Aplikasi roleplaying (Istimewa)
DepokNews- Aplikasi roleplaying melanda kalangan anak muda. Tak terkecuali kalangan pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat atas. Demam aplikasi ini langsung diantisipasi oleh Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Pendidikan.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Depok, Tinte Rosmiati mengatakan, pihaknya sudah mengeluarkan imbauan pada sekolah untuk melarang siswa membawa ponsel pada jam belajar. Larangan ini dilakukan untuk mencegah siswa menggunakan aplikasi roleplaying tersebut.
“Kami sudah melakukan antisipasi. Dinas sudah memberikan imbauan pada sekolah agar siswa tidak membawa handphone ke sekolah,” katanya.
Kendati demikian Tinte menegaskan bahwa imbauan itu tidak bisa berjalan searah. Artinya diperlukan kerjasama dan sinergi antara orang tua dan tenaga pendidik.
“Kalau kami sudah memberikan imbauan seperti itu, tinggal pada orang tua untuk memperhatikan juga,” tukasnya.
Tinte menuturkan jejaring sosial seperti roleplaying adalah aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk terhubung menggunakan profil pribadi atau akun pribadinya. Aplikasi ini merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan temennya untuk berbagi informasi dan berkomunikasi.
“Pemanfaatan situs jejaring sosial telah menjadi trend atau gaya hidup bagi sebagian besar remaja di masa kini,” ungkapnya.
Sebagai salah satu media komunikasi, media sosial tidak hanya dimanfaatkan untuk berbagi informasi dan inspirasi, tapi juga ekspresi diri, pencitraan diri, dan ajang curhat bahkan keluh kesah remaja dari seluruh aktivitasnya di lingkungan sekolah maupun lingkungan pergaulannya. Dia menuturkan bahwa range usia 12-21 tahun dapat dikategorikan ke dalam usia remaja. Pada usia remaja, rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal membuat mereka selalu berusaha mencari lebih banyak informasi.
“Usia remaja lebih tertarik kepada materi hal-hal yang sebetulnya belum boleh mereka ketahui,” tuturnya.
Untuk menangani hal tersebut, perlu pendampingan para orang tua terhadap anak remaja nya agar tidak mencari informasi yang salah. Komunikasi terbuka dan dua arah di rumah sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan diri pada anak.
“Intinya, semua berawal dari komunikasi di rumah, jangan sampai anak mencari informasi yang kurang baik dari luar,” tutupnya.(mia)