DepokNews- Rektor Universitas Indonesia (UI) Muhammad Anis mengatakan, jumlah pengguna internet di seluruh dunia meningkat drastis. Menurut data terbaru yang dirilis We Are Social per Agustus 2017, jumlah pengguna internet global kini menyentuh angka 3,8 miliar dengan penetrasi 51 persen dari total populasi di dunia.
Menurut lembaga riset pasar e-Marketer,  populasi netter Indonesia mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Pada 2017, eMarketer memperkirakan netter Indonesia bakal mencapai 112 juta orang, mengalahkan Jepang di peringkat ke-5 yang pertumbuhan jumlah pengguna internetnya lebih lamban.
“Namun ternyata, meningkatnya penetrasi internet di Indonesia ini juga membawa dampak lain yaitu meningkatnya kasus ujaran kebencian di ranah publik,” katanya.
Tim Cyber Bareskrim Mabes Polri pada April 2017 melaporkan telah terjadi 5.061 kasus cyber crime atau kejahatan siber ditangani Polri selama 2017.  Tercatat sebanyak 3.325 kasus kejahatan merupakan kejahatan hate speech atau ujaran kebencian yang dipaparkan melalui media sosial. Sama halnya data yang dipaparkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2016 yang menyebut ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech).
“Jadi pertanyaannya adalah apa yang terjadi? Kenapa seiring dengan penetrasi internet yang tinggi malah membuat tingkat ujaran kebencian dan hoax juga menjadi semakin tinggi? Mungkin kurangnya program literasi media digital ke masyarakat adalah kunci,” paparnya.
Dikatakan, literasi media digital dapat memberikan pengetahuan ke masyarakat, konten publik apa saja yang berpotensi melanggar hukum bila diunggah, dan konten mana saja yang berpotensi framing mengarahkan pembaca/penonton untuk mempunyai opini tertentu. Yang mungkin bisa dilakukan adalah memulai dari diri sendiri.
“Mulailah banyak menahan diri dan menilai. Ketika kita ingin mengungkapkan sesuatu di ranah publik, terutama di media sosial maka ada baiknya tahan diri dan renungkan apakah ini perlu atau tidak. Kemudian ditelaah kebenarannya serta dampak yang bisa terjadi nantinya,” tukasnya.
Dalam menerima berita yang beredar maka ada baiknya  menilai sumber rujukan. Lihat apakah sumber berita itu mempunyai kredibilitas atau tidak. Mengandung potensi menggiring opini atau tidak.
“Ini penting untuk mendeteksi berita-berita palsu yang kini banyak beredar. Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan media sosial, karena ia hanyalah sebuah medium. Yang memberikan nilai baik atau buruk terhadap medium tersebut, adalah kita, penggunanya. Jadi, bijaksanalah dalam menggunakan media sosial,” pungkasnya.(mia)