Oleh: Rafli Allatif Ramadhan (Mahasiswa STEI SEBI Depok) 

Teriakan lantang untuk jutaan orang yang memandang selalu menggema dihati para pecintanya , rangkaian kata indah kian menyentuh menguak seluruh isi hati dan akal pikiran pembuatnya, atau santun dan rupawan panutan khalayak ramai nan terpuji perangainya.

Dakwah. Mengamalkan ajaran agama Islam dan mengajarkan kepada orang lain. Kita sebagai umat muslim pastilah tahu apa arti dakwah. Tapi, terkadang, kita merasa tak bias melakukannya. Takut, malu, kadang menyelimuti. Akan tetapi, tahukah bahwa islam kini semakin terpuruk?

Palestina contohnya. Dulu yang menjadi kiblat agama pertama, sekarang menjadi negeri penuh derita. Budaya-budaya barat kini kian ,enyebar keberbagai penjuru dunia, terasuk negeri kita, Indonesia. Perayaan tahun baru, valentine, natal dan lain sebagainya. Pacaran, narkoba, hingga zina kini menjadi hal biasa. Ideologi komunis dan liberal kini kian bermunculan. Mengumbar aurat seolah telah menjadi tradisi. Barang-barang impor telah menjadi fashion masa kini. Klub-klub malam yang semakin menjamur dikalangan muda-mudi. Dulu pendekatan diri kepada ilahi, sekarang pendekatan diri kepada teknologi. Itu baru warganya, belum pemerintahannya. Bencana dimana-mana, tapi korupsi merajalela.

Hukum alam seakan berlaku. Siapa yang kaya dialah pemenangnya. Hanya karena harta mereka rela berbuat apa saja. Lupa akan dosa seakan menjadi hal yang biasa. Yang penting bahagia tanpa bingung memikirkan urusan akherat pikir mereka. Sungguh miris rasanya. Tapi kita, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan negeri kita sendiri?

Sebenarnya, ada acara untuk mengubahnya. Tinggal kita sendiri yang mau atau tidak untuk memulainya. Bahkan sekarang didukung oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat. Walau musuh memiliki yang canggih, kita bisa melawannya. Teknologi dilawan dengan teknologi. Untuk apa kita malu menyebarkan kebenaran? Untuk apa kita mendapatkan cacian?. Toh hinaan dan cacian tak berpengaruh untuk kita, bukan?. Apalagi pemuda sekarang yang kiprahnya sangat dinanti-nanti karena bisa mengubah dunia. Ing madya mangun karsaning dakwak fisabilillah. Yang ditengah yang memberi semangat untuk dakwah dijalan Allah SWT.

Kita punya akal pikiran dan mulut yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita. Kita punya tangan dan kaki yang bisa dingunakan untuk apa saja. Kita punya hati yang bisa merasa dan menyemangati, Gunakanlah semua itu. Manfaatkanlah nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita untuk dakwah di jalan Allah SWT. Berdakwalah.

Dengan ceramah contohnya. Apakah kalian berfikir ceramah itu jadul-lah, kuker-lah, tidak  banyak peminatnya-lah, dan lain sebagainya?.  Itu semua salah. Sekarang malah banya ustadz-ustadz muda mulai bermunculan. Sesuai dengan pesan nabi “Gunakanlah masa mudamu sebelum masa tuamu”. Cermah tak hanya di atas mimbar, sering dengan perkembangan teknologi, kita bisa memanfaatkannya dengan cara mem-video ceramah kita dan mempubikasikannya. Apalagi sekarang dunia maya banyak peminatnya. Mudah bukan?

Selain dengan ceramah, kita juga bisa berdakwah dangan tulisan kita. Apalagi kalu kita punya skill dibidang public speaking. Ini sangat bermanfaat. Kita hanya perlu meningkatkan kata-kata kita. Tulisan kita bisa di-share via internet atau dijadikan buku, yang tentu isinya mengajak kepada kebenaran, itu sebagai amal jariyah dan tidak akan musnah walau kita sudah meninggal dunia. Mudah bukan?

Kalau kalian takut untuk ceramah dan tidak punya kemampuan dibidang tulis-menulis, kalian bisa berdakwah dengan perbuatan kalian. Tingkahlaku sebagai cermin isi hatimu. Berbuat baik ke[ada sesama, cerdas, suka menolong itu menjadi panutan banyak orang. Apabila kita berakhlak mulia, maka orang lain hanya menilai bagus diri kita sendiri, tetapi juga keluarga kita sekolah kita, bahkan bisa menjunjung tinggi agama kita. Itu juga tidak sulit bukan?

Jadi, hal seperti apa yang kalian pilih untuk berdakwah dan menyelamatkan Indonesia dari kehancuran moral?. Sebagai pelajar cara berdakwah yang paling tepat adalah belajar dengan giat dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Ikuti suara hati, searah semuanya kepada Sang Pencipta, dan biarkan waktu serta keadaan berjalan dengan semestinya. Selagi kita masih muda dan sehat, tunggu apalagi untuk berdakwah?. Tak perlu menunggu tua dan berlumut, jika memang kehendak-Nya, kita tidak bisa menghindar dari-Nya.

*Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.