Kegiatan penyampaian kebutuhan sekolah (Istimewa)

Kepala Sekolah Curhat Soal Sarpras ke Disdik

Posted on 1,185 views
DepokNews- Sebanyak 34 kepala sekolah tingkat SD se Kecamatan Cimanggis menyampaikan kebutuhan terkait sarana dan prasarana sekolah. Umumnya, yang mereka butuhkan adalah ruang kelas baru dan mebeler. Dinas Pendidikan Kota Depok nantinya akan menginventarisir data-data tersebut guna mengetahui secara keseluruhan kebutuhan sarana sekolah.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kota Depok Sariyo Sabani mengatakan sesuai dengan visi Kota Depok yang unggul, nyaman dan religius, dalam menciptakan manusia unggul harus dibarengi dengan infrastruktur yang dibutuhkan sekolah.
“Berdasarkan paparan dengan kepala sekolah SD negeri yang ada di Cimanggis banyak kebutuhan yang mereka sampaikan. Misalnya kekurangan ruang belajar.  Kebutuhan kursi dan meja nya ada berapa banyak. Mengingat ada sekolah SD negeri di Cimanggis yang rawan banjir menyebabkan mebeler mereka rusak,” jelasnya, Selasa (5/12).
Selain itu ada beberapa sekolah yang belum memiliki ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), tidak ada ruang guru dan juga ruang kepala sekolah.
Dalam menciptakan manusia unggul juga dibutuhkan komputer. Untuk memudahkan proses belajar mengajar, apalagi mengingat ujian nasional saat ini berbasis komputer. Selanjutnya guru dilengkapi dengan laptop. Kemudian infocus di dalam kelas. Selain itu, ada yang berharap sekolahnya punya kantin sehingga anak terbebas dari jajanan yang tidak sehat.
“Kemudian adanya pembangunan mushola dan toilet serta ada pula sekolah yang belum dipagar,” lanjutnya.
Sariyo menambahkan kegiatan tersebut akan dilakukan di seluruh kecamatan yang ada di Depok. Nantinya semua Kecamatan akan kami kunjungi. Hal ini dilakukan guna menginventarisir data, berapa banyak  sarana prasarana yang dibutuhkan sekolah di Depok,” terangnya.
Menurutnya, sebagai kota unggul perlu diimbangi dengan perangkat sarana yang menunjang. Untuk di bidang pendidikan perlu dibarengi dengan sarana prasarananya. Ini yang sedang kami data. Termasuk pula mendata sekolah yang usianya sudah tua. Masih ada bangunan sekolah yang usianya dari tahun 1960.
“Jangan sampai kejadian yang tidak diinginkan terjadi, karena lapuknya bangunan sekolah. Kita mencegah hal tersebut tidak terjadi,” pungkasnya.(mia)