Oleh : Raja faidz el shidqi (Mahasiswa FISIP UMJ dan Kader PK. IMM FISIP UMJ)

74 Tahun sudah Indonesia berdiri, tentu telah banyak peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di negeri kita Indonesia atau generasi-generasi yang telah lahir dari pasca Kemerdekaan hingga saat ini. Lalu, bagaimana dengan dinamika pergerakan Mahasiswa di Indonesia dari Generasi ke Generasi ? Tentu pembaca mengetahui tentang pergerakan mahasiswa angkatan tahun ’66 dan ’98 bukan ? Nah, bagaimana dengan mahasiswa zaman sekarang ?

Kemarin saya sedikit berdiskusi dengan sesama teman mahasiswa dipelataran rumah, kami sedikit membayangkan lalu sama-sama berspekulasi terhadap pergerakan-pergerakan mahasiswa Indonesia dari tahun ’66, ’98 hingga saat ini. Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh pergerakan Mahasiswa saat itu dan sangat diidolakan oleh sebagian mahasiswa Indonesia saat ini, perjuangan Soe Hok Gie dan pergerakan-pergerakan mahasiswa lainnya pun pada saat itu terkesan lebih berani dan nekat dalam urusan mengkritik pemerintah Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno selain dalam mengkritik pemerintah, Soe Hok Gie juga sering kali mengkritik teman sesama mahasiswa yang dianggap terlalu membawa kepentingan pribadi atau kelompok ideologi nya sendiri. Pada saat Orde Lama runtuh dan Orde Baru lahir pun muncul sebuah asumsi, apakah runtuhnya Orde Lama semata-mata karena murni perjuangan Mahasiswa ? atau kah ada kekuatan oposisi penguasa yang ikut serta dalam runtuhnya Orde Lama ?

Seperti yang kita tahu masa keruntuhan Orde Lama dimulai saat Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret kepada Soeharto saat itu untuk mengatasi keamanan negara pasca Pemberontakan Gerakan 30 September atau G30S/PKI, tentu dengan adanya surat dan peristiwa tersebut akan lebih memudahkan Mahasiswa untuk menjalankan revolusi kepemimpinan yang artinya secara tidak langsung perjuangan Mahasiswa di tahun ’66 dalam meruntuhkan Orde Lama khusus nya mengakhiri Demokrasi Terpimpin telah dibantu dengan kekuatan-kekuatan oposisi yang tidak sejalan dengan Presiden Soekarno seperti Soeharto dan pejabat tinggi di ABRI karena ketidak sukaanya terhadap Partai Komunis Indonesia.

Lalu pada generasi ’98, jika kita melihat atau setidaknya mendengar kisah-kisah para senior tentang pergerakan Mahasiswa di tahun ’98 akan sama berani nya atau sama nekat nya seperti pergerakan Mahasiswa di tahun ’66. Mungkin bagi saya bisa dikatakan lebih berani karena pada masa Orde Baru, mereka yang sering menyuarakan kebenaran, kritik, dll. Akan dianggap menganggu konsentrasi Pemerintah dalam melakukan pembangunan nasional hingga akhir nya akan disingkirkan satu persatu. Seperti yang dialami oleh beberapa media pemberitaan pada saat menyinggung pembelian Kapal Perang Bekas dari Jerman Timur, karena dianggap terlalu berisik dan menurut Pemerintah saat itu mengganggu ‘pembangunan’ nasional yang entah benar mengganggu pembangunan atau kepentingan pribadi atau kelompok tertentu akhirnya beberapa media pun dibredel alias dicabut perizinannya.

Nah, dari pandangan yang saya tuturkan diatas saya sendiri mempertanyakan seperti apa pergerakan Mahasiswa pada saat ini ? terlebih yang saya lihat banyak mahasiswa yang mengidolakan Soe Hok Gie tapi rasanya kurang mampu atau belum mampu untuk mengikuti langkah nya dalam hal keberanian, begitu pula dengan Generasi ’98 rasa-rasanya kisah tersebut hanya sebagai memori belaka bahwa di Negeri ini pernah terjadi peristiwa demonstrasi besar yang memakan banyak korban jiwa hingga mundur nya Soeharto dari jabatan Presiden setelah 32 tahun berkuasa.

Tentu setiap perjuangan terlebih perjuangan Mahasiswa tidak melulu soal aksi turun ke jalan, ada juga perjuangan melalui diskusi-diskusi antara mahasiswa dengan pejabat tinggi negara atau birokrat terkait dalam memperjuangkan suatu hal. Dan pada masa sekarang ini saya tidak bisa melihat jelas seperti apa pergerakan mahasiswa Indonesia dalam memperjuangkan sesuatu, jika kita mengatakan dengan aksi turun kejalan memang benar kita melakukannya pada saat 23-24 September 2019 saat sedang ramai-ramai nya isu tentang UU KPK, RKUHP, dll. Tetapi setelah itu saya lihat semua berlalu begitu saja, tidak ada tuntutan lanjutan yang lebih keras dan nyata yang seharusnya disampaikan mahasiswa.

Jika pergerakan Mahasiswa di Tahun ’66 secara tidak langsung bekerja sama dengan oposisi Presiden Soekarno, yaitu Soeharto dan jajaran ABRI dan pergerakan Mahasiswa di Tahun ’98 juga secara tidak langsung bekerja sama dengan kekuatan oposisi Soeharto dan ABRI yang kala itu terjadi dwifungsi ABRI dalam hal Keamanan dan Politik, yaitu Amien Rais dkk. Dalam mengakhiri suatu kesewenang-wenangan rezim maka bagaimana dengan kondisi saat ini ? Pemerintahan Presiden Jokowi di Periode Kedua ini terkesan lebih obesitas akibat hampir seluruh Parpol berada didalam kabinet dan hanya segelintir saja golongan Oposisi kekuasaan, tentu hal ini juga akan berpengaruh terhadap Perjuangan Mahasiswa dalam memperjuangkan kepentingan Masyarakat banyak khususnya masyarakat golongan menengah kebawah.

Semoga dengan situasi Politik dan dengan model Kekuasaan seperti ini Mahasiswa di Indonesia tetap memiliki integritas sebagai Pemuda ber-Intelektual dalam memperjuangkan hak-hak Masyarakat Indonesia, seperti yang pernah dikatakan Bung Hatta jika tidak salah, “Mahasiswa itu adalah Akal dan Hati dari Masyarakat.” demikian pula dengan para pemangku jabatan di Kabinet saat ini maupun para Wakil Rakyat yang terhormat semoga bisa lebih peka dalam mendengarkan keluh kesah Masyarakat Indonesia tanpa harus menunggu dituntut dan didemo oleh Mahasiswa, terlebih banyak Wakil Rakyat kita sekarang adalah mereka para Alumni Pergerakan Mahasiswa di Tahun ’98 tentu sangat ironis jika dahulu mereka berteriak menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan hak rakyat sekarang justru berbuat sebaliknya.