Kajian Konsumsi Beras Sagu Bagi Prediabetes

Posted on 14 views

Oleh : Prof. Dr. Bambang Hariyanto, MS
Peneliti Utama BPPT

Pangan merupakan kebutuhan dasar untuk hidup.  Kebutuhan pangan pokok masyarakat Indonesia saat ini dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi (beras).  Dengan berbagai kelebihan nasi hampir 95 % penduduk Indonesia mengkonsumsi beras.  Data konsumsi beras Nasional tercatat 114 kg/kapita/th. Upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebenarnya telah cukup lama dilakukan pemerintah dengan pencanangan gerakan penganekaragaman pangan. Untuk menunjang keberhasilan penganekaragaman pangan tersebut, upaya lain dilakukan yaitu dengan penggalian potensi daerah dalam mendapatkan pangan alternatif. Potensi daerah untuk mencari dan mengembangkan pangan alternatif ini kemudian disebut sebagai pengembangan pangan lokal. Dalam kaitanya dengan pengembangan pangan lokal Marsono (2001) berpendapat bahwa perlu dilakukan peningkatan status sosial pangan lokal dengan cara sosialisasi manfaat kesehatan pangan lokal.

Pada tahun 2010 jumlah penderita diabet di Indonesia mencapai 5 juta (Gunawan & Tandra, 1998). Jumlah tersebut diperkirakan pada tahun 2020 meningkat menjadi 8,2 juta dengan prevalensi 4,6% (Wiyono, 2004). Sedangkan menurut WHO (World Health Organization) jumlah penyandang DM tipe 2 di Indonesia dari 8.2 juta di Tahun 2000 menjadi 21.3 juta orang pada Tahun 2030 (Wild et al., 2004). Gejala serupa juga terjadi di beberapa negara lain.  Berdasarkan Diabetes Atlas 5th edition 2012, pada Tahun 2012 diperkirakan ada 371 juta orang atau sekitar 8% dari total penduduk dunia menderita diabetes (usia 20-79 tahun). Angka tersebut diperkirakan akan meningkat lebih dari 45% dalam jangka waktu 18 tahun ke depan menjadi sekitar 551 juta orang atau 10% dari populasi penduduk dunia bila tidak diadakan penanganan dan pencegahan secara serius. Diabetes tipe 2 menjadi ancaman kesehatan penduduk karena jumlahnya mencapai 90-95% dari semua penderita diabetes (Naik et al., 2013).

Penyakit diabetes merupakan penyakit gangguan metabolisme karbohidrat, yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Ada dua macam penyakit diabetes yaitu IDDM (Insulin-Dependent Diabetes Millitus) yang disebabkan oleh kerusakan sel-sel b dalam pankreas dan NIDDM (Non Insulin-Dependent Diabetes Millitus) yang disebabkan oleh kekurangan reseptor insulin (Burtis et al., 1988). NIDDM biasanya dimulai dari kondisi prediabetes yaitu kondisi hyperglikemia dimana kadar gula darah puasa lebih dari normal yaitu 100-125mg/dL. Pada saat kadar gula puasa mencapai > 126 mg/dL maka sudah dikategorikan diabetes. Apabila tidal dilakukan upaya pencegahan dalam 1 tahun 6-10% penderita prediabetes akan berkembang menjadi diabetes. Salah satu upaya untuk menekan perkembangan NIDDM adalah mengkonsumsi pangan yang memiliki Indeks Glikemik (IG) rendah.

Dalam rangka mengangkat pangan lokal berbasis karbohidrat non padi maka perlu dilakukan kajian tentang efek kesehatan terhadap keberadaan pangan lokal tersebut.  Agar pangan lokal sagu dapat diterima oleh semua kalangan maka dari pati sagu dibuat bulir-bulir menyerupai beras sehingga disebut beras analog sagu.  Menggunakan beras analog sagu tersebut dicobakan ke relawan yang sudah memiliki indikasi pradiabetes. Pertimbangan relawan pradiabetes adalah bahwa relawan tersebut belum mengkonsumsi obat sehingga efek intervensi pemberian beras analog sagu terhadap relawan dapat lebih mudah ditelusuri pengaruh pola konsumsinya. Beras analog sagu yang diberikan adalah campuran sagu dan kacang merah.  Penambahan kacang merah dimaksudkan untuk memnuhi kebutuhan protein dan lemak pada beras analog yang akan digunakan sebagai sampel bagi relawan.

 Metodologi yang dilakukan adalah melakukan percobaan menggunakan sampel manusia yang memiliki kondisi pradiabetes.  Relawan pradiabetes dipilih dengan pertimbangan bahwa relawan yang mengidap pradiabetes kemungkinan besar akan mengidap diabetes namun belum meminum obat.  Parameter yang diambil adalah kadar gula sesaat dan 2 jam puasa.  Relawan diberi makan nasi yang berasal dari beras analog sagu dengan menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan.  Lauknya bebas asal tidak menggunakan lauk yang berasal dari bahan berasal dari karbohidrat seperti kerupuk, perkedel maupun mi yang terbuat dari karbohidrat.  Intervensi beras analog sagu dilakukan selama 4 minggu dan setiap minggu dilakukan pengambilan darah para relawan.

Berdasarkan hasil yang diperoleh maka sejumlah 67 calon relawan yang menjadi sampel yang memenuhi syarat hanya 25 orang dan dari jumlah tersebut diambil sampel 20 relawan. Dari jumlah 20 relawan tersebut terdiri dari 18 orang perempuan dan 2 orang laki-laki dengan sebarann umur rata-rata  47,20 + ­ 12,42 tahun dengan kisaran  21 tahun  sampai >60 tahun.

Hasil analisa kadar glukosa relawan  sebelum intervensi beras analog sagu adalah 113,56 + 8,09 mg/dL .  Selanjutnya intervensi beras analog sagu dan kacang merah pada relawan prediabetes selama 4 minggu dapat menurunkan glukosa post prandial secara signifikan bagi relawan dari 159 mg/dL menjadi 130 mg/dL atau menurun 18,2%. Dengan kata lain intervensi beras analog sagu per minggu dapat menurunkan kadar glokosa 4,5%. Sedangkan kadar kolesterol relawan rata-rata 212,35 mg/dL dan setelah adanya intervensi beras analog sagu menurun menjadi 200,95 mg/dL.  Secara statistic terjadi penurunan sebesar   11,4  mg/dL atau terjadi penurunan total kolesterol sebesar 5.4 %. Nilai trigleserida darah relawan awal rata-rata 159,65 mg/dL dan nilai trigleserida relawan akhir 130,1 mg/dL.  Selama 4 minggu intervensi beras analog sagu terdapat penurunan trigleserida sebanya 29,55 mg/dL atau menurun sebesar 18,5 %. Standar Trigleserida darah adalah < 150 mg/dL.  .Intervensi tersebut juga menurunkan total kolesterol dan trigliserida tetapi tidak berpengaruh pada LDL dan HDL kolesterol. Insuline dan Glut 4 tidak terpengaruh dengan intervensi. Fenomena ini menunjukkan bahwa efek penurunan glukosa post prandial tidak disebabkan oleh peningkatan sensitivitas insulin maupun peningkatan aktivitas Glut 4, tetapi disebabkan oleh pati resisten dalam beras analog yang bersifat viskous sehingga menghambat absorpsi glukosa,kolesterol serta trigliserida.

Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat diberikan rekomendasi a. Bahwa pemberian menu makan beras analog berbasis sagu dapat mengendalikan gula darah bagi para penderita pradiabetes selama 4 minggu, b. Dengan mengkonsumsi beras analog berbasis sagu maka dapat mengendalikan kerja insulin sehingga kerja pankreas dapat diperingan. c. Bagi para lansia penggunaan menu beras analog berbasis sagu akan dapat menghambat penyakit degenerative terutama akan mengatur glukosa darah sehingga akan berdampak terhadap pengendalian kadar kolesterol dan trigleserid, d. Potensi pangan lokal sagu dapat ditingkatkan dengan formulasi beras analog yang bukan sekedar mendampingi beras, tetapi juga mempunyai efek kesehatan. Dengan demikian penggunaan pangan lokal dapat memberikan keuntungan ganda.