Oleh: Ir. Imam Budi Hartono, Wakil Wali Kota Depok

إِنَّ ‌الشَّمْسَ ‌وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah gerhana terjadi karena kematian atau kelahiran seorang istimewa. Maka jika kalian melihat gerhana, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah (salat Kusuf/Khusuf), dan bersedekahlah.” [HR. Al-Bukhari no. 1044][11]

Kita manfaatkan momen itu untuk menegaskan tauhid, memberantas takhayul dan khurafat serta menguatkan kedudukan akal dan sains dalam kehidupan juga membangkitkan keimanan dan kepedulian pada alam semesta serta kepedulian pada sesama.

Allah berfirman

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ

Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. [QS. Fushshilat: 37]

Salat di waktu gerhana sebetulnya sama seperti salat-salat lain yang dikerjakan pada waktu tertentu. Petunjuk ibadat bentuk caranya dan waktunya ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya, kita tiada diperkenankan menambah atau menguranginya.

Peristiwa Salat Gerhana menghindari pendapat yg harus kita jelaskan dalam Islam.

  1. Ekstrim kiri: mendewakan akal sembari mengabaikan wahyu, abai, tak peduli, serta tak tersentuh religiusitasnya saat terjadi gerhana. Kalau pun peduli, hanya dari aspek keduniaan, semisal merekam dengan smartphone atau menontoninya dengan penuh kelalaian dari Sang Pencipta, sebagaimana dilakukan banyak orang zaman ini.
  2. Ekstrim kanan tak maksimalkan akal serta tidak mengikuti wahyu, meyakini, dan mengamalkan takhayul, khurafat, dan mitos yang tak memiliki landasan ‘aqli (riset) apalagi naqli (wahyu), sebagaimana dilakoni banyak peradaban kuno.

Islam memaksimalkan akal (‘aqli), menjunjung tinggi wahyu (naqli), selalu ingat Sang Pencipta di beragam situasi, disertai kepedulian kepada alam sekitar dan sesama manusia.

Hari ini, pekerjaan rumah setiap muslim dalam memberantas takhayul dan khurafat belum usai. Masih banyak keyakinan di luar sana yang tak memiliki dasar naqli maupun ‘aqli.

Misalnya, kepercayaan pada horoskop zodiak, seperti keyakinan sial pada angka dan waktu tertentu, seperti meyakini tsunami dan bencana akan datang kalau tidak memberikan sesajen, seperti masih datang ke dukun.

Hal itu sama seperti meyakini kalau ekonomi bangsa takkan berkembang tanpa riba, seperti meyakini jodoh akan susah kalau seorang wanita menutup aurat dan menjaga pergaulan dari laki-laki, seperti keyakinan bahwa rezeki haram saja susah apalagi yang halal.

Juga seperti adanya klaim yang menyebut bahwa kalau hanya meyakini Islam saja agama yang benar sementara agama lain salah maka kita otomatis tidak toleran.

Lebih dari itu, ada juga seperti keyakinan bahwa kita akan terbelakang kalau tidak mengikuti gaya hidup Barat dalam semua hal meski abaikan norma Islam, semisal melakukan sekularisasi (pemisahan agama dari sisi-sisi kehidupan dunia).