Ketua Karang Taruna Beji Friansyah

DepokNews–Ketua Karang Taruna Kecamatan Beji Friansyah atau yang biasa disapa Ian menantang para calon Legislatif yang bertarung di Pileg 2019 untuk memaparkan misi dan visi di hadapan warga.

Dia mengatakan para caleg daerah pemilihan di Beji-Cinere-Limo khususnya yang berdomisili di Kelurahan Kemirimuka dinilai tidak memanfaatkan masa kampanye untuk menyampaikan visi dan misi pada rakyat.

Kesempatan itu lebih banyak digunakan untuk pencitraan yang dianggap lebih mampu menggaet banyak pemilih.

“Kampanye seharusnya penyampaian visi dan misi, ajak memilih. Ada enggak visi misi yang ditawarkan? Enggak ada. Adanya pencitraan di lingkungan warga”katanya.

Kampanye tertutup itu diantaranya melakukan dialog atau tatap muka dengan warga namun yang dilakukan hanya mengotori lingkungan dengan memasang sticker dan poster yang tidak ada manfaatnya.

Selain itu, bagi para calon legislatif ( adanya visi dan misi dianggap tidak efektif jika hanya disampaikan pada alat peraga seperti poster.

Foto caleg lebih besar ditampilkan dibanding visi dan misi. Hal ini menjadi salah satu faktor sulitnya rakyat menentukan pilihan.

“Kami mengingatkan seluruh calon anggota legislatif DPRD Kota Depok harus pintar berdebat dan berdiskusi, guna memahami kondisi lingkungan dan mencari solusi untuk kebutuhan wilayahnya”katanya.

Menjaga kestabilan kondisi politik dan ekonomi bangsa juga menjadi tugas utama para caleg DPRD, untuk menumbuhkan rasa kebangsaan di seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Caleg DPR juga harus memiliki kemampuan untuk mendengarkan pendapat orang lain; karena apabila terpilih menduduki kursi parlemen Senayan, anggota DPR harus mampu mendengarkan dan menyuarakan aspirasi rakyat.

Lewat kampanye dialogis pula, atau pemaparan misi dan visi komunikasi dengan rakyat akan tercipta dua arah.

Nantinya calon legislatif bisa menyerap apa yang jadi aspirasi rakyatnya.

Dan, rakyat bisa mendapat ruang untuk bicara. Kampanye dialogis akan mendorong pendewasaan poltik publik.

“Setidaknya para calag akan mengetahui lebih jauh tentang apa yang menjadi kebutuhan dan aspirasi rakyatnya.

Sebaliknya rakyat atau konstituen akan mengenal lebih dekat sosok calon anggota dewannya yang mereka pilih pada Pileg 2019.

Sejatinya kampanye adalah kegiatan kegiatan adu ide dan gagasan, dan adu program.

Dan adu program hanya bisa dilakukan secara baik dalam skala pertemuan terbatas. Bisa disemai dengan baik dalam bentuk dialog. Itu ruang untuk uji program.

Dalam kampanye dialogis, ada ruang bagi pemilih untuk berfikir secara kritis dan rasional.

Menelaah dan menguji program atau gagasan yag ditawarkan oleh calon atau tim suksesnya.

Dia berharap, dalam Pemilu Serentak 2019 nanti yang diperbanyak adalah kampanye dialogis, dimana para caleg memaparkan misi dan visinya.

Ia menyebutnya, kampanye dialogis sebagai bentuk smart campaign atau kampanye cerdas.

Kampanye seperti itu yang dibutuhkan publik.

Selain mengedukasi agar pemilih bisa berpikir cerdas dan rasional, tapi kampanye dialogis juga jadi ruang yang tepat menyebar ide dan gagasan.

“Dan rencannya kami Karang Taruna Kecamatan Beji akan mengadakan kampanye Damai pada 28 Oktober 2018 dalam rangkaian hari Sumpah Pemuda dengan mengundang para caleg di Beji Cinere-Limo”katanya.