Jakmania dan Bobotoh (Istimewa)

Kata Psikolog Soal Jakmania dan Bobotoh

Posted on 1,108 views
DepokNews- Apa yang terjadi antara Jakmania dan Bobotoh adalah bentuk agresifitas kelompok yang terus menerus diturunkan. Sehingga sebenarnya apa yang menjadi sumber masalah tidak pernah teridentifikasi dengan jelas. Hal tersebut diungkapkan
Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta.
“Seringkali pertandingan olahraga (terutama sepakbola) hanya digunakan sebagai ‘media’ untuk menampilkan agresivitas yang selama ini tak tersalurkan,” katanya Rabu (26/9/2018).
Shinta memperingatkan bahwa anak muda seringkali membutuhkan ‘media’ untuk menyalurkan energinya. Baik dalam bentuk positif maupun negatif. Bisa melalui kegiatan positif, ikut tanding, atau nonton konser dan sebagainya.
Ketika menonton sepakbola juga jadi suatu ‘ajang’ penyaluran energi maka potensi konflik dengan ‘lawan’ menjadi sangat tinggi karena ada kesamaan. Adanya kekuatan sebagai anggota kelompok itu biasanya mendorong orang untuk berperilaku sesuai kelompok.
“Saat lebur dalam kelompok, ia menjadi anonim. Semua adalah anggota corps tertentu. Sehingga ketika terprovokasi untuk melakukan agresifitas, juga tak lagi melihat ‘individu’,”.jelas Shinta.
Dengan demikan seringkali tidak lagi berpikir konsekuensi atas tindakannya secara logis, tapi lebih didorong oleh emosi agresif kelompok. Nurani memang jadi tidak ada, karena melebur dalam kelompok dan menjadi anonim. Padahal dalam tindak criminal, pelakunya tetap individu-individu. Apalagi jika korban sendiri (minoritas), mereka akan lebih brutal melampiaskaj agresifitasnya.
Shinta menjelaskan mengapa ini terus terjadi? Karena masalah utamanya tidak diselesaikan. Misalnya yang dihukum clubnya, tidak ada lagi pertandingan dan seterusnya. Padahal yang melakukan ini kan individu-indivisu yang bergabung dalam kelompok.
“Selama ini kita tidak pernah tau hukuman bagi si pelaku tindak kekerasan ini. Sudah banyak supporter yang mati tapi juga terulang lagi. Misalnya pengrusakan di GBK kemarin juga tidak ada sanksi yang tegas pada pelakunya. Sehingga tidak jera,” paparnya.
Dia juga melihat esensi sport (kata dasar sportifitas) juga tidak ditunjukkan. Harusnya ini bisa diedukasi oleh tiap club di tiap kota. Mereka harus diedukasi bahwa ini adalah olahraga dan bukan ‘ajang’ melampiaskan hal-hal tertentu. Anak-anak dengan pola pendidikan dan pengasuhan yang kurang tepat, menjadikan sepakbola sebagai ajang melampiaskan agresifitas. Ini masalah pendidikan dan pengasuhan sejak dini.
“Fanatisme sebenarnya tidak ada kaitannya. Karena sebenarnya bukan masalah pertandingannya, tapi menumbuhkan kebencian pada pihak lawan yang ditumbuhkan saat ini,” ungkapnya.
Shinta menelaah lebih jauh bahwa dalam hal ini sebenarnya tidak ada hal yang jelas yang menjadi pemicu berkonflik. Ini lebih dipicu karena kebencian yang diturunkan terus menerus.
Merasa benci atas nama corp mereka tanpa kejelasan sebenarnya kenapa harus benci. Hal ini diturunkan dari senior ke junior, begitu terus,” ucapnya.
Dengan kata lain, kata dia, mereka ini hanya menggunakan sepakbola sebagai ‘ajang’ pelampiasan. Dia menduga bahwa masalah sebenarnya bisa jadi masalah-masalah social. Misalnya saja mereka ini adalah pengangguran, di sekolahpun mungkin tidak berprestasi, tidak adanya keluarga yang mendukung serta pendidikan yang terbatas.
“Sehingga event sepakbola ini dimanfaatkan untuk mencari eksistensi. Salah satunya ya berbuat kekerasan pada orang lain sehingga dianggap jago,” ungkapnya.
Dia menyarankan agar dilakukan edukasi dari semua lini. Mulai dari unit terkecil, misalnya RT/RW. Dalam hal ini perangkat lingkungan seharusnya peduli terhadap perkembangan pemudanya. Jika pengurus lingkungan tahu remajanya akan menjadi supporter maka mereka wajib mengedukasi warganya. Pada tataran yang lebih tinggi, misalnya koordinator supporter juga melakukan hal yang sama.
Semua harus memiliki semangat yang sama yaitu tidak anarkis. Edukasi ini bisa dilakukan hingga tataran yang paling tinggi.
“Kalau edukasi itu dirasa belum berhasil, sebaiknya ditunda dulu liganya. Perubahan ini tidak hanya satu bulan, tapi mungkin butuh setahun dua tahun. Peran orang tua, sekolah, masyarakat, semua perlu terlibat untuk memberikan edukasi tentang sportifitas,” tutupnya.(mia)