DepokNews–Indonesia merupakan daerah yang rawan terjadi bencana. Data BNPB tahun 2018-2019 mencatat bahwa terdapat 3003 kejadian bencana di Indonesia, salah satu terbanyak adalah puting beliung. Provinsi Jawa Barat termasuk urutan ketiga daerah yang rawan terjadi bencana. Hal ini dibuktikan dengan adanya angin puting beliung bulan Desember 2018 khususnya di daerah Kelurahan Pamoyanan, yang mengakibatkan 439 rumah mengalami kerusakan. Selain masalah material, masyarakat juga mengalami masalah psikososial.

Fakultas Ilmu Keperawatan kembali membangun kader dalam mengatasi masalah psikososial masyarakat akibat bencana. Program ini merupakan kerjasama antara Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dengan Kelurahan Pamoyanan dan Puskesmas Mulyaharja dalam bentuk pengabdian masyarakat Program Ipteks Bagi Masyarakat dengan mengusung judul “Pemberdayaan Kader Kesehatan Jiwa dalam Mengatasi Masalah Psikososial Masyarakat Akibat Bencana”

Acara pembukaan dihadiri oleh Kepala Puskesmas Kelurahan Mulyaharja dan Ketua LPM Kelurahan Pamoyanan, sekaligus membuka acara pelatihan. Kegiatan pembukaan dilaksanakan pada tanggal 6 April 2019 bertempat di Madrasah RT 01 RW 03 Kelurahan Pamoyanan, yang mengikutseratakan 66 orang kader dari setiap RW di wilayah Kelurahan Pamoyanan.

Dalam sambutannya, Kepala Puskesmas Mulyaharja dr. Wida Widiawarri, M.Kes mengatakan kepada kader bahwa “semoga apa yg disampaikan dapat diserap dan dipraktikkan di lapangan sehingga dapat menanggulangi masalah yang muncul akibat bencana”. Begitu pula Ketua LPM Kelurahan sangat mengucap syukur atas kehadiran mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan FIK UI karena dapat mengajarkan kepada kader dan masyarakat tentang cara mengatasi masalah psikososial.


Kegiatan ini diketuai oleh Prof. Budi Anna Keliat, S.Kp.,M.App.Sc. Kegiatan berlangsung selama 10 hari yang terdiri dari pelatihan kader kesehatan jiwa dan dilanjutkan dengan pendampingan kader kesehatan jiwa di masyarakat. Pada hari pertama acara pelatihan kader, setiap kader disiapkan dengan pengetahuan tentang bencana (persiapan pra bencana, saat bencana dan pasca bencana). Pengetahuan kader diperluas dengan latihan deteksi dini masalah psikososial akibat bencana dengan menggunakan instrumen SRQ (Self-Reporting Questionnaire). Pada puncak pelatihan, kader dilengkapi dengan pengetahuan tentang manajeman stress. Pada pelatihan manajemen stress, kader dilatih untuk dapat memberikan penanganan ringan cara mengatasi stress akibat bencana. Terlihat semua kader sangat antusias dalam mengikuti kegiatan dan bahkan ada yang mengatakan sangat menikmati manajemen stress yang diajarkan.

Kegiatan hari kedua sampai hari ke sepuluh dilanjutkan dengan pendampingan kader ke masyarakat. Kader didampingi dalam pengisian instrumen SRQ kemudian melakukan tindakan manajemen stress yang sudah diajarkan. Output dari kegiatan ini adalah setiap kader mampu melakukan deteksi dini masalah psikososial masyarakat akibat bencana dan melakukan manajemen stress. Akhir kata, semoga pelatihan yang diberikan dapat meningkatkan kemampuan kader dalam penanganan masalah psikososial akibat bencana.

Description: D:\SPESIALIS UI\RESIDENSI 3 LISA\RES 3 LISA\BERSAMA\Pengmas KADER\IMG-20190406-WA0013.jpg