Depok Selayang Pandang

Posted on 447 views

Oleh : Hamdi,S.Sos**

DepokNews —  Wilayah Depok diperkirakan sudah ada pada abad ke-17, yaitu ketika VOC (perusahaan dagang Belanda) mengirim ekspedisi pertama pada 1687 di bawah pimpinan Scipio dan kemudian Winkler tahun 1690.

Mengulas sejarah lahirnya Depok tak lepas dari sosok Cornelis Chastelein, seorang pedagang besar dan tuan tanah asal Belanda ketika VOC berkuasa. Pada mulanya Depok adalah sebuah dusun terpencil di tengah hutan belantara dan semak belantara. Pada tanggal 18 Mei 1696 Chastelein, membeli tanah yang meliputi areal yang terletak di Depok, Mampang, Karanganyar, dan dua lahan kecil di tepi Ciliwung antara Batavia dan Buitenzorg (Bogor sekarang). Seluruh komplek tanah yang dijadikan perkebunan oleh Chastelein kemudian dinamai “Depok”.

Untuk mengurus perkebunannya yang luas tersebut Chastelein mempekerjakan seratusan pekerja. Mereka didatangkan dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Jawa, dan beberapa daerah lainnya. Sampai sekarang keturunan para pekerja Chastelein itu dibagi menjadi 12 marga (keluarga). Nama-nama marga tersebut adalah : Jonathans; Laurens; Bacas; Loen; Soedira; Isakh; Samuel; Leander; Joseph; Tholense; Jacob; dan Zadokh. Keluarga-keluarga ini menganut sistem kekerabatan patrilineal. Mereka inilah yang kemudian populer dengan sebutan “Belanda Depok”.

Selain mengelola perkebunan, Chastelein juga menyebarluaskan agama Kristen (Protestan) kepada para pekerjanya lewat sebuah padepokan Kristiani. Padepokan ini bernama De Eerste Protestante Organisatie van Kristenen, disingkat DEPOK. Kelompok dua belas marga Depok tersebut diklaim sebagai kelompok Protestan pertama di Timur.

Penamaan kata “Depok” itu sendiri dapat dilihat dari dua versi. Pertama, ada yang mengartikan nama Depok berasal dari akronim dalam bahasa Belanda. Akronim kata Depok kemudian dihubungkan dengan pengembangan agama Protestan. Akronim tersebut antara lain, pertama, Depok adalah De Eerste Protestante Organisatie van Kristenen, kedua Deze Emheid Predikt On Kristus, ketiga De Earste Proteatanche Onderdan Kristen, dan keempat Dewan Ekonomi Penduduk Orang-orang Kristen.

Kedua, pihak yang tidak setuju dengan pendapat pertama mengajukan pandangan lain. Menurut pihak kedua ini, sebelum Cornelis Chastelein (yang dianggap sebagai pembuka tanah di Depok) membeli tanah di Depok, nama Depok sebenarnya telah ada seperti yang diceritakan Abraham van Riebeek dalam catatan ekspedisinya sebagai Inspektur Jenderal VOC pada tahun 1703, 1704, dan 1709. Dalam laporan ekspedisinya, van Riebeek (1730) menjelaskan bahwa kata Depok bukan berasal dari bahasa asing. Tetapi lebih mungkin bahasa Sunda atau Jawa. Dalam bahasa Sunda Depok berarti duduk. Salah satu rute yang dilalui van Riebeek tertera nama Depok sebagai daerah yang dilewati sungai Ciliwung.

Menurut pihak kedua ini, jelas bahwa kata Depok bukan berasal dari bahasa asing. Tetapi lebih mungkin bahasa Sunda atau Jawa. Dalam bahasa Sunda, Depok berarti duduk. Kata bendanya adalah padepokan, yang berarti tempat duduk. Dalam bahasa sehari-hari padepokan bisa diartikan tempat tinggal atau kampung halaman. Padepokan bisa juga berarti sebagai tempat pendidikan, seperti pesantren. Alasannya, karena pada zaman dahulu kebiasaan seorang guru ketika memberikan pelajaran kepada murid-muridnya duduk bersila. Ada indikasi yang pertama kali dinamakan padepokan hanya tempat belajar. Lama-kelamaan seluruh lokasi di sekitarnya dinamakan padepokan, dan akhirnya menjadi Depok.

Depok bermula dari sebuah kecamatan yang berada di lingkungan Kewedaanaan (Pembantu Bupati) wilayah Parung Kabupaten Bogor, yang meliputi 21 desa. Lalu, pada tahun 1976 melalui proyek perumahan nasional (perumnas) dibangun Perumnas Depok I dan Perumnas Depoks II. Pembangunan perumnas tersebut memicu perkembangan Depok yang lebih pesat. Seiring bertambah banyaknya jumlah peduduk kota Depok, bermunculanlah berbagai macam perumahan yang tersebar di wilayah bagian timur, barat, utara, dan selatan kota belimbing ini.

Selain pembangunan sarana pemukiman, geliat kota Depok juga  ditandai oleh berdirinya beragam sarana pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.  Untuk tingkat perguruan tinggi berdiri kampus Unversitas Indonesia (UI) Depok sejak 1987 dan diikuti oleh kampus-kampus (swasta) lainnya seperti Universitas Gunadarma, BSI, STT Nurul Fikri, STIAMI, STIH IBLAM, dan STAI Al-Qudwah.

Pada tanggal 18 Maret 1982 Kota Administratif (Kotif) Depok diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Mahmud, yang terdiri dari 3 (tiga kecamatan) dan 17 (tujuh belas) desa. Tiga kecamatan itu adalah Pancoran Mas (meliputi 6 desa), Beji (5 desa), dan Sukmajaya (6 desa). Selama masa 17 tahun Kotif Depok berkembang pesat baik di bidang pemerintahan, pembangunan, maupun kemasyarakatan. Di bidang pemerintahan semua sebutan desa diganti menjadi kelurahan dan dengan pemekaran wilayah kelurahan. Konsekuensi pemekaran ini wilayah Depok terdiri dari 3 kecamatan dan 23 kelurahan.

Adapun walikota pertama Depok adalah Drs. R. Rukasah Suradimaja (1982- 1984). Walikota berikutnya berturut-turut adalah Drs. H. MI Tamjid (1984-1988); Drs. H. Abdul Wachyan (1988-1991); Drs. H. Sofyan Safari Hamim (1992-1996); Drs. Badrul  Kamal (1997-2005); dan Dr.Ir.H. Nur Mahmudi Ismail, MSc. (2006-2011). Selanjutnya jabatan walikota kembali dipegang oleh Dr.Ir.H. Nur Mahmudi Ismail, MSc. yang didampingi oleh Dr. Idris Abdul Shomad, MA untuk periode 2011-2016. Kepemimpinan Depok saat ini diamanahkan kepada duet Dr. Idris Abdul Shomad, MA dan Pradi Supriatna untuk masa jabatan 2016-2021.

Seiring makin pesatnya perkembangan Kotif Depok muncul tuntutan serta aspirasi masyarakat yang mendesak agar Kotif Depok ditingkatkan statusnya menjadi kotamadya (kodya). Aspirasi ini disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Bogor yang kemudian bersama-sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengusulkannya kepada Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 tahun 1999 tentang pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok yang ditetapkkan pada tanggal 20 April 1999 dan diresmikan tanggal 27 April 1999 bersamaan dengan pelantikan Penjabat Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Depok yang dipercayakan kepada Drs. H. Badrul Kamal yang pada waktu itu menjabat sebagai sebagai Walikota Administratif (Kotif) Depok. Momen inilah yang kemudian dijadikan sebagai hari jadi kota Depok. Jadi, bulan April mendatang kota belimbing ini genap berusia 19 tahun.

Menurut UU No. 15 tahun 1999 wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Depok memiliki luas wilayah 20.504,54 Ha yang meliputi : Kecamatan Beji (6 kelurahan); Sukmajaya (11 kelurahan); Pancoran Mas (6 kelurahan dan 5 desa); Limo (8 desa); Cimanggis (1 kelurahan dan 12 desa); dan Sawangan (14 desa).

Episode berikutnya dari perjalanan kota berpenduduk 2.179.813 jiwa ini (BPS Kota Depok, Januari 2018) adalah pemekaran kecamatan dari 6 (enam) menjadi 11 (sebelas) kecamatan. Pemekaran ini merupakan implementasi dari Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok Nomor 68 tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan di Kota Depok yang diharapkan berdampak positif bagi warga Depok. Dengan bertambahnya jumlah kecamatan tersebut diharapkan semakin mendekatkan pelayanan sehingga memudahkan warga dalam mengurus berbagai keperluan yang membutuhkan pelayanan dari aparatur pemerintah di kecamatan.

Kesebelas kecamatan di Depok hasil pemekaran berdasarkan Perda No. 08 tahun 2007 adalah sebagai berikut : Kecamatan Beji; Kecamatan Pancoran Mas; Kecamatan Cipayung; Kecamatan Sukmajaya; Kecamatan Cilodong; Kecamatan Limo; Kecamatan Cinere; Kecamatan Cimanggis; Kecamatan Tapos; Kecamatan Sawangan; dan Kecamatan Bojongsari.

Kota penyangga ibu kota ini juga dikenal dengan julukan kota belimbing. Maka belimbing akhirnya menjadi ikon kota Depok. Buah belimbing yang terkenal dari Depok adalah belimbing dewa. Buahnya berwarna kuning oranye keemasan yang mengandung vitamin C dan A yang cukup tinggi. Rasa manis buah ini dipercaya sebagai obat herbal penurun darah tinggi ((hipertensi), kencing manis, nyeri lambung, dan lain-lain. Belimbing dewa ini sangat prospektif dikembangkan di Depok dan sekarang telah menjadi buah unggulan kota Depok.

Keterangan :

*Tulisan ini untuk dimuat di kolom Opini di Depoknews.

**Penulis adalah penggiat Forum Akselerasi Masyarakat Madani Indonesia (FAMMI), tinggal di Depok.