Mayjen Doni Monardo usai acara festival pengabdian masyarakat di UI (Foto: Mia Nala Dini-DepokNews)

Hadir di UI Ini Ini Paparan Mayjen Doni Soal Pulau Maluku

Posted on 355 views
DepokNews- Menjadi pembicara dalam Festival Pengabdian Masyarakat di Universitas Indonesia  Panglima Kodim(Pangdam) XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo, memaparkan sejumlah terobosan untuk menekan konflik berkepanjangan di Pulau Maluku dengan langkah persuasi yang bermanfaat bagi lingkungan maupun ekonomi warga.
Mengusung tema ‘Resolusi Konflik Melalui Pendekatan Terotorial Program Emas Biru dan Emas Hijau’, Mayjen TNI Doni Monardo menyatakan pentingnya pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan, pertanian, perkebuan, peternakan serta kehutanan, sebagai pemberdayaan masyarakat di Provinsi Maluku.
Pangdam mengatakan bahwa, serbuan teritorial TNI melalui program emas biru dan emas hijau ini sebagai alat untuk menyelesaikan masalah atau konflik di maluku dan Maluku Utara yang merupakan implementasi dari beberapa Nawacita Presiden Jokowi, salah satunya membangun Indonesia dari pinggiran dengan meperkuat daerah-daerah dan desadalam kerangka negara kesatuan.
“Selain itu, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik,” ungkap Doni, Selasa (8/11).
Pria yang pada 14 November mendatang akan menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi ini menambahkan, konflik komunal di Maluku dan Maluku Utara telah mengakibatkan 9.000 orang kehilangan nyawa, 700 ribu warga mengungsi dan menimbulkan kerusakan materi akibat puluhan ribu rumah warga dan rumah ibadah rusak.
Atas dasar semangat dalam menyelesaikan konflik di Maluku, masyarakat berperan aktif dalam menolak paham radikalisme dan mendukung program Kodam XVI/Pattimura yaitu Emas Biru dan Emas Hijau.
Program ini sangat cocok untuk diterapkan karena alam di Maluku sangat mendukung. Sebut saja potensi ikan di Maluku dan Maluku Utara bisa menghasilkan 4,6 juta ton ikan per tahun atau menyumbang 37% potensi ikan nasional.
“Belum lagi kekayaan alam lain, termasuk tumbuhan-tumbuhan langka yang hidupnya hanya di tanah Maluku,” kata mantan Danjen Kopassus ini.
Emas Biru sendiri merupakan program budidaya perikanan. Sedangkan Emas Hijau adalah program untuk mengembalikan kejayaan rempah rempah Maluku dan tanaman ekonomis serta langka.
Kedua program tersebut diprakarsai oleh Mayjen Doni guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui potensi alam. Sehingga langkah ini merupakan salah satu persuasi yang dilakukan untuk merangkul pihak-pihak yang pernah mengalami gesekan. Seperti mantan separatis, kaum radikal, dan lain sebagainya.
“Tujuannya adalah untuk menciptakan kedamaian di Maluku dan Maluku Utara,” katanya.
Mayjen Doni mengklaim, sejak program tersebut digulirkan ke masyarakat Maluku, mampu menekan angka kriminalitas sebesar 34 persen, kunjungan wisatawan meningkat, pendapatan nelayan bergairah dan terjadi peningkatan daya beli masyarakat.
“Dan yang pasti mampu menekan konflik. Hal itu dibuktikan dengan tingginya tingkat penyerahan senjata api dari warga sipil atau mantan kelompok separatis kepada TNI yakni sebanyak 651 senjata api rakitan dan 52 senjata api pabrikan sepanjang  2017,” tukasnya.
Dalam kesempatan tersebut, tampak hadir mantan Sekjen RMS yang kini telah menyatakan kembali ke pangkuan NKRI, Moses Tuanakotta. Ia pun sangat mengapresiasi langkah Mayjen Doni dengan gerakan program Emas Biru dan Emas Hijau.
“Ini merupakan contoh nyata dari kepedulian TNI untuk membantu masyarakat Maluku lepas dari problem sosial ekonomi pasca kerusuhan,” tandasnya.(mia)