DepokNews–Gusdurian Kota Depok terus berupaya mendalami dan mengembangkan pemikiran almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Lebih jauh lagi, saat ini Gusdurian fokus pada pengembangan sosial preneur.

“Dulu kita lihat bagaimana Gus Dur dengan vespa dan menjual es lilin. Selama ini masih kurang diangkat ke publik, masyarakat lebih mengenal pemikiran dan kebijakannya,”ujar Koordinator Gusdurian Depok Mansyur Al-Farisi. Kumala Galeri, Jl. Muchtar, Sawangan.

Menurutnya, dengan mengembangkan jiwa kewirausahaan pada pemuda akan melahirkan kemandirian. Untuk itu, dirinya mengakui dalam acara tersebut juga bersamaan dengan launching seni galery, kegiatan sosial, kewirausahaan yang melibatkan Tokoh Masyarakat, TNI, komunitas dan rangkaian bedah buku soal penguatan toleransi.

“Kita ingin memberikan manfaat bagi masyarakat Kota Depok, dengan tetap menjaga kerukunan dan persatuan di tengah perbedaan. Dengan berkumpul bersama komunitas menyelami pemikiran Gus Dur, sosial, berwirausaha, melalui karya seni lukisan dan lainnya,”jelasnya.

Intoleransi Muncul Di Tahun Politik
Dalam kesempatan tersebut juga digelar Bedah Buku Intoleransi dengan nara sumber Alamsjah M. Djafar sebagai penulis buku. Dihadapan peserta yang kebanyakan mahasiswa, IPNU, IPPNU, IKMD, Pemuda Muhammadiyah, diungkapkan beberapa penyebab Intoleransi. “Tahun belakangan ini, Intoleransi meningkat karena ada politik dan moment pemilihan kepala daerah. Itu ada kaitannya, yang umumnya berkaitan dengan politik,”ujar Alamsjah dari Wahid Foundation ini.

Menurutnya, berdasarkan analisanya orang Indonesia sudah biasa dengan perbedaan. Hanya saja, lanjutnya, adanya penggunaan identitas alat untuk kepentingan. “Warga kita biasa dengan perbedaan sejak dulu. Namun, dengan men jadikan identitas untuk tujuan politik maka terjadilah intoleransi. Cara untuk mengatasinya salah satunya dengan adanya dialog atau komunikasi. Selain itu, menyadari akan penyakitnya,”paparnya.