Hitungan Detik, Mama

Posted on 3 views

Oleh Tutut Hasti Ningrum

Depoknews.id – Aku diam mematung tak bergeming, merasakan pahit ucapannya. Dalam hitungan detik, aku merasa jengkel dan kesal kepadanya. Tapi mama harus tahu, bahwa aku tetap mencintainya.
Hubungan antara anak dan orang tua tidak selamanya berjalan baik dan sesuai dengan apa yang diinginkan. Pertengkaran dan perdebatan bisa saja terjadi dimana saja, kapan saja dan siapa pun dapat mengalaminya.

Sebagai anak sulung, sudah menjadi hal biasa untuk mengalah dan disalahkan. Hampir 20 tahun aku hidup bersamanya. Sifat baik dan buruknya sudah menjadi makanan sehari-hari untukku.
Aku biasa menjadi kebanggaan dan berusaha menjadi yang terbaik di depannya. Sering ditinggal papa keluar kota membuat aku dekat dan selalu menceritakan keluh kesahku padanya. Begitu juga dengannya terhadap diriku.

Sebagai anak perempuan aku tidak dididik untuk menjadi lemah. Karena itu, aku menjadi anak yang keras dan selalu ingin menjadi yang pertama. Di saat aku dan ia bertengkar, aku tidak tahan mendengar ucapan-ucapannya yang membuat telingaku panas.

Yang aku rasa setiap aku berselisih dengannya adalah kenapa aku harus dimarahi seperti ini? Apakah anak-anak yang di luar sana juga merasakan apa yang aku rasakan? Apakah mama merasa puas bila sudah memarahiku? Atau aku yang berlebihan terlalu membawa perasaan ini terlalu jauh dan dalam.
Masalah yang timbul tidak dapat diprediksi, entah masalah besar atau kecil. Penyebab yang sering terjadi adalah komunikasi yang kurang baik. Nada bicaraku bisa dikatakan seperti orang keras. Karena hal ini, masalah yang sama sering terulang. Mungkin ia menganggap bahwa aku sedang membentaknya dan berkata kasar. Padahal aku sama sekali tidak mempunyai niat seperti itu.

Saat tidak ada yang mau mengalah perang dingin pun terjadi. Aku tidak bicara dan ia pun tak acuh. Pembicaraan hanya sebatas hal yang mendesak dan penting saja. Aku sebenarnya mencoba membuka percakapan. Tetapi saat melihat ia diam dengan ekspresi muka datar aku menjadi segan.

Sempat timbul pikiran untuk pergi dari rumah. Rasanya ingin menjauh dari rumah dan tidak ingin menampakkan diri di hadapannya. Tetapi hati kecilku berbicara bahwa hal seperti ini hanya akan menimbulkan masalah yang lebih besar. Seperti peribahasa Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, bukannya masalah selesai malah mendapatkan berlipat-lipat masalah.

Walau berselisih, aku tetap melakukan kewajibanku sebagai anak. Aku tidak pernah lari dari masalah. Dan ia pun lama-lama membaik dengan sendirinya. Karena aku tahu, kalau dia juga tidak tega dengan diriku dan selalu menyesali perbuatannya setelah itu.

Mungkin saat ini aku sedang berperan sebagai anak dan ia sebagai ibu. Kedepannya aku akan merasakan apa yangia rasakan. Oleh karena itu, aku selalu berupaya menjadi lebih baik dan mengubah perbuatan burukku yang sebelumnya.

Kebiasaan Unik

Aku memiliki kebiasaan unik sebelum tidur yaitu datang ke kamarnya hanya sekedar untuk melihat apakah dia sudah tidur atau belum. Saat dalam keadaan tidur, raut wajahnya selalu menampakkan kelelahan dan tidak terlihat seperti saat ia sedang mengomeliku seperti kebakaran jenggot. Karena hal itu, aku suka melihat ia ketika sedang tidur. Mungkin tanpa ia sadari aku juga suka memeluknya walau hanya sebentar.

Dan ternyata, hal yang sama dilakukan olehnya. Ia datang ke kamarku, entah untuk meminta maaf dengan berbisik atau sengaja membangunkanku, membetulkan selimut dan menaikkan suhu AC di kamarku. Dan hal tersebut pasti dilakukan setelah aku dan ia berselisih paham.

Sejak saat itu aku mengerti bahwa ia marah demi kebaikanku. Walau terkadang ia berlebihan aku memakluminya, karena itu bukti nyata kasih sayang seorang mama.

Aku bersyukur bisa terlahir menjadi anaknya. Terima kasih atas semua yang telah ia beri selama ini, aku tidak akan melupakannya. Omelan dan cacian yang ia utarakan selalu menjadi cambuk untuk diriku. Belajar dan berusaha menjadi yang lebih baik seperti yang diinginkannya.

Dalam hitungan detik aku marah dan dalam hitungan detik juga aku merasa bersalah. Karena hati manusia sangat mudah berubah-ubah, aku dan ia pun juga manusia. Walau dalam keadaan marah, aku tetap menghormati keputusannya dan selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Dan ia harus tahu bahwa aku tetap mencintanya.