Imam Budi Hartono, (IBH)

DepokNews–Pengaruh pemikiran Snouck Hurgronje arsitek politik penjajah yang memberikan doktrin agar umat Islam tidak berpolitik masih terasa hingga saat ini, umat Islam jangan bicara politik, pisahkan umat Islam dari politik, haramkan umat Islam berpolitik. Pada hal Islam mengajarkan bagaimana memilih pemimpin, islam mengajarkan bagaimana mengelola negara, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad, Rosululloh SAW, dan dari dalil Alquran juga sudah jelas.

Salah satu bukti pengaruh ajaran Snouck Hurgronje masih terasa, minimnya perolehan suara partai politik berbasis Islam pada Pemilu yang lalu, dimana total suara parpol berbasis Islam tidak lebih dari 32 persen. Perolehan suara Parpol berbasis Islam pada Pemilu lalu lebih kurang : PKS 7 persen, PPP 6,5 persen, PKB 9 persen, PAN 7.5 persen dan PBB 1,5 persen, total 31,5 persen.

Hal tersebut disampaikan Imam Budi Hartono, Anggota DPRD Propinsi Jawa Barat, untuk mengingatkan umat Islam jangan sampai buta politik yang bisa berakibat buruk terhadap kehidupan bebangsa dan bernegara.

“Mari kita kembalikan kemurnian agama Islam, Islam yes,politik yes. Seorang penyair Jerman berpendapat buta terburuk adalah buta politik, orang banyak yang tidak sadar, harga sembako, harga obat semua tergantung keputusan politik. mereka bangga dengan sikap politiknya, aku benci politik. Sungguh tidak paham mereka, karena kebutaan politik menyebabkan keterbelakangan negara, banyaknya anak terlantar, merebaknya kemaksiatan dan yang paling parah merajalelanya korupsi, penguasaan negara asing yang menguras kekayaan negeri” kata Imam Budi Hartono.

Imam Budi Hartono mengajak Umat Islam untuk berbondong-bondong menggunkaan hak suaranya pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat pada 27 Juni 2018 mendatang.

“Hayo ramai-ramai kita datang ke TPS pada 27 Juni, nasib Jawa Barat ditangan kita, satu datang ke TPS, dua ke bilik suara, tiga coblos, empat lipat dan lima tawakal kepada Allah SWT, pemilihan kita boleh beda namun ukhuwah tetap harus terjaga,” pungkas Imam Budi Hartono.