DepokNews–Tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia, namun bagi kaum Ibu di Palestina, mereka tidak merasakan kebahagiaan seperti kebanyakan kaum Ibu di Indonesia. Bisa menempati rumah yang nyaman, makan yang cukup dan berkumpul bersama keluarga dengan suka cita.

Adalah sosok Lathifah Ummu Nashr, ibu dari 7 anak yang menjadi lambang keteguhan perjuangan bangsa Palestina yang telah dijajah Israel selama 70 tahun.

Tak terbayang kepedihan menjalani kehidupan karena 5 dari 7 anaknya ditawan penjajah zionis Israel, bahkan salah seorang anaknya gugur menjemput syahid.

Zionis Israel tidak cukup menyakiti Ummu Nashr dengan menangkap ke-5 anaknya dan membunuh salah seorang diantaranya. Pada tanggal 15 Desember 2018 Israel menghancurkan rumahnya di kawasan pengungsian Am’ari Ramallah Palestina. Penghancuran rumah ini adalah yang ketiga kalinya dilakukan oleh zionis Israel.

Penderitaan bertubi-tubi yang dialami Ummu Nashr tak membuat keteguhannya redup. Lontaran kalimat perempuan yang mendapat julukan ‘Khansa Palestina’ ini saat rumahnya diluluhlantakkan adalah, “Mereka hanya mampu menghancurkan rumahku, tapi tidak akan pernah bisa menghancurkan tekadku (mewujudkan Palestina merdeka).”

Sosok Ibu Palestina yang lain adalah ibu muda dari Kota Tremsayya Palestina, bernama Suha Jabarah (31 tahun). Ibu dari 3 anak ini diculik pada tengah malam dan harus mengalami penyiksaan saat diinterogasi. Suha dituduh menyalurkan bantuan bagi anggota keluarga Palestina yang kepala keluarganya ditawan Israel.

Suha dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak bersalah. Satu-satunya protes yang bisa dia lakukan adalah melakukan mogok makan di penjara sejak 22 November 2018 lalu.

Suha yang mengidap penyakit lemah jantung, dengan teguh menjalani perjuangannya membuka mata dunia betapa bangsanya mengalami kezaliman dan penindasan akibat penjajahan zionis Israel di tanah Palestina.

“Sosok Ummu Nashr dan Suha adalah gambaran umum penderitaan para Ibu yang ada di Palestina. Perjuangan mereka untuk mendapatkan hak mendasar seperti memiliki tempat tinggal yang layak dan makanan yang cukup, harus dihadapi dengan resiko yang berat,” tutur Nurjanah Hulwani, Ketua Adara Relief International. Seperti yang dialami Suha, tambah Nurjanah, dia ditangkap secara paksa di depan anak-anaknya yang masih kecil dan harus terpisah karena perlakuan penjajah zionis Israel yang jelas melanggar hak asasi manusia.

“Di Hari Ibu ini semoga kita, bangsa Indonesia, bisa membantu meringankan derita kaum Ibu di Palestina dengan memberikan donasi terbaik kita,” pungkas Nurjanah. (*)