“Barangsiapa yang gurunya adalah buku maka kesalahannya lebih banyak daripada benarnya” (Hurmatu Ahli Ilmi, Muhammad Ahmad Ismail al Muqoddim, hal. 335)

Otodidak dalam artian belajar ilmu dari buku tanpa guru, merupakan alternative dalam mendalami bidang tertentu. Tidak dipungkiri membaca adalah kegiatan yang efektif untuk memperoleh ilmu. Karena buku tak pernah bosan mengajari pembacanya.

Tapi, apa jadinya jika para penuntut ilmu hanya bertumpu pada otodidak? Terlebihnya lagi dalam masalah agama? Karena mungkin di duniawi jika terjadi kesalahan itu hanya sebatas “trial and error” . tapi tidak halnya dalam mempelajari ilmu agama. Belajar hanya mengandalkan dari buku akan mendatangkan banyak mafsadat.

Salah seorang berkata : “musibah terbesar yang menimpa penuntut ilmu adalah menjadikannya buku sebagai guru.” Oleh karenanya, otodidak dalam bidang dien tidak layak di terapkan karena memiliki banyak kekurangan. Berikut kesalahan yang dapat terjadi jika hanya menjadikan buku sebagai guru :

Pertama, salah memilih bacaan

        Perkembangan dunia perbukuan menjadikan kemajuan tsaqofah Islamiyah (wacana keislaman). Banyak buku ulama yang diterjemahkan, semikian pula karya penulis muslim dalam negri yang lurus pemikiran. Tapi tak sedikit pula buku-buku kebatilan yang bertebaran. ,ulai dari buku yang isinya menyimpang, hanya menonjolkan ulama dari gplpngan tertentu, buku bernunsa islami tapi ternyata liberal, sampai buku orientalis dan aliran kiri yang dikemas sedemikian rupa dengan penampilan ilmiah tapi ternyata banyak mengikis akidah.

        Lalu bagaimana jika seorang manusia hanya mengandalkan buku untuk menjadi guru hidupnya? Karna niat ikhlas menuntut ilmu saja tidak cukup jika tidak dibarengi guru yang alim (berilmu dan mengamalkan ilmunya) yang dapat mengoreksi kesalahan yang dilakukan. Imam syafii pernah menggambarkan seorang mengambil buku secara serampangan seperti pencari kayu bakardi malam hari. Dia memungut kayu bakar dan membawanya. Mungkin ada seekor ular yang siap mematuknya dan dia tidak menyadarinya.

        Pemisalan tersebut bagi mereka yang mengambil ilmu tanpa jelas kebenarannya. Menerima setiap perkataan serta dalil, tapi tidak meneliti pula kebenaran dari ayat dan hadist nya. Dan akhirnya ia mengamalkan apa yang didapatkan dan terjatuh dalam kebinasaan.

        Berbeda debgan ketika dibawah arahan mu’allim (pengajar). Dia akan ditunjukkan buku apa yang pantas dibaca, buku apa yang mesti diwaspadai, ataupun mendapat penjelasan atas apa yang salah dalam buku tersebut.

Kedua, kesalahpahaman

        Buku yang benar saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang memahami agama islam. Pada suatu ketika Abu Hanifah melihat sekelompok orang berdebat maslaah fiqih. Maka beliau bertanya : “apakah mereka ada gurunya?” “tidak”, jawab mereka. Beliaupun menimpali : “mereka tidak akan paham selamanya.” (Al Faqih wal Mutafaqqih, hal 2/163)

Ketiga, mencari ilmu tanpa adab

        Inilah hal dasar yang membedakan antara otodidak dan bertemu langsung dengan pengajar. Mereka yang hanya otodidak hanya akan memperoleh ipengetahuan. Sedangkan, orang yang belajar secara langsung dengan pengajar akan memperoleh ilmu yang ta’dib (Pendidikan yang adab). Sebab ilmu adalah akhlak mulia. Ilmu tanpa adab tidak mendatangkan kebaikan dan adab tanpa ilmu adalah membinasakan. Demikianlah urgensi akhlak menurut ahli salaf.

Keempat, tidak mengetahui prioritas ilmu

        Tentu tidak semua ilmu bersifat fardhu ‘ain (wajib dipelajari). Ada ilmu yang bersifat fardhu kifayah, mubah, bahkan haram. Akibat dari ketidaktahuan dalam memilah ilmu, ilmu yang dipelajari hanya berdasarkan pada prioritas masing-masing. Bukan karena prioritas ilmu yang wajib diketahui, tetapi karena jika kita menuntut ilmu kepada para mu’allim kita akan mengetahui dan mempelajari ilmu sesuai dengan prioritas ilmu yang wajib diketahui.

Kelima, menuntut ilmu tanpa bertahap

        Ilmu itu layaknya tangga. Ada tahapan yang harus dilalui, tidak langsung meloncat dari anak tangga sat uke anak tangga ke serratus. Dia akan tergelincir dan jatuh, sebab kerangka ilmu yang dipelajari ttidak sepenuhnya utuh.

        Selain itu ilmu juga t6idak bisa didapat dalam sekali waktu. dibutuhkan waktu yang Panjang dan tidak boleh cepat bosan. Acapkali orang yang belajar secara otodidak iingin menguasai ilmu secara cepat, bebas keterikatan tahapan materi yang dipelajari, sehingga keutuhan kerangka berfikir tidak ia dpatkan.

Keenam, pendukung bukan satu-satunya

        Bukan berarti kesalahan-kesalahan yang dipaparkan tadi menafikan manfaat otodidak. Yang perlu menjadi catatan ialah jangan jadikan buku sebagai satu-satunya guru. Sebab, menelaah buku juga merupakan salah satu cara lain memperoleh ilmu syar’i. berikut du acara yang harus dipenuhi :

        Pertama, paham maksud dari ilmu tersebut serta paham apa istilah yang ada pada bidang tersebut. Tentu cara ini tidak akan sempurna jika tidak disertai metode talaqy (bertemu langsung dengan guru). Inilah maksud dari perkataan ulama : “ilmu itu ada di dada kemudian dipindahkan ke buku dan kuncinya ada di tangan para pembawanya yaitu para ulama”.

        Kedua,mencari buku karangan para pendahulu pada bidang yang akan ditekuni. Sebab ilmu yang akan dipelajari lebih dalam membutuhkan pengetahuan yang melimpah.

        Yang terakhir, kesalahan diatas tidaklah mutlak adanya. Pun demikian, tidak setiap orang memiliki kesalahan yang sama. Sesuai dengan tingkat kepahaman dan lindungan dari Alloh SWT. Wallahu muwaffiq ila aqwamit Thariq.

        Maroji :

Al Hurmatu Ahli Ilmi, Muhammad Ismail al Muqoddim, Darul Iman.

Al jami’ Fie Thalabul  Ilmi As Syarif, Syaikh Abdul Aziz.

Al Faqih wal Mutafaqqih, Al Khotib Baghdady

Penulis : Nadiah Robbaniyah, Mahasiswa STEI SEBI