Produser Film Bagus Haryanto saat jumpa pers di CGV Dmall Depok (Foto: Mia Nala Dini-DepokNews)

DepokNews- Produser Film “Ayu Anak Titipan Surga”, Bagus Haryanto mengakui kesalahannya karena belum bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok. Terkait dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017, terkait peran media untuk mensosialisasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada siswa.

Bagus mengatakan, adanya ketidakseimbangan pemberitaan mengenai siswa di Depok jenjang SD dan SMP, yang menonton Film Ayu Anak Titipan Surga di bioskop, pada jam sekolah. Padahal, lanjutnya, itu adalah bagian dari ekstrakurikuler untuk PPK dan tertuang dalam Perpres tersebut.

“Jujur yang salah saya, karena sampai dengan sekarang saya belum pernah ketemu dengan Kepala Dinas Pendidikan Depok. Dan saya memang belum pernah menjelaskan secara gamblang tentang program PPK, melalui media film berdasarkan Perpres No 87 Tahun 2017,” jelas Bagus, dalam Press Conference di CGV Dmall, Jumat (23/8/2019).

Justru, kata Bagus, dari ketidaktahuan ini dirinya bangga dengan Kadisdik Kota Depok, Mohammad Thamrin, karena belum dijelaskan secara gamblang, namun sudah memberikan imbauan kepada kepala sekolah untuk mengajak siswa menonton film tersebut. Berdasarkan dari surat imbauan dari Kementrian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) kepada bupati dan walikota di seluruh Indonesia.

“Nah atas dasar surat itulah maka Kadisdik Depok secara responsif, memberikan surat imbauan kepada kepala sekolah,” ujarnya.

Bagus pun menjelaskan, dalam PPK terdapat pemahaman mengenai olah hati, rasa, dan pikir. Dimana membutuhkan media visual untuk mendukung siswa untuk dapat menyerap PPK yang dimaksud. Karena itu ada kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat, ini titik beratnya. Jadi bukan hanya sekolah saja tetapi melibatkan juga masyarakat, ini adalah point dari Perpres tersebut.

Tujuannya apa? Karena pada Tahun 2045, Indonesia mencanangkan puncak kejayaan Bangsa Indonesia, yang disebut dengan indonesia emas. Lalu siapa pelaku pembangunan Tahun 2045, mereka adalah siswa-siswa yang saat ini berada di Jenjang SD dan SMP.

“Kita persiapkan semuanya, dari sisi apa? Mentalnya, spiritualnya, nah sekarang mengapa harus melalui media film. Beranggapan ini rekreasi, padahal tidak, ada nilai edukasi didalamnya. Mengapa tidak disekolah, karena jika di bioskop siswa dapat merasakan hal berbeda. Layan besar, dan audio visual yang jernih membuat siswa konsentrasi melihat film. Beda jika disekolah, tempat mereka sehari-hari, ada yang berlarian atau melakukan kegiatan lain. Inilah yang kita ingin tunjukkan dari perbedaan mengapa tidak disekolah,” beber Bagus.

Terakhir, Bagus mengatakan, semua telah tertuang dalam Perpres No 87 Tahun 2017, pun terkait dengan kerjasama dunia usaha dalam hal ini pihak bioskop didaerahnya. 

“Dengan regulasi siswa membeli tiket dan dikoordinir pihak sekolah, tidak biaya lain-lain, kecuali transportasi siswa. Namun, Bagus menyatakan bahwa itu hal teknis yang bisa dikoordinir pihak sekolah,” tukas Bagus.

Mengapa Film Ayu Anak Titipan Surga, dirinya mengatakan tokoh utama dalam film ini digambarkan seorang ayu yang memiliki sifat baik, hampir sempurna. Disitu siswa diharapkan mencontoh perilaku dari Ayu itu. Film bergenre drama yang disutradarai Guntoro Sulung ini, sarat akan kejujuran dan pesan pendidikan moral didalamnya.(mia)