DepokNews-Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak.
“Anak stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya,”terang Ketua Pengurus Cabang Fatayat NU Kota Depok Dr. Hj. Yuminah R. seusai kegiatan Penyuluhan kesehatan bekerjasama dengan BKKBN. Dengan mengusung tema “Optimalisasi Program Bangga Kencana Dalam Upaya Pencegahan Anak Stunting di Masa Pandemi”. Jl. H. Amsir Kupu, Rangkapan Jaya, Pancoran Mas.

Menurutnya, permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun. Untuk itu, PC Fatayat NU Depok sangat berperan dalam pencegahan stunting untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Yaitu dengan sedini mungkin menerapkan pola gizi yang baik dalam pengasuhan masa pertama dan perkembangan anak. “Pengurus Fatayat NU Depok yang sebagian besar dalam usia produktif ikut berperan aktif dalam mencegah anak stunting dan menciptakan generasi gemilang,”paparnya.

Ahli Gizi dari UPTD Puskesmas Sawangan Inda Rozalina menuturkan Stunting telah menjadi masalah yang cukup serius dalam proses tumbuh kembang anak. Stunting dapat dilihat dari HPK seorang anak, yaitu Seribu hari Pertama Kelahiran. Di beberapa kota di Indonesia, khususnya Depok saat ini sedang digalakkan kembali sosialisasi Stunting. “Kita sampaikan kepada para calon ibu , guru paud atau calon pengantin agar didapat hasil yang lebih baik untuk generasi selanjutnya. Untuk kecamatan yang angka stunting masih tinggi yaitu kecamatan sawangan. Khususnya di kelurahan Bedahan dan Pasir Putih,”paparnya.

Pada tahun 2019 itu untuk kelurahan pengasinan angka stuntingnya 12,46%.Sedangkan untuk kecamatan sawangan yang menjadi locus stunting tahun 2020 adalah kelurahan, Bedahan, dan Pasir Putih. Untuk angka stunting terendah kec.sukmajaya 5,1 persen.