DepokNews – Badan Musyawarah Masyarakat Bima (BMMB) Kota Depok menyambut baik dan mengapresiasi peluncuran kartu pembimbing rohani yang diluncurkan oleh Pemerintah Kota Depok dibawah komando Wali Kota Depok, Muhammad Idris dan Wakil Wali Kota Depok, Imam Budi Hartono.

Ketua BMBM Kota Depok, Tasrif SH MH mengatakan dengan adanya peluncuran kartu ini menandakan bahwa Kota Depok di bawah kepemimpinan Idris-imam sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota sangat menghargai perbedaan dan memberikan ruang yang sama terhadap semua agama yang ditetapkan oleh pemerintah Pusat.

“Saya terus terang sangat mengapresiasi adanya kartu pembimbing rohani ini. Sebab pembimbing agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu mendapatkan hak yang sama dalam program ini,” ujar Tasrif. Kamis (17/6/2021).

Selain itu program ini memberikan nilai yang positif bagi masyarakat. Artinya dengan adanya insentif yang diberikan oleh Pemkot Depok lewat kartu ini akan menambah semangat para rohaniawan untuk terus mengarahkan umat kejalan kebajikan.

” Tentu ini program yang baik, sangat menghargai setiap agama dan para rohaniawannya. Untuk itu kami berharap kepedulian terhadap pemuka agama semakin ditingkatkan, katanya.

Kandidat Doktor Hukum Universitas Jaya Baya ini juga mengungkapkan, kartu pembimbing rohani ini merupakan wujud pemenuhan janji kampanye sejak masa Pilkada.

“Kalau enggak salah ini masuk janji kampanye pasangan Idris-imam. Nah ini saya melihat mereka sudah mulai merealisasikan program- program sesuai visi dan misinya,”tutupnya.

Sebelumnya Pemerintah Kota (Pemkot) Depok resmi meluncurkan kartu bagi para pembimbing rohani (Pimroh) berupa ATM yang digunakan untuk memberikan insentif setiap bulannya.

Peresmian peluncuran Pimroh ini dilakukan oleh Wakil Wali Kota Depok Imam Budi Hartono di Ruang Teratai, Balai Kota Depok, Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (16/6/2021).

Imam mengatakan, insentif tersebut diberikan kepada 1.000 pembimbing rohani yang ada di Kota Depok. Tak hanya Pimroh Islam, insentif tersebut juga menyasar kepada seluruh agama yang sah atau diakui pemerintah.

Dari 1.000 itu terbagi menjadi 915 orang Pimroh yakni dari Islam, 65 Protestan, 16 Katolik, 2 Hindu, dan 2 Konghuchu. Sementara untuk Budha masih dalam tahap proses pendataan.