Foto: Wali Kota Depok Muhammad Idris dan Panglima Divif-1 Kostrad Mayjen TNI Ainurrahman nonton bareng (nobar) film G30S/PKI bersama warga Depok di lapangan Markas Brigif PR-17, Divif-1 Kostrad, Depok.

Idris: Tidak Boleh Ada Ruang Paham Komunisme di Negara Ini

Posted on
DepokNews — Wali Kota Depok, Muhammad Idris mengatakan isu komunisme dan agama menjadi isu sensitif akhir-akhir ini. PKI dan paham komunisme tidak boleh diberi ruang sedikit pun di negara ini. Acara nobar film G30S/PKI merupakan salah satu cara agar mata rantai masa kelam sejarah Indonesia tidak terputus.

“Agar anak-anak kita paham dan jangan sampai kita masuk ke lubang yang sama. Kita belajar dari sejarah dan jangan sampai kita terperosok dalam lubang yang sama,” ujar Idris.

Oleh karena itu, Divif-1 Kostrad menggelar nonton bareng (nobar) film G30S/PKI bersama warga Depok di lapangan Markas Brigif PR-17, Divif-1 Kostrad, Depok. Wali Kota Depok Muhammad Idris dan Panglima Divif-1 Kostrad Mayjen TNI Ainurrahman turut hadir dalam acara tersebut.

Pantauan di Lapangan Markas Brigif PR-17 Divif-1 Kostrad, Cijantung, Depok, Kamis (28/9/2017), warga dan prajurit Kostrad mulai berkumpul sekitar pukul 19.40 WIB. Selain itu, hadir putra alm Letjen TNI ANM MT Haryono, Rianto.

Penyelenggara acara menyediakan tempat duduk berupa bangku dan lesehan untuk warga yang hendak menonton. Warga tampak menikmati film tersebut sambil duduk lesehan dan duduk di atas bangku yang disediakan.

Pemutaran film kemudian dimulai pukul 20.00 WIB dengan diawali menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’. Mayjen TNI Ainurrahman kemudian membacakan sambutan Panglima Kostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi.

“Saya akan bacakan amanat Panglima Kostrad. Selaku Panglima Kostrad saya menyambut baik nonton bareng ini untuk mengingatkan kembali dan menyebarluaskan fakta-fakta sejarah untuk seluruh anak bangsa,” kata Ainurrahman.

Menurutnya, pemutaran Film G30S/PKI bukan bermaksud menyudutkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Pemutaran ini bertujuan memberi pelajaran kepada generasi muda Indonesia.

“Memberikan pelajaran kepada anak bangsa agar kejadian yang pahit tidak terulang lagi. Saya imbau jangan sampai generasi muda terprovokasi, apalagi terkotak-kotak, yang nanti mengakibatkan terjadinya masa kelam G30S/PKI. Saya ingatkan jangan sampai melupakan sejarah,” imbuhnya.