DepokNews– Aksi teroris dan radikalis telah menjadi ancaman keamanan dalam berbangsa serta bernegara. Meski beberapa sudah ditangkap, namun aksi para teroris tetap terjadi seperti belakangan ini dua teroris tewas di Depok ditembak tim Densus 88 saat patroli. Atas peristiwa tersebut, perlu adanya cara dalam berdakwah yang menunjukkan Islam yang damai dan anti kekerasan.

Hal itu dibenarkan oleh Direktur Lembaga Kajian Ke-Islaman Darul Fattah Ust. Achmad Solechan dalam Halaqoh Kebangsaan di Aula Ponpes Nurul Bantany, Jl. Sayabulu, Serang, Kec. Serang, Kota Serang, Banten. Menurutnya, cara-cara dakwah yang dijalankan para teroris dan ekstrimis tidak bisa dibenarkan secara agama serta hukum Negara.

“Apa yang mereka lakukan dengan aksi kekerasan adalah menyalahi fitrah sendiri serta bertentangan dengan ajaran Allah. Nabi Muhammad dalam menjalankan dakwah penuh dengan kelembutan dan anti kekerasan. Ini diteruskan para Wali Songo yang menyebarkan dakwah Islam di Jawa melalui akulturasi budaya dan kelembutan,”ujarnya dalam acara Halaqoh Kebangsaan dengan tema “Islam dan Dakwah” Jalan Damai Islam dalam Berdakwah melalui pesan elektronik.

Menurutnya, pemaknaan jihad yang diyakini para teroris tidak bisa dibenarkan dengan memahami ayat-ayat Al-Qur’an secara sepihak. Yaitu: meyakini ayat berisi ajakan perang dan menghapus semua ayat tentang hubungan damai. Untuk itu, lanjutnya, sudah selayaknya mengikuti ajaran dan meneladani dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW.

“Hari ini, Indonesia sedang dihadapkan beragam kenyataan berkembangnya beragam aliran keras dan tumbuhnya semangat beragama dengan menjadikan dirinya seorang yang berjihad dalam arti yang keliru. Mereka rela menjadi pengantin, yang siap menjadikan dirinya sebagai pelaku bom bunuh diri demi memenuhi pelaksanaan jihad sebagaimana yang dipahaminya,”terangnya.

Dirinya berharap dengan dakwah dengan damai diharapkan sampai pada sasaran. Dengan adanya Halaqoh bisa memberikan pemahaman pemaknaan berjihad sesuai ajaran Islam. Selain itu, lanjutnya, bisa memupuk semangat beragama berislam yang selaras dengan ajaran agama baik konteks ke-Islaman dan ke-Indonesia-an. Dalam kesempatan tersebut, sebagai narasumber yaitu: Dr. Mufti Ali (Peneliti dan Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin), Dr. Imdadun Rahmat (Peneliti LKI Darul Fattah) dan Dr. Fatkhuri Wahmad (Pengasuh Ma’had Al Bahrain). Tampak hadir para alim Ulama, tokoh masyarakat, guru, mahasiswa dan lainnya.

Dakwah Instan Tak Akan Berhasil
Peneliti dan Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Dr. Mukti Ali mengungkapkan bahwa dakwah yang dilakukan dengan cara instan tidak akan berhasil. Pasalnya, dalam berdakwah ada yang namanya hikmah dan keteladanan. Hal itu sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad dan Wali Songo.

“Melalui Pesantren salaf dengan pengajaran ilmu agama Islam secara terus menerus, bersambung sanadnya, ditambah nilai religiusitas dan keihlasan pengajarnya telah mengikis radikalisme. Apalagi, di Banten aksi terorisme dan radikalisme terkikis dengan adanya Pesantren salaf,”ujar juga peneliti sejarah Banten ini.

Ia mencontohkan bagaimana para tokoh kharismatik dari Banten yang ikut melawan penjajahan adalah tokoh Islam. Menurutnya, dengan keteladanan dan kebijaksanaannya dalam berdakwah menunjukkan Islam damai. “Dengan keteladanan, kearifan, ketawadhuan (rendah hati-red) para Pengajar di Pesantren ini dalam waktu yang lama dan terus menerus mengajarkan Islam yang damai,”paparnya.

Esensi Dakwah
Peneliti LKI Darul Fattah Dr. Imdadun Rahmat mengungkapkan bahwa esensi dari dakwah adalah ajakan, rayuan dengan kelembutan. Menurutnya, dakwah bil hikmah sudah diajarkan Nabi Muhammad. Bahkan, lanjutnya, dalam berdebat hendaklah dengan cara yang baik. “Inti dari dakwah adalah ajakan dengan kelembutan. Kalau dengan paksaan dan kekerasan itu sudah kontra produktif,”paparnya.

Dia menilai, teroris telah kalah seusai Pilkada serentak. Bahkan, lanjutnya, bagi calon yang menunjukkan fanatisme identitas dan black campaign bisa kalah. “Kita sedikit lega, dari black campaign dan fanatisme agama. Justru, kemenangan bagi mereka yang biasa-biasa saja. Tapi, tetap ke depan diwaspadai munculnya black campaign. Apalagi, masyarakat kita sudah cerdas tidak terjadi perselisihan seusai pilkada. Paling-paling percekcokan terjadi di medsos saja,”tandasnya.

Radikalisme dan Terorisme Menyasar Semua Kalangan
Pengasuh Ma’had Al Bahrain Dr. Fatkhuri Wahmad mengingatkan kewaspadaan akan ideologi terorisme dan radikalisme. Pasalnya, sasaran mereka juga mengarah pada remaja dan anak-anak yanag tidak punya basis agama yang mapan. “Mereka cepat bidik sasaran ini. Bagaimana tidak, para pengantin ada dari anak-anak dan pelajar SMA,”paparnya.

Untuk itu, lanjutnya, melalui pembekalan agama yang benar sesuai dengan Aswaja akan memberantas ideologi aswaja. Dia menilai, hari ini penanganan radikalisme harus kerja ekstra. “Deradikal adalah upaya melalui penangkalan ideologi. Sebab, ideologi itu akan terus tumbuh bila tidak diberantas. Berapa banyak yang ditangkap, tapi tetap muncul,”tandasnya.