DepokNews–Pemerintah daerah memiliki inisiatif kebijakan dan strategi tersendiri menghadapi Covid-19 dan memulihkan kondisi sosial-ekonomi. Hal itu terungkap dalam diskusi publik Center for Indonesian Reform (CIR) berkolaborasi dengan Komunitas Sahabat Depok (KSD) dan Viral Consulting. Diskusi dilaksanakan secara daring bertema: “Membangun Daerah Percontohan Pasca Pandemi Covid-19”.

Tampil sebagai pembicara kunci Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. Zulkieflimansyah dan narasumber lain Imam Budi Hartono (Wakil Walikota Depok Terpilih 2021-2025) dan Muhammad Haris (Wakil Walikota Salatiga 2012-2022). Paparan eksekutif Pemda direspon penanggap ahli CIR: Dr. Sudarman (Wakil Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Padang) dan Dr. Askar Triwiyanto (Wakil Sekjen Iluni Universitas Indonesia).

Bang Zul selaku Gubernur NTB menegaskan Covid-19 memang jadi masalah dan tantangan berat, tapi juga membuka peluang meluncurkan kebijakan inovatif dan lebih tepat sasaran. Dalam penanganan Covid-19, kampus Univeritas Teknologi Sumbawa (UTS) memelopori alat test swab PCR mandiri, sehingga bisa menekan biaya testing. Bahkan, alat tersebut dirancang portabel agar bisa melayani warga di pelosok desa.

“Disamping itu, kita mengerahkan Usaha Kecil dan Mikro (UKM) untuk memenuhi kebutuhan bantuan sosial. Sehingga dana bansos benar-benar bergulir untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Mulanya hanya sekitar 400 UKM yang terlibat, kemudian berkembang menjadi 5.000 UKM,” jelas Bang Zul. Sektor ekonomi yang paling terpukul akibat pandemi Covid-19 adalah pariwisata yang melibatkan ribuan UKM dan jutaan warga.

Pemkot Depok memiliki strategi lain menangani Covid-19. Disamping jaring pengaman sosial (JPS) dengan anggaran Rp 35 miliar, dikerahkan pula 925 Kampung Siaga Covid (KSC) yang diberi bantuan Rp 3 juta tahap awal dan Rp 2 juta tahap lanjutan. Untuk deteksi dilakukan test swab PCR 4.597 orang/pekan dan perluasan tugas Labkesda serta RS rujukan, termasuk penambahan ruang isolasi di hotel Makara UI.

Imam Budi Hartono selaku Wakil Walikota Depok terpilih menyatakan: “Pada tahun anggaran mendatang kita tingkatkan dana bantuan Rp 5 miliar tiap kelurahan dan menumbuhkan 5.000 penguasa baru UKM atau start ups, termasuk 1.000 perempuan pengusaha. Kemandirian dan kesejahteraan warga ditingkatkan dari bawah.” Dampak Covid-19 memang sangat terasa di Depok: tingkat pengangguran mencapai 8,72% atau 105.490 orang tahun 2020, kemiskinan diperkirakan naik 4,32% atau 95.984 orang, pertumbuhan ekonomi tertekan pada kisaran minus 0,81% hingga 4,14%.

Tekanan serupa juga dialami Kota Salatiga, Jawa Tengah. Berdasarkan survei diketahui 15,6% responden lelaki di Salatiga terkena PHK (pemutusan hubungan kerja), sementara responden perempuan 12,0%. Sekitar 17,5% responden lelaki masih bekerja namun status dirumahkan, sedang responden perempuan 13,6%. Responden lelaki yang tidak bekerja 10,9% dan perempuan sekitar 32,4%. Karena posisinya sebagai kota transit, maka sebagai penduduk Salatiga berwirausaha dan bekerja di sektor jasa.

“Untuk merespon dampak Covid, kami melakukan refocusing APBD senilai Rp 105 miliar, untuk kesehatan 59,4 miliar, JPS 28,1 miliar, dan penanganan dampak ekonomi 17 miliar. Kami menata 868 pasar pagi dan memberdayakan UKM dengan membeli produk mereka. Selain itu, kami beri stimulus berupa pemotongan rekening air PDAM, pajak air tanah, pajak hotel, restoran dan lain-lain,” ujar Wakil Walikota Muhammad Haris yang sudah menjabat dua periode. Hasilnya, angka positivity rate Salatiga 10,85%, sementara rerata Indonesia 29,4%; mortality rate 2,58, sedang Indonesia 3%; dan recovery rate 84,57% lebih tinggi dari nasional 82%.

Wakil Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol, Sudarman, menanggapi paparan Pemda. “Fokus utama saat ini adalah menyelamatkan manusia dan menjaga poduktivitas SDM. Itu sejalan dengan prinsip pembangunan yang digariskan Ibnu Khaldun, bahwa dari 8 aspek pembangunan, faktor peningkatan SDM merupakan priotitas. Wabah pandemi juga dialami masyarakat di masa lalu,” jelas Sudarman.

Sementara dari sudut pandang sains dan teknologi, Wakil Sekjen Iluni UI, menyarankan agar dibangun kolaborasi Pemda dengan pihak akademisi/kampus dan pihak swasta, serta stakeholders daerah lainnya. “Inisiatif Gubernur NTB mengajak pihak kampus patut didorong, tidak hanya menangani Covid, tapi bisa memunculkan produk baru di tengah pandemi seperti sepeda motor listrik. Itu produk lokal yang menarik perhatian menjelang ajang balap MotoGP internasional. Kota Depok dan Salatiga memiliki potensi besar untuk kolaborasi teknologi,” saran Askar Triwiyanto.

Pandemi Covid-19 tidak hanya melahirkan derita, namun juga membuka peluang kreativitas. Pemerintah Daerah yang inovatif sudah membuktikannya. Inisiatif mereka patut dicontoh. []