung belum bisa dibilang kota sehat, menurut pandangan fraksi kita, salah satunya itu,” ucapnya.

Dirinya pun mempertanyakan penilaian atas penghargaan tersebut karena berdasarkan data yang ia peroleh, angka penderita Demam Berdarah Dengue atau DBD di Kota Depok tiap tahunnya justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan. 

Pada periode Januari hingga Juni 2019, menurut data yang ia terima ada 870 orang pasien yang terkena DBD. Sementara pada 2018 mencapai sekira 300 oraang. 

“Kalau kita bicara data angka ini jelas naik berkali-kali lipat. Padahal ini sudah terlihat siklusnya musim hujan dan kemarau, harusnya cara penanganannya sudah paham, tinggal sosialisasinya,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Rudi, serangan Chikungunya yang juga masih ada di tahun 2019. “Yang saya baca di bulan April ada 17 warga kita yang kena. Lagi-lagi tentang kebersihan,” tuturnya.

Tak hanya itu saja, pihaknya juga mendapati masih tingginya angka atau kasus gizi buruk yang dialami oleh puluhan anak di Kota Depok.

“Gizi buruk ada 80 balita di Depok pada tahun 2019. Memang data ini kalau kita minta dinas terkait kan selalu ditutup-tutupi. Tapi kan kalau masih ada hal-hal seperti ini kan kebangetan ya,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Kota Depok Ikravany Hilman menambahkan, yang menyedihkan lagi adalah tunggakan BPJS Kota Depok yang angkanya mencapai Rp 139 miliar. 

“Artinya ada masyarakat kita yang lagi bermasalah dengan jaminan kesehatan,” ujarnya.

Dengan sederet persoalan tersebut, Ikra dan sejumlah anggota DPRD Depok dari Fraksi PDIP ini pun menilai, Depok belum layak menjadi sebuah kota.  

“Banyak orang yang bilang Depok ini pantas enggak disebut kota. Jangan-jangan Depok ini desa, kampung, atau kabupaten, karena memang cara penanganannya enggak seperti kota,” terangnya.

Apalagi, lanjutnya, jika dibilang penyanggah Ibu Kota, sepertinya juga kalau DBD-nya terus meningkat.

Terkait hal itu, Ikra pun mempertanyakan cara penilaian pemerintah pusat terhadap Depok hingga meraih penghargaan sebagai kota sehat 2019. Sebab ia menilai, jika dibandingkan dengan kota lain maka akan sangat jauh penilaiannya. 

“Contoh misalnya, kami lihat Kabupaten Banyuwangi yang begitu banyak inovasi terhadap kesehatan, baru dapat kota sehat. Depok kayaknya masih jauh. Dapat pengargaan bidang kesehatan tapi anak-anak sekolah terjangkit hepatitis dan masih banyak lingkungan yang enggak sehat kan aneh. Jangan pamer penghargaan. Kami soroti banyak hal yang belum pas untuk Kota Depok dapatkan,” ungkap Ikra.

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan Veronica Wiwin, pihaknya bukan tidak bangga Depok meraih penghargaan. Namun harus disesuaikan dengan fakta yang ada di lapangan.

“Kami tentu sangat bangga apapun itu penghargaannya. Tapi ya harus disesuaikan juga dong dengan fakta yang ada,” tandasnya.(mia)