DepokNews–Bisnis kuliner saat ini semakin menjamur. Pelaku bisnis kuliner harus mempunyai cara tersendiri untuk mengatasi persaingan usaha.  Restoran harus mempunyai menu yang khas, agar dapat menarik pelanggan untuk berkunjung. Hal inilah yang dilakukan Ois Sriyani, pemilik rumah makan Bakso & Soto Kebo Suegeeer Boyolali

Ditemui di rumah makan Soto Kebo Suegeeer Boyolali di Jl. Raya KSU no.83, Tirtajaya, Sukmajaya, Depok, Ois Sriyani sedang mengarahkan beberapa karyawannya. Kamis (17/6) Ois sudah berada di restorannya sejak pukul 04.00 WIB. Ditemui di siang hari, namun wajahnya masih terlihat segar. Ia pun tetap lincah melangkahkan kakinya kesana-kesini melayani pembeli. Tidak ada tanda-tanda lelah di wajahnya.

“Satu karyawan saya tidak masuk hari ini. Sehingga saya harus menggantikannya. Saya disini sejak pukul empat,” kata pengusaha yang juga anggota komunitas Genpro Depok. Genpro adalah sebuah komunitas yang beranggotakan para pengusaha muslim untuk saling belajar, berkomunikasi, berbagi, dan bersinergi.

Rumah makan Soto Kebo Suegeeer Boyolali milik Ois yang juga akrab dipanggil Bunda Ois ini merupakan satu-satunya rumah makan yang menjual soto kebo di Kawasan KSU, bahkan satu satunya di kota Depok. Ois memang sengaja membuka rumah makan yang memiliki menu khas yaitu soto kebo.

Sejak kecil, Ois yang lahir di Boyolali memang akrab dengan soto seger Boyolali. Sejak kuliah Ois juga sudah memiliki keinginan suatu saat nanti ingin memiliki restoran. Mempunyai suami yang sama-sama pecinta soto, membuat Ois melakukan riset selama 8 tahun untuk menciptakan resep soto yang enak khas Boyolali. Soto seger Boyolali memang banyak dijumpai di semua kota di pulau Jawa. Biasanya soto ini berisi daging sapi dan ayam kampung. Namun Ois tidak mau jika hanya mengcopy paste usaha dan rasa soto Boyolali yang sudah ada. Ia menginginkan hal yang berbeda. 

Dilahirkan 39 tahun yang lalu dari Ibu yang berasal dari Pati  dan Ayah yang asli Boyolali, Ois akhirnya memiliki ide untuk mengkombinasikan soto boyolali namun menggunakan daging kerbau. Tempat asal sang ibu familiar dengan daging kerbau dalam masakan keseharian, sedangkan tempat asal sang ayah sangat terkenal dengan kesegaran sotonya. Akhirnya Ois memutuskan membuat restoran Soto Kebo Suegeeer Boyolali. Di kota Boyolali sendiri bahkan tidak akan ditemukan soto serupa. Inilah yang disebut Ois sebagai diferensiasi usaha, artinya bahwa usaha boleh sejenis namun kita mempunyai hal yang berbeda dengan harapan menarik orang untuk ingin tahu apa yang ditawarkan oleh restorannya.

“Sebelum membuka rumah makan soto kebo, saya mencicip soto kebo yang cukup terkenal di Kudus. Sedangkan soto Boyolali, saya mencicip hampir semua soto Boyolali yang sudah  mempunyai nama baik di Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Jawa Barat. Nah, kemudian saya bikin racikan resep sendiri. Soto kebo saya beda dengan soto kebo yang ada di Kudus dan kuahnya relatif berbeda dengan soto Boyolali. Alhamdulillah respon pelanggan sangat positif,”ujar pengusaha yang juga alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu.

Ois yakin soto kebonya akan diminati banyak orang. Karena kebo atau kerbau merupakan hewan yang sudah akrab dengan masyarakat Indonesia sejak zaman dulu.

“Sapi itu umumnya dibesarkan secara massal di peternakan, sehingga diberi makan macam-macam, bahkan ampas tahu. Sedangkan kerbau jarang yang diternakkan secara masal, sehingga hanya makan rumput. Ini yang membuat rasanya berbeda,”ujarnya. 

Menurut Ois daging kerbau lebih lembut dan gurih dibandingkan sapi. Ois juga menyanggah anggapan masyarakat jika daging kebo lebih keras, bau, dan kurang enak.

“Daging kerbau itu tidak keras. Tergantung pada bagian apa yang dimasak. Karena daging kerbau pun macam-macam peruntukannya. Ada yang cocok untuk bakso, soto, semur, sop, dan sebagainya,”ujarnya.

Sejak membuka rumah makan Soto Kebo Suegeeer Boyolali, urusan memasak diserahkan kepada karyawan namun resepnya masih diracik  sendiri oleh Ois hingga sekarang.

“Saya tidak terjun langsung memasak. Saya hanya mengolah bumbunya,”ungkap pengusaha yang mewarisi bakat dagang dari ibunya.

Pada awal pembukaan rumah makan Soto Kebo Suegeeer Boyolali Ois melakukan promosi dengan memberikan satu porsi soto kebo gratis kepada 1000 pengunjung pertama. Ia juga sering memberikan promo diskon.

Alhamdulillah dalam waktu singkat rumah makannya cepat dikenal orang. Omset rata-rata pertama kali buka  Rp 2-4 juta per hari. Hampir setiap hari rumah makan yang berkapasitas 120 pengunjung itu penuh.

Minggu ke 6 restorannya buka tiba-tiba terjadi pandemi COVID 19 pada Februari 2020 . Rumah makan Ois terpaksa harus tutup selama 4 bulan karena kebijakan PSBB. Omset rumah makannya pun langsung nol.

Untuk menggaji karyawan, Ois terpaksa harus mengorek celengannya dalam-dalam. Tak bisa dihindari, ia pun terpaksa memulangkan 12 orang karyawannya.

Sementara restorannya tutup, Ois tetap berjualan masakan dari rumah dan diantarkan ke pelanggan dengan cara pesan pre order. Konsumen membayar ongkos kirim serelanya. Ois juga merekrut ibu-ibu sebagai reseller. Di setiap area ada satureseller. Begitu dijalani hingga Juni 2020, restorannya dibuka kembali dengan 6 karyawan dan saat ini bertambah menjadi 9 karyawan.

Pengusaha yang hobi traveling itu  kembali melakukan promosi besar-besaran. Ada saja hadiah yang ia berikan kepada pengunjung, seperti teh jahe hangat yang diberikan secara gratis atau makanan lainnya. Pengusaha wanita itu juga berusaha tetap bersedekah walau kondisi belum stabil.  Setiap pagi ia menyediakan sarapan gratis berupa bubur dicampur sayur gudeg,nasi pecel, atau soto  kepada kaum dhuafa yang lewat di depan rumah makannya.

“Saya hanya punya makanan, maka saya hanya bisa berbagi makanan. Belum bisa banyak memang, namun mencoba untuk konsisten. Semoga Allah memberikan barokah kepada hidup saya, “begitu katanya sambil tersenyum.

Ois juga menambah aneka menu khas di rumah makannya, seperti aneka mangut, aneka krengsengan, aneka lauk pauk dari daging kerbau, sayur,  bakso kebo, nasi pecel, bebek ireng, dan sebagainya. 

Sedikit demi sedikit bisnisnya mulai kembali bangkit. Omzetnya berangsur naik seiring dengan bertambahnya menu yang ditambahkan serta berbagai perbaikan pelayanan. Walau omzet belum optimal seperti yang diharapkan namun Ois tetap bersyukur.

“Saya syukuri saja dengan kondisi saat ini. Yang terpenting saya bisa memberikan gaji karyawan, membayar supplier, dan yang terpenting lagi bisa bermanfaat dengan memberikan lapang kerja bagi orang lain,”kata wanita yang hobi dagang sejak kecil itu.

Sebagai pengusaha, suka dan duka pernah dialami oleh pengusaha yang senang membuat aksesoris dan berbagai bentuk kreativitas lain itu. Berbagai ujian pernah dialaminya baik yang rasional maupun yang tak masuk akal.

Dalam menghadapi cobaan, Ois hanya pasrah kepada Allah dan selalu berpikiran positif.

“Dalam usaha dan dalam hidup ini, saya hanya bisa berusaha berbuat baik pada semua. Pada pelanggan, pada tetangga, pada teman, pada karyawan. Berharap jika kita berbuat baik, maka semua juga akan merasa nyaman dengan kita”ujarnya.

Kuliner bukanlah usaha pertama yang dijalani oleh mantan PNS yang dulu  berprofesi sebagai nakes di sebuah rumah sakit besar di Jakarta. Sejak SD dia sudah mulai berdagang aksesoris, tas dan dompet handmade, bahkan saat SMU sudah memiliki reseller dan pernah mendapatkan omzet sehari 100 – 500.000.  Sebelum memiliki restoran Soto Kebo, Ois juga memiliki usaha tempat penitipan anak yang berlokasi di seberang alun-alun kota Depok. Penitipan anaknya telah berjalan selama 8 tahun  dan sementara ini harus tutup karena pandemi. Selain itu Ois juga menggeluti usaha catering, kantin, dan bahkan Ois pernah memiliki gerai cokelat yang menjual aneka cokelat serta kurma cokelat yang omsetnya sempat mencapai Rp 25 juta per hari jika mendekati Lebaran. Namun sayang, bisnisnya terpaksa disudahi setelah ditelikung oleh mitra bisnisnya.

Meskipun berbagai cobaan usaha pernah Ois alami namun pengusaha yang hobi masak itu pantang menyerah, ia tidak kapok menjadi pengusaha.

“Prinsip saya, manusia itu harus tetap berjuang, bergerak. Jika jatuh, maka harus bergerak untuk bangun lagi. Hidup ini jangan diam. Diam berarti mati,”begitu pungkas istri dari Diyono Moeripto ini. Budi Gunawan