ilustrasi (istimewa)

DepokNews–Pemerintah Kota Depok menerapkan ganjil genap di Jalan Raya Margonda Depok pada Sabtu dan Minggu dinilai baik dan bagus.

Akan tetapi hanya saja memang hal itu akan berdampak pada roda perekonomian di jalur jalan tersebut.

“Kami nilai Kebijakan yang bagus bagi Kota Depok. Tapi Pemkot Depok juga harus belajar dengan Pemrov DKI Jakarta,” kata pengamat Transportasi Djoko Setidjowarno kepada wartawan.

Menurut dia, jalanan raya ini untuk mobilisasi warga, mereka warga kata dia memiliki hak. Maka dari itu, mobilisasi di jalan raya harus diatur karena kapasitas jalan terbatas.

“Sementara jumlah kendaraan bermotor kian bertambah.  Maka wacana ganjil genap harus dipersiapkan dengan matang,”katanya.

Persiapan matang ini lanjut dia menjelaskan, aksesibilitas transportasi umum harus bagus. Bahkan, harus dijangkau seperti kawasan perumahan dan pemukiman.

Setidaknya kalo berjalan kaki maksimal 500 meter sudah dapat halte bus. Wacana ini menurut dia pasti berdampak karena setiap kebijakan pemerintah yang menyangkut umum .

Apalagi Jalan Margonda jantung ekonomi Kota Depok.  Selain itu, fasilitas pejalan kaki juga harus diperbaik.

Di mana jalan tersebut harus ada bus besar yang layani. “Angkot harus hilang. Minimal fasilitas angkutan umum harus ada dulu.

Kalau itu tidak disediakan, menzolimi warga namanya. Depok terlambat menata transportasi umum,”ucapnya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok Dadang Wihana menuturkan, ganjil genap barulah wacana. Saat ini masih dalam tahap kajian. Diperkirakan kajian tersebut selesai akhir bulan ini.

“Finalisasi direncanakan selesai akhir bulan ini. Setelah itu dilakukan diskusi, uji publik dan evaluasi,” katanya.

Ditanya apakah sistem ini berlaku untuk kendaraan roda dua dan empat, pihaknya belum bisa memastikan.

Pasalnya hingga kini kajian masih terus dilakukan. “Itu belum dapat dipastikan. Kita tunggu setelah kajian selesai. Tapi tidak berlaku untuk kendaraan umum,” katanya.

Wacana ini dimunculkan sebagai alternatif penguraian kepadatan kendaraan di Margonda pada akhir pekan. Mengingat pergerakan pada akhir pekan di Depok lebih besar dibandingkan hari kerja.

Pergerakannya pada hari biasa sebanyak 58 persen ada di luar Depok.

Sedangkan sisanya sebanyak 42 persen ada di dalam Depok. Namun pada akhir pekan, pola tersebut berubah.

“Hampir semua pergerakan ada dalam Depok. Ini yang menyebabkan terjadinya tumpukan kendaraan pada akhir pekan,”katanya.

Disebutkan jumlah kendaraan yang melintas di Margonda dai utara- selatan (dua arah) pada Minggu sore sebanyak 7.836 kendaraan/jam.

Pada minggu siang sebanyak 7.746 kendaraan/jam, dan minggu pagi sebanyak 6.428 kendaraan/jam.

Sedangkan pada week day sebanyak 7.621 kendaraan/jam pada sore hari.

Sementara pada siang hari sebanyak 3.827 kendaraan/jam dan pagi sebanyak 3.254 kendaran/jam.