Sapto Waluyo (Center for Indonesian Reform)

Oleh: Sapto Waluyo (Center for Indonesian Reform)

DepokNews–Tak ada manusia sempurna, tanpa kekurangan dan kelemahan setitikpun. Semua orang selama masih berstatus insan (tempat salah dan lupa) pasti ada kekurangan. Bahkan, seorang Nabi dan Rasul Tuhan sekalipun terbukti punya kelemahan tertentu. Namun hebatnya, kelemahan seorang Nabi -sosok terbaik di zamannya- dicatat dalam Kitab Suci nan abadi. Pelajaran bagi semua generasi, tanpa mengurangi kewibawaannya.

Kelemahan manusiawi bukan suatu alasan untuk menghindari persyaratan minimal (necessary) yang harus dipenuhi untuk menjalankan tugas publik seperti menyampaikan firman Tuhan. Karena itu, seorang Nabi harus memenuhi syarat: sidiq (jujur),amanah (terpercaya), fathanah (cerdas), dan tabligh(komunikatif/transparan). Itu syarat minimal, tak boleh dikurangi atau ditawar-tawar sedikitpun.

Tidak terbayangkan oleh kita bahwa seorang pekabar ayat suci, misalnya, adalah sosok pendusta, maka tak satupun manusia akan beriman kepada Tuhan. Siapa bisa menerima pemberi kabar baik dan ancaman di hari akhirat, apabila ia tercatat pernah berkhianat kepada manusia lain? Siapa pula umat yang bersedia taat pada figur yang secara kasat mata pandir, dalam arti tidak memahami segala yang diucapkannya sendiri atau tidak bertanggung-jawab atas segala tindakan bebasnya? Akan menjadi bencana besar bagi kemanusiaan dan otoritas keilahiyahan, seandainya seorang manusia yang dipercaya menerima rahasia Tuhan ternyata menyembunyikan sebagian dari rahasia itu demi kepentingan diri dan kelompoknya.

Segala jenis kekurangan yang membatalkan syarat minimal sebagai Nabi tersebut tidak pernah kita temukan pada sosok Nabi dan Rasul yang dipanuti segenap pengikut agama di dunia. Kitab Suci mendedahkannya, tak ada yang luput. Segala detailriwayat hidup para Nabi dan Rasul terang-benderang seperti matahari di siang hari tak berawan. Itulah pelajaran berharga bagi umat manusia dari millennium ke millennium hingga akhir zaman.

Setiap anak manusia –entah dia pemuda kampung Ur (Babilonia) yang suka berkelana atau pemuda suku Lewi yang melarikan diri dari istana Mesir kuna atau anak seorang perawan suci dari Nazareth atau bocah yatim-piatu dari suku Quraisy yang buta huruf—yang akan diangkat sebagai Nabi, semuanya menghadapi ujian berat. Ujian yang tak bisa dihindari atau dijalankan oleh pemain pengganti. Harus dihadapi dan dijalani sendiri, supaya umat manusia percaya bahwa sosok itu benar-benar berdarah-berdaging yang bisa terluka, namun berkarakter sekuat baja.

Semua proses seleksi diketahui oleh manusia dari generasi ke generasi, dan kita melembagakan proses itu sebagai standar untuk mencari kepemimpinan otentik, meskipun kadar penilaiannya disesuaikan dengan kebutuhan zaman dan lingkungan masing-masing. Sepeninggal Nabi terakhir, proses seleksi berlaku ‘Primus inter pares’, yang terbaik di antara manusia yang berkedudukan setara, tanpa mukjizat dan keajaiban inhuman. Kita tak berharap manusia sempurna, karena mustahil lahir ke dunia, cukup sosok yang bisa memimpin dan mengarahkan sumberdaya untuk menyelesaikan persoalan bersama.

Dalam konteks demokrasi modern, empat syarat minimal kepemimpinan itu dapat disederhanakan menjadi dua saja, yakni integritas dan kapabilitas. Kejujuran dan sikap amanah bisa digabung menjadi integritas, sedang kecerdasan dan kemampuan berkomunikasi dipadatkan menjadi kapabilitas. Dua syarat minimal itu menjadi ukuran bagi seluruh anggota masyarakat dalam menentukan pilihan.

Integritas diperlukan karena masyarakat yakinucapan seorang pemimpin, apalagi janji-janji publiknya, harus bisa dipegang dan sejalan dengan tindakan yang dilakukannya. Jika terjadi perbedaan antara ucapan dengan tindakannya, atau antara ucapan/tindakannya di masa lalu dengan masa kini, maka harus berani dipertanggung-jawabkan. Jangan melarikan diri atau mencari-cari alasan, apalagi diam membisu seribu bahasa, sebab masyarakat akan kecewa dan bisa marah.

Kapabilitas dihajatkan karena persoalan publik berbeda dengan persoalan individu, membutuhkan kekuatan dan otoritas untuk memecahkannya. Bila masyarakat bisa menyelesaikan persoalannya sendiri-sendiri, maka pemimpin tak diperlukan dan demokrasi jadi kadaluarsa. Masyarakat membayangkan ada figur yang memiliki kecerdasan lebih untuk menjawab pertanyaan tak terjawab atau memiliki kekuatan untuk menanggung beban tak terangkat.

Masyarakat maju dan bangsa besar akan menjaga standar integritas dan kapabilitas, tercantum dalam konstitusi tertulis atau melekat dalam jiwa/kesadaran setiap warga. Kompromi mungkin terjadi, bila stock kepemimpinan yang tersedia tidak memadai, namun masyarakat akan memberi catatan agar standar minimal terpenuhi dengan berbagai cara.

Harus diakui, bahwa demokrasi mengandung kelemahan. Persepsi publik terbentuk melalui citra media massa, karena jutaan orang tidak bisa berinteraksi langsung dan menguji face to faceatau berdialog head to head tentang kualitas kepemimpinan yang dikehendaki. Citra diri yang dipercaya suatu kelompok bisa diwariskan dan dikekalkan,sehingga berkembang menjadi mitos, lalu menolak peluang koreksi dan pendedahan obyektivitas dalam ruang publik. Tiap kelompok terjebak dalam echo chamber masing-masing.

Akibatnya, seseorang yang tak memiliki integritas (sebut saja: dis-integritas) dan tidak memiliki kapabilitas (in-kapabilitas) bisa tampil sebagai pemimpin formal karena kelompok mayoritas sederhana (alias pemenang pemilu sebagai simboldemokrasi) asyik merayakan mitos. Bila terpaksa harus memilih antara integritas atau kapabilitas, maka sebagian orang mungkin mendahulukan integritas, karena kapabilitas bisa ditutupi dengan kehadiran dan bantuan pihak lain. Tetapi, kita justru sering berkompromi dengan disintegritas karena terlalu terpukau dengan pidato yang berapi-api, sejak era Bung Karno selaku Proklamator Kemerdekaan RI. Tak ada yang meragukan integritas Bung Hatta dan kapabilitasnya –terutama dalam bidang ekonomi dan administrasi pemerintahan– namun perannya bergeser menjadi pinggiran hanya karena tidak pandai memobilisasi massa.

Sebaliknya, kita juga bertoleransi denganinkapabilitas sang pemimpin karena percaya integritasnya bisa dipegang sebagai new comer(pendatang baru) yang tidak terlibat penyimpangan di masa lalu. Kita menaruh harapan baru (new hope) di ujung kebosanan dan kekecewaan panjang. Tetapi, setiap aktor dan bintang baru pada akhirnya akan lawas pula. Setiap lakon/rekam jejak kekuasaan itu adalah ujian sesungguhnya: apakah masih layak diberi amanah/peran berikutnya? Jika tak ada kesempatan koreksi, maka demokrasi tidak bermakna, uang rakyat sia-sia dihamburkan untuk pesta di negeri dongeng.

Pelan tapi pasti, harapan itu bisa pupus karena inkapabilitas termasuk tidak sanggup mengendalikan kepentingan yang saling bertabrakan dan mengganggu integritasnya sendiri. Pada gilirannya, inkapabilitas bisa menimbulkan problem disintegritas. Dua syarat minimal itu memang harus dipenuhi agar tak terperangkap mitologi berkelanjutan.

Kini kita hidup di dunia lain dengan aksesori nan indah, para tokoh tampil dengan topeng dan baju kebesaran masing-masing. Sementara realitas yang dijalani warga lebih perih dan menyakitkan. Risiko yang dihadapi semua, bila mitos terbongkar akan sangat berbahaya, karena kemarahan rakyat tak bisa dibendung oleh siapapun. Demokrasi menyimpan bom bunuh diri massal. Warga berakal sehat akan menghindari kehancuran kolektif dengan memilih pemimpin berintegritas dan kapabilitas memadai. []

Email: sapto.waluyo@gmail.com

WA: 0817-960-7000

Twitter/Insta: @sapto_waluyo