Anton Charliyan (Foto: Mia Nala Dini-DepokNews)
DepokNews- Calon Wakil Gubernur (Cawagub) dari Partai Demokrasi Indonesai (PDI) Perjuangan, Irjen Pol (Purn) Anton Charliyan ingin mewujudkan pembangunan ekonomi mandiri.

“Ini dilakukan agar masyarakat Jabar bisa berdiri di atas kaki sendiri, baik berdaulat dibidang pangan, seperti pertanian dan nelayan, berdaulat dibidang ekonomi, politik dan berkepribadian di bidang budaya,” terangnya saat berkunjung ke Depok beberapa waktu lalu

Menurutnya, program kerja yang ditawarkan pasangan Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin dan Irjen Pol (Purn) Anton Charliyan Amananh (Hasanah) nanti tergantung di kota/kabupaten masing-masing. Sebab, saat ini
permasalahan di Jabar secara general bisa diidentifikasik, tetapi permasalah di tiap kota/kabupaten berlainan. Misalkan, di Depok yang menjadi permasalahan mulai dari drainase, banjir dan lainny. Sehingga sarana dan prasaranannya perlu dibenahi, kemudian Depok sebagai sentra perdagangan agar perdagangan ini menjadi sokoguru pertanian di Depok, bagaimana pertanian  bisa menjadi sokoguru ekonomi di Depok.

“Ini kita analisis, nanti kita rumuskan, jadi tiap daerah tidak sama. Contohnya seperti pertanian, kita harus punya peta geospasial. Seperti di Karawang padi, Garut perlu kopi, mana yang menjadi ikon terbaik,” ujar kang Anton sapaannya.

Saat ini, Jabar belum memiliki peta geospasial untuk pertanian, kedua untuk bidang pertanian yang lain, kenapa petani tidak menjadi tuan rumah di negara sendiri. Sebab, di desa-desa itu belum memiliki gudang yang memadai, sehingga petani belum bisa menentukan harga, nelayan pun sama, karena terjerat oleh rentenir dan bank-bank gelap.

“Kami sempat ke nelayan, untuk kesehariannya mereka pinjam ke bank. Ini juga harus dijamin, pinjaman yang tanpa anggunan dan bunga ringan,” jabarnya.

Kemudian, sambung mantan Kapolda Jabar ini, untuk mengatasi pengangguran yang kian bertambah. Jika berkaitan dengan masalah pendidikan dan profesi, karena sebenarnya di Jabar kurang tenaga profesional. Sehingga perlu ada satu tenaga-tenaga buruh yang profesional.

“Kami sudah menandatangani WTO tetapi untuk sertifikasi tenaga profesional belum ada, sementara untuk pabrik-pabrik perlu tenaga-tenaga yang tersertifikasi. Kita perlu membangun Balai Latihan Khusus (BLK). Nantinya dari sini muncul ekonomi kreatif dan ekonomi mandiri. Banyak sekali, secara teknis nanti ada tim kami yang khusus
menyusun strategi dan program tersebut,” tutup Kang Anton.(mia)