Oleh : Rizka Tri Handayani

Sebagai manusia yang memiliki Agama, setiap orang harus melakukan ibadah sesuai ajaran agamanya masing-masing. Begitupun dengan umat Islam, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran,

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada ku” (QS. Az-Zariyat [51] : 56)

Seluruh ibadah yang kita lakukan baik ibadah mahdah maupun ghairu mahdah, baik yang wajib maupun sunah seperti puasa, zakat, shalat, infaq, sadaqah, dan beramal shaleh. Sesungguhnya apa yang kita lakukan itu adalah tempat bersemayamnya iman kita. Bila kita beriman tanpa mau menjalankan ibadah, berada dimana iman kita?

Seseorang tidak beriman jika tidak mempunyai arah dan tujuan hidup atau sebaliknya seseorang melaksanakan amalan ibadah sepanjang hayatnya, tetapai tanpa iman sama artinya bagaikan rumah tak bertuan. Tidak ada yang merawat, tidak ada yang menjaga dan akhirnya hancur sia-sia seperti amal perbuatan orang-orang kafir. Orang-orang kafir karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mereka mendapatkan balasan dari Allah di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan balasan atas amalan mereka itu.
Ibadah tanpa iman maka seluruh ibadah yang kita lakukan hilang. Sesuai dengan firman Allah SWT,

” Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan di dapatinya ketetapan Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”
(QS. An-Nur [24]:39)

Begitulah gambaran sesungguhnya keterkaitan ibadah dengan iman. Seperti pemilik rumah dengan rumahnya, amal shaleh itu adalah perilaku tuan rumah dalam merawat, mengembangkan rumah beserta perkarangannya agar rapih dan terlihat indah.

Iman itu sangat abstrak tidak terlihat, kecuali terbaca lewat pengalamannya yang salah satunya melalui pengalaman perintah untuk menjalankan penyembahan kepada Allah seperti melaksanakan shalat lima waktu.

Tidak cukup hanya beriman jika ia enggan melaksanakan ibadah. Orang dikatakan belum beriman kalau tidak mau melaksanakan penghambaan diri kepada Allah yang berupa ibadah. Ibadah tidak hanya proses pendidikan moral pribadi saja tetapi juga pendidikan moral bersama atau jama’ah.

Ibadah merupakan pembinaan iman, agar tetap subur didalam hati kita. Iman itu bertambah dan berkurang. Labilnya iman menunjukan betapa sering rapuhnya kita menghadapi permasalahan hidup. Ibadah juga berarti sebagai penguat agar iman kita tidak goyang dengan cobaan yang datang menghadang.

Dengan melakukan ibadah kita dapat melahirkan kekuatan mental, optimis memandang hidup, kekuatan ruhani sekaligus memberikan jalan keluar dari kebekuan persoalan. Melakukan ibadah dengan keimanan akhirnya akan melahirkan keinsyafan dalam amal saleh sesuai apa yang diridhai Allah SWT.

Referensi : Buku Khutbah Jumat Sepanjang Masa