Kemajuan Industri Fintech Dapat Dikembangkan Mahasiswa di Indonesia

Posted on

DepokNews- Guna mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, BCA menggandeng UI memberikan pembekalan kepada mahasiswa. Melalui seminar dengan tema “Seminat Edukasi Fintech Indonesia”, di Balairung, Rabu (15/3/2017).

Wakil Rektor Bidang SDM UI, Hamid Chalid mengatakan industri fintech  memiliki pendapatan sekitar 2 mikiar dollar atau triliunan. Industri fintech berkembang besar, dan mahasiswa dapat mengembangkan diri kebidang tersebut.

“Nasabah bank yang tercatat di BII ada 60 juta orang, sementara pendudukan dan generasi muda yang akan punya rekening menjadi mayoritas,” jelasnya saat sambutan.

Hamid melanjutkan, dalam event Karir expo beberapa waktu lalu di UI, pihaknya mengajak dunia perbankan. Hal tersebut agar membantu lulusan UI mendapat pekerjaan yang mudah.

“Fintech menjadi industri yang mau tidak mau kita terlibat didalamnya karena ini tantangan zaman. Bisa mengambil manfaat dari perkembangan itu sendiri,” paparnya.

Sementara itu, Executive Vice President CSR BCA, Inge setiawati mengatakan, pihaknya melihat generasi sekarang. Bahwa teknologi memiliki peranan pentinh dalam segala hal, termasuk perbankan. Di BC sendiri ada produk saku yang memiliki virtual account, sistem pembayaran pun bisa via online.

“Kami ingin mendidik mahasiswa untuk menjadi enterprenuership. Makanya dalam seminar ini kami mengundang blibli yang memanfaatkan teknologi untuk jual beli. Kami ingin mereka melihat dunia untuk terinspirasi dan kreatif,” jelasnya.

BCA sendiri memiliki program pendidikan, salah satunya memberikan beasiswa kepada lulusan SMA setara untuk ikut pendidikan. Pendidikan diberikan gratis bahkan mereka juga diberi uang saku. Ketika lulus nanti jika ada lowongan di BCA akan diprioritaskan.

“Kami fokus pada sekolah yang sudah bekerjasama,” ucap Inge.

Dirinya menjelaskan, bahwa ada tiga pilar pendidikan atau solusi cerdas yang dikembangkan BCA. Diantaranya, beasiswa sekolah, bisnis unggul dengan mengembangkan komunitas untuk bisa mandiri, pembinaan umkm. Kedua adalah wisata desa-desa agar berdiri sendiri secara ekonomi dan diberikan pelatihan. Terakhir adalah Pilar sinergi, dengan pembinaan lingkungan jika ada banjir atau bencana alam.

“Menggugah rasa empati kita untuk yang membutuhkan,” pungkas Inge.(mia)