DepokNews–Ikatan Wanita Keluarga (IWK) Vokasi UI bersama Klinik Digital dan HM Vokasi Humas menyelenggarakan Kampung Digital di Vokasi melalui Diskusi Publik dengan tema Prasangka Buruk dan hoax adalah Musuh Bersama.

https://web.facebook.com/Grosir-Kaca-Mata-1734066946827730/

Kegiatan ini menghadirkan pembicara Seno Gumira Ajidarma (Rektor IKJ), John De Rantau (Sutradara), Devie Rahmawati (Founder Klinik Digital Vokasi UI), David John S, Toto S dan Ricky Malau (Aktor) serta Katherine (Aktris). Kegiatan dihadiri sekitar 150 peserta dari Jabodetabek.

Ketua HM Vokasi Humas UI, Danurifqi, pada Jumat (12/7) mengatakan
sepanjang tahun 2019 ini pihaknya mendirikan Kampung Digital yang bertujuan membantu masyarakat memiliki banyak ketrampilan, memahaminya hingga mampu menghasilkan hal positif.

Sayangnya, saat ini materi digital justru sering menjadi alat penyebaran informasi yang tidak benar dan merugikan banyak pihak.

“Berita-berita positif yang menimbulkan prasangka baik tentu saja perlu dipelihara, sebaliknya berita negatif yang menghasilkan prasangka buruk, harus buru-buru dihapus,” katanya.

Ketua IWK Vokasi UI, Riana Herlina Hadiwardoyo menambahkan, pihaknya sengaja mengajak kaum ibu agar mereka lebih mawas diri terhadap pesan-pesan yang selalu masuk ke dalam media sosial.

“Kami dari IWK sengaja menghadirkan ibu-ibu, agar kaum perempuan semakin mawas diri terhadap pesan-pesan yang selalu masuk ke dalam media sosial kami. Kami berharap para pembicara dapat menggugah kaum ibu agar mampu menahan diri dan menyeleksi setiap berita sebelum membagikannya kepada orang lain,” katanya.

Ditempat yang sama, Founder Klinik Digital, Devie Rahmawati mengatakan, studi modern telah menemukan bahwa memang ada beberapa faktor yang menyebabkan manusia dengan mudah berprasangka, baik yang positif maupun negatif.

Prasangka merupakan salah satu basic instinct (faktor biologis) yang dihadirkan Tuhan, untuk membantu manusia dalam mempersiapkan diri mengantisipasi tantangan yang akan dihadapi.

“Prasangka merupakan embrio dari lahirnya stigma yang berujung pada pembunuhan karakter melalui penyebaran berita bohong,” katanya.

Dia menambahkan, secara psikologis, prasangka membantu manusia mengatasi kecemasan dan keraguan dalam berbagai situasi.

Sebagai ilustrasi, ketika berada di lingkungan baru, prasangka terhadap gender, ras, agama dan sebagainya, membantu individu untuk bersikap.

Ketika bertemu dengan laki-laki misalnya, seorang individu pasti sudah memiliki prasangka tertentu, yang akan membantu bagaimana individu untuk berkomunikasi.

Kehadiran Seno Gumira dan para selebritis ialah terkait dengan karya kreatif mereka yaitu cerpen dan film, yang mengangkat isu prasangka dalam kemasan program yang ringan namun cerdas.

Pesan-pesan bahwa imajinasi liar yang merasuki pikiran yang berbuah menjadi prasangka negatif merupakan hal yang perlu dikelola dengan baik.

“Untuk itu diperlukan Resep 3K untuk mengatasi prasangka yaitu Keterbukaan pikiran – Komunikasi Sosial – Konfrontasi”katanya.

Studi ilmiah semenjak era 50-an menemukan bahwa individu dengan karakter yang tertutup dan linier, memiliki peluang untuk terjebak dalam prasangka.

Ditambah keengganan melakukan komunikasi, membuat seorang individu tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukan konfirmasi, apakah prasangkanya tersebut benar, atau ternyata meleset.

Komunikasi menjadi cara yang efektif untuk membongkar prasangka.

Sedangkan temuan 10 tahun terakhir, menunjukkan kemampuan melakukan konfrontasi terhadap sebuah prasangka yang melahirkan label-label, menjadi senjata ampuh membuat orang yang menyebarkan hoaks tentang sesuatu menjadi berpikir ulang dan membuat orang lain, menjadi memiliki tambahan informasi baru tentang seseorang atau sesuatu, yang pada akhirnya mampu merubah prasangka.