Kacamata VR Akan Menjamur Layaknya Smartphone Di Tahun 2016

Posted on

Depoknews.id, Jakarta – Sempat kurang diminati di tahun 2016 lalu, karena masih minimnya pengetahuan dan produk-produknya membuat teknologi virtual reality tidak begitu terkenal. Namun, berbeda di tahun 2017 ini, kacamata virtual ini dikabarkan akan menjamur layaknya penjualan ponsel pintar atau smartphone di tahun 2016 lalu.

Saat ini ada 3 jenis perangkat virtual reality di pasaran. Yakni headset VR yang dipasangkan dengan ponsel, yang dipasangkan dengan PC dan terakhir perangkat standalone alias berdiri sendiri.

Karena muncul berbagai faktor, headset VR yang dipasangkan dengan smartphone diprediksi jadi trigger kepopuleran VR. Seperti yang Depoknes lansir dari laman DetikINET, “Cara bagus untuk memulai adalah dengan smartphone. Soalnya setiap orang memakai smartphone,” ujar Hugo Swart, Senior Director Product Management Qualcomm kepada detikINET di sela CES 2017 di Las Vegas.

Memang saat ini, sudah cukup banyak vendor smartphone yang mengembangkan perangkat VR. Meskipun harus diakui tidak semuanya punya kualitas. Hal itu cukup disayangkan oleh Hugo.

Tapi menurutnya lama-lama masyarakat akan sadar sendiri smartphone mana yang bagus digunakan untuk VR dan mana yang tidak. Smartphone dengan spesifikasi rendah jelas menghadirkan pengalaman VR yang kurang memuaskan.

“Jika Anda bisa menghadirkan pengalaman VR yang bagus, sebut saja seperti Google Daydream atau Gear VR di Galaxy, maka arahnya sudah benar. Efeknya akan seperti bola salju, dimulai dari kecil dulu,” papar Hugo.

“Nantinya semakin banyak orang memakainya, makin banyak yang tertarik, makin banyak penyedia kontennya, maka kejadiannya akan mirip dengan smartphone,” tambah dia.

Ya, smartphone di zaman dulu pun tidak terlalu populer. Sekarang lihat saja, semua orang menggunakannya, jadi sebuah perangkat wajib.

“Dulu smartphone pun diawali hanya dengan beberapa aplikasi saja. Lalu makin banyak orang menggunakannya, developer pun berdatangan. VR punya efek ekosistem yang sama,” lanjut Hugo.

Terlebih lagi VR bukan hanya untuk hiburan. Banyak manfaat yang mampu dihadirkannya, misalnya aplikasi pariwisata di mana orang bisa lebih dulu melihat tempat wisata di headset VR sebelum benar-benar datang ke sana.

“Bisa juga digunakan di bisnis real estate. Jadi, orang bisa melihat dulu secara virtual apartemen atau rumah yang ingin dibelinya sebelum datang langsung,” sebut Hugo.

Di dunia pendidikan, VR bisa dipakai untuk menyajikan pelajaran di kelas dengan jauh lebih menarik. Para siswa bisa disuguhi pemandangan virtual dengan tema pelajaran geografi, sejarah dan sebagainya.

“Kita pernah melihat bagaimana perkembangan ponsel, kini kita akan melihatnya lagi. Apalagi perangkat VR itu juga mobile dan fitur-fiturnya relevan dengan smartphone. Qualcomm akan mendorong perkembangannya,” pungkas Hugo.