DepokNews– Anggota DPRD Kota Depok F yang juga bakal calon Wali Kota Depok dari PKS, Hafidz Nasir mengatakan problem tawuran antara pelajar di Kota Depok lebih ke pada hilangnya komunikasi antara orang tua dengan anak.

“Tawuran sebenarnya tugas kita bersama, namun yang menjadi permasalahan sering kali tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak. Karena orang tua terlalu sibuk mencari uang. Berangkat pagi pulang malam,”ujarnya saat dikonfirmasi.

Oleh karena itu selain tugas sekolah untuk mendidik siswa- siswi, peran orang tua harus dimaksimalkan. Para orang tua harus berkomunikasi apa masalah yang dihadapi anak, dan dengan siapa anaknya bergaul.

“Orang tua harus kroscek setiap hal yang dilakukan anak, karena jika tidak akan berdampak terhadap tawuran dan prilaku LGBT,”katanya.

Menurutnya anak-anak yang terlibat tawuran dan melakukan tindakan kriminal lainnya, lahir dari keluarga broken houm atau keluarga yang tidak ada komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.

“Makanya kedepan Kota Depok perlu mengoptimalkan program ketahanan keluarga. Persoalan tawuran tidak hanyalah tugas sekolah, tapi juga tugas orang tua. Jadi jangan juga sekolah selalu jadi objek ketika ada tawuran,”katanya.

Selain itu terkait pencabutan izin bagi sekolah yang siswanya sering terlibat tawuran, Hafidz meminta harus dilakukan pendekatan persuasif dengan sekolah yang sering tawuran.

“kan tidak bisa mencabut izin sekolah tanpa ada kajian, jadi harus ada pendekatan, cermati masalahnya dimana. Apakah masalahnya lingkup sekolah atau alumni, atau pihak ketiga. Harus tau penyebabnya,”ujarnya.

Lanjutnya salah satu penyebab tawuran terjadi yaitu provokator dari para alumni.
Ketika waktu masih sekolah, para alumni sering tawuran.

“Nah ketika lulus mereka provokasi adek-adeknya untuk melakukan tawuran,”jelasnya.

“Untuk itu pihak keamanan harus dilihat provokator dari alumni. Dan pihak sekolah tidak melakukan pembinaan terhadap para siswa harus jadi catatan,”tuturnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi PKS, T Farida Rahmayanti turut mengomentari maraknya tawuran antara pelajar yang terjadi di Depok.

Menurutnya kasus tawuran antara pelajar perlu menjadi perhatian semua pihak. Untuk itu dirinya mendorong pihak sekolah melakukan pembinaan kepada siswa yang terlibat rawuran.

” Sekolah harus melakukan upaya pembinaan kepada para siswa. Dan semua pihak harus terlibat dalam menanggulangi kejadian tawuran ini,”katanya saat acara kumpul bareng media di Kaffe Ghawel, GDC. Senen (11/2/2020).

Selain itu sekolah juga perlu menambahkan kegiatan-kegiatan positif yang membuat para siswa tidak punya celah untuk ikutan terlibat tawuran.

“anak misalnya disibukan dengan agenda-agenda seperti diskusi, membaca kitab suci agama masing-masing. Dan mungkin juga kegiatan ekstrakurikuler lainnya yang membuat anak fokus,”katanya.

Tak hanya itu ketika pulang sekolah, para siswa dipantau dan para guru memberikan tugas agar mereka punya kegiatan saat pulang sekolah.

“Dulu kan ada di Perda pendidikan. Misalkan anak membaca kitab suci masing-masing, 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar. Kemudian guru berupaya mendekatkan anak dekat dengan pencipta biar anak secara psikologis nggak kering ahlaknya,”tuturnya.