DepokNews– Beberapa perwakilan Pengurus Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTM SI) Cabang Kotak Depok meminta kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar tidak melantik pengurus baru PTM hasil muscab yang dilaksanakan di gedung KONI. Kamis (5/12/2019) kemarin.

Selain meminta agar tidak melantik pengurus baru, para pengurus PTM juga mewacanakan untuk melakukan muscab ulang. Sebab muscab yang berlangsung Kemarin dinilai cacat prosedural dan terkesan dipaksakan untuk dilanjutkan padahal tidak memenuhi quarun.

“Sekali lagi kami meminta agar Pemprov Jabar tidak melantik hasil muscab kemarin. Karena kami menilai itu cacat prosedural dan tidak memenuhi ketentuan dari tatib dan ad/art PTM SI,”ujar salah pengurus PTM Lansia Rya Depok, Isa Wijaya kepada awak media. Jumat (5/12/2019).

Dijelaskan Isa salah satu yang membuat 18 pengurus keluar dari arena (walk out) muscab yaitu ketika pembahasan tatib yang mengatakan bahwa yang berhak memiliki hak suara hanyalah PTM yang terdaftar.

“Disinilah terjadi perdebatan karena menurut panitia hanya enam PTM se Kota Depok yang punya hak suara dan 18 PTM lainya tidak memiliki hak suara karena tidak terdaftar. Kami berdebat disini dan panitia tidak mau tahu akhirnya 18 PTM keluar dan juga 4 PTM yang terdaftar juga keluar,”jelasnya.

Selanjutnya ketika 22 PTM keluar para panitia justru terus melakukan pemilihan padahal yang tersisa hanya 2 PTM .

” Info yang kami dapatkan muscab tetap berlangsung dan telah terpilih pengurus baru. Padahal yang ikut hanya tersisa dua PTM dan dari sini kami menilai cacat prosedural karena dipaksa padahal tidak memenuhi quarum,”tandasnya.

Sementara Itu pengurus PTM Pink TV, Agung Heryanto mengungkapkan bahwa dari awal muscab tidak berjalan secara transparan. Sebab para panitia tidak pernah mensosialisasikan tatib dan ad/art kepada para pengurus.

“Seharusnya satu bulan sebelum pemilihan Itu panitia sudah jalan untuk bagikan Itu tatib. Tapi ini tidak, terkesan tertutup,”ujarnya.

Bahkan lanjutnya undangan muscab pun hanya 6 PTM yang diundang. Namun karena para anggota melakukan protes akhirnya panitia baru mengundang 18 PTM lainya.

“Jadi menang ini semacam ada yang ditutup karena dari awal panitia tidak pernah terbuka,”paparnya.

Ia juga mempertanyakan alasan panitia tidak menjadikan 18 PTM tidak punya hak suara karena tidak terdaftar. Padahal 18 PTM sudah berdiri hampir 3 tahun dan telah mengadakan berbagai turnamen bergengsi di Kota Depok.

“Kami ini contohnya Kaye PTM gerus dan pink TV, Itu sudah 3 tahun berdiri di Kota Depok bahkan atlet sudah banyak. Kami sering melakukan kegiatan turnamen.lah hari ini kami dikatakan tidak terdaftar kan aneh,”tuturnya.