Wajar kalau netizen julid suka mengeluh atas kondisi kotanya. Tapi kalau ada yang serius mau membenahi, lantas bertarung di kontestasi politik, mau tidak mau dia harus membekali diri dengan memahami kerja pemerintahan beserta istilah-istilahnya.

Ini yang tidak dilakukan oleh calon wakil walikota Depok pasangan nomor urut 1, ibu Afifah. Di debat pertama ia tidak paham KUA PPAS yang ditanyakan Imam Budihartono dari paslon nomor urut 2. Di debat ketiga ia gagal paham istilah IPG.

Pasangannya yang padahal sudah 5 tahun menjawab wakil walikota pun tak kalah mengecewakan. Di debat kedua ia tak mengerti soal UHC. Terlihat dari jawabannya yang malah mengulas soal UMKM, padahal yang disinggung itu istilah di dunia kesehatan. Di debat ketiga ia menyebut istilah bwscc, yang kemudian dikoreksi Imam Budihartono karena yang benar adalah bbws.

Lantas bagaimana mereka mau membenahi Depok, sebagaimana jargon yang diusung? Setuju, bagus sekali gagasan membenahi itu, tapi apa mengerti masalah?

Beberapa kali Afifah mengkritik lawannya karena kerap menggunakan istilah dan singkatan. Padahal terlontarnya kritik itu menandakan Afifah tidak paham persoalan.

Klimaksnya, dalam debat ketiga Afifah menyatakan cara kerja mereka di pemerintahan adalah learning by doing. Sebuah blunder terang-terangan.

Ini menandakan paslon nomor 1 tidak membekali diri dengan pemahaman yang cukup baik soal birokrasi. Tidak belajar lebih dulu sebelum bertarung ke gelanggang.

Lantas apa modalnya? Dari tiga kali debat, terlihat hanya sekedar keluhan khas netizen julid beserta mimpi-mimpinya. Minim solusi dari sudut pandang jalannya pemerintahan.

Yang tak kalah lucu, pada debat ketiga paslon nomor 1 mempersoalkan pemaparan prestasi-prestasi kota Depok oleh pasangan Idris-Imam. Padahal dalam debat yang berkualitas, adu data itu wajar.

Paslon nomor 2 adalah petahana. Tentu saja mereka harus bertahan dari serangan pertanyaan panelis maupun kompetitornya. Caranya adalah dengan mengungkap data capaian-capaiano selama ini. Maka hadirlah debat berkualitas.

Tapi hal itu diprotes oleh Afifah yang hanya ingin mendengar sisi buruk dari kota Depok.

Hal itulah yang dikeluhkan oleh Imam Budihartono bahwa lawannya tak mengerti data.

Memang, Depok masih banyak kekurangan. Membenahi Depok adalah jargon yang bagus. Tapi akan sah bila gagasan itu digaungkan oleh orang yang paham data dan persoalan. Bukan orang sekualitas netizen julid yang malas belajar.