Indonesia Masuk 5 Negara Dengan Kasus Penderita Hipertensi Tertinggi Di Dunia

Posted on 17 views

Depoknews.id, Depok– Penderita tekanan darah tinggi di seluruh dunia meningkat. Sehingga jumlah kasus kematian dari penyakit ‘Silent killer‘ ini juga meningkat. Ternyata, Indonesia masuk dalam daftar lima teratas negara dengan penderita tekanan darah tinggi atau hipertensi di dunia.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Washington’s Institute for Health Metrics and Evaluation di Seattle, lima negara yakni Amerika Serikat, Cina, India, Indonesia, dan Rusia menyumbang lebih dari 50 persen kasus tekanan darah tinggi.

“Ada hampir 900 juta orang di dunia dengan hipertensi, dan ada hampir 3,5 miliar orang dengan tekanan darah tinggi yang tidak cukup memenuhi definisi hipertensi,” kata pemimpin penelitian, Christopher Murray.

Tekanan darah terdiri dari dua angka. Tekanan darah atas, yang disebut tekanan sistolik, mengukur tekanan dalam arteri saat darah dipompa dari jantung. Dan Tekanan darah bawah atau tekanan diastolik, mengukur tekanan antara detak jantung. Tekanan darah dinyatakan dalam ukuran milimeter merkuri (mm Hg).

Penulis penelitian mengatakan, bahwa tekanan darah sistolik yang dianggap sebagai kisaran normal menurut American Heart Association, yaitu kurang dari 120/80 mm Hg, tetap dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Dalam studi tersebut, tekanan darah sistolik 110-115 mm Hg dianggap tinggi, sementara 140 mm Hg ke atas dianggap sudah dapat disebut sebagai tekanan darah tinggi.

Menurut rekan peneliti, Dr. Gregory Roth, para peneliti memilih menganggap tekanan darah 110-115 mm Hg sebagai yang tinggi, karena ini adalah titik dimana risiko tekanan darah tinggi dimulai.

“Definisi hipertensi adalah tekanan sistolik lebih besar dari 140 mm Hg. Namun, ada bukti yang sangat kuat bahwa risiko memiliki tekanan darah tinggi dimulai pada angka 115 mm Hg,” ujar Roth, asisten profesor kardiologi di University of Washington.

Menurut Roth, dengan mengontrol tekanan darah, termasuk praktik gaya hidup sehat dan menjaga berat badan normal merupakan cara menghindari kematian dan cacat akibat tekanan darah tinggi.

Sementara itu Murray mengatakan, bahwa penyebab atas naiknya kasus tekanan darah tinggi adalah pola makan yang tidak sehat dan obesitas. Selain itu, di negara-negara berkembang, banyak masyarakat perkotaannya memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah. Fakta umur juga memainkan peran. Risiko tekanan darah tinggi sering meningkat sejalan dengan usia.

Jumlah orang dengan tekanan sistolik minimal 110-115 mm Hg cenderung terus meningkat, penulis menambahkan. Untuk penelitian ini, para peneliti meninjau studi antara tahun 1980-2015 yang melibatkan 8,7 juta orang dari 154 negara.

Sebagian kematian terkait tekanan darah tinggi disebabkan oleh penyakit jantung (lima juta), pendarahan di otak (dua juta), dan stroke (1,5 juta). Hasil penelitian ini sudah diterbitkan pada 10 Januari 2017 dalam Journal of American Medical Association yang didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation.