Hari Ini Debat Cagub DKI jakarta, Ini Prediksi Pengamat Politik

Posted on 4 views

DepokNews- Hari ini ajang para kandidat gubernur DKI jakarta, akan unjuk kebolehannya dalam memaparkan gagasan besar membangun Jakarta lima tahun ke depan. Ini adalah debat pertama dari rangkaian tiga kali debat yang diinisiasi oleh KPUD Jakarta. Publik menunggu ‘panggung’ debat besok akan berlangsung seru, saling serang program, dan bahkan saling menjatuhkan.

“Inilah yang akan ditunggu publik sebenarnya, bukan semata retorika politik tanpa anti,” kata pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, Jumat (13/1/2017).

Namun, layaknya debat pertama, debat calon gubernur besok malam akan berlangsung datar. Para kontestan akan berhati-hati dan baru sebatas saling menjajaki kekuatan dan kelemahan lawan. Bahkan diperkirakan, pemaparan visi misinya pun masih landai dan normatif saja. Dia memperkirakan debat yang ‘sesungguhnya’ akan terjadi pada debat kedua dan ketiga. Di dua debat sisa ini, para kandidat akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya soal program membangun Jakarta.

“Kemungkinan besar akan saling menjatuhkan antar pasangan calon, tendensius, dan saling menegasi,” katanya.

Meski begitu, debat besok malam tetap dinanti publik Jakarta sebagai ajang beradu gagasan. Apalagi selama ini saling serang antar pendukung calon di media sosial cukup beras. Tak jarang pula, masing-masing kandidat saling sindir soal program membangun Jakarta.

Jika dilihat petanya, pasangan Anies-Sandi akan memenangi debat. Anies dikenal sebagai figur yang mampu menyampaikan pesan-pesan politiknya dengan sederhana, runut, dan sistematis. Tak ada yang meragukan bahwa Anies begitu jago dalam mengolah bahasa dan membungkusnya dengan gagasan besar yang enak dicerna. Salah satu kelemahan Anies selama ini adalah fakta dan akurasi data yang harus diperbaiki.

“Pengalaman debat di salah satu stasiun televisi swasta memperlihatkan betapa Anis agak kesulitan menyodorkan data-data dari apa yang disampaikan seperti soal data kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan seterusnya,” ungkapnya.

Pemenang kedua adalah pasangan Ahok-Djarot. Sebagai incumbent, dua pasangan ini tak akan menemukan kesulitan berarti menyampaikan visi misinya. Yang paling mungkin dikapitalisasi oleh pasangan ini adalah capaian-capaian prestisius selama memimpin jakatta seperti pembangunan infrasttuktur, dan lainnya.

“Sepertinya, yang akan banyak mengeksplorasi visi misi pasangan ini adalah Djarot, bukan Ahok,” prediksinya.

Pengalaman debat di stasiun TV swasta memperlihatkan bahwa Djarotlah yang lebih dominan memaparkan program-program untuk Jakarta ke depan. Ahok terlihat cukup kaku dan tidak lepas saat bicara. Mungkin karena takut keseleo lidah lagi maupun karena beban moral sebagai tersangka kasus penista agama. Sebab itulah, Djarot akan menjadi tumpuan dalam debat ini. Di luar itu, salah satu titik lemah pasangan ini adalah kebijakannya yang kerap tak manusiawi, anti orang miskin, dan hanya berpihak pada cukong.

“Kelemahan inilah yang akan terus diserang pasangan lainnya,” jelasnya.

Urutan terakhir ditempati oleh pasangan Agus-mpok Silvi. Sudah menjadi rahasia umum jika Agus dikenal sebagai sosok yang menghindari debat terbuka dengan pasangan lain. Bukan hanya karna ‘pendatang baru’ di kancah politik, latar belakang Agus yg militer juga membuat dirinya dianggap tak memiliki tradisi debat yang memadai.

“Sebab itu, Mpok Silvi diharapkan mampu mengcover kelemahan Agus dalam beretorika,” ucapnya.

Hal lain yang disoroti dari pasangan ini adalah programnya yang ‘serba logistik’ seperti uang Rp 1 milyar untuk RT/RW di Jakarta. Program ini dianggap duplikasi program SBY dengan memberikan langsung tunai kepada masyarakat yang dalam banyak hal salah sasaran karena tak ada barometer valid untuk mengukur kemiskinan seseorang.

Dia menuturkan bahwa debat akan berpengaruh mengalihkan pilihan satu ke pilihan lain jawabannya. Namun pengaruh itu tidak cukup signifikan karena pemilih Jakarta sudah begitu terbelah sejak lama. Jika diprosentasikan, pemilih Jakarta yang sudah menentukan pilihan terhadap kandidat dikisaran angka 70 persen. Sisanya adalah swing voters yang cukup dinamis dalam menentukan pilihannya. Swing voter inilah yang sebenarnya disasar oleh kandidat melalui debat kandidat itu.

“Siapa yang lihai memainkan emosi pemilih ngambang ini berpotensi masuk putaran kedua. Sebab selisih antar kandidat cukup tipis,” pungkasnya.(mia/ruli)