DepokNews–Para pedagang mengakui saat ini harga rempah rempah seperti jahe kunyit, temulawak dan rempah lainnya mengalami kenaikan yang signifikan.

Kenaikan harga sejak dua hari kemarin, harga rempah-rempah tersebut melonjak hingga empat kali lipat.

Rata-rata antara Rp5.000-6.000. Jahe yang awalnya Rp40.000 per kilogram menjadi Rp46.000 per kilogram.

Selain itu, temulawak yang tadinya Rp14.000 per kilogram jadi Rp20.000 per kilogram.

Salah satu pedagang di Pasar tradisonal Pancoran Mas, Marto pada Rabu (3/3) mengatakan kenaikan terjadi sejak beberapa hari lalu.

“Sekarang harganya (temulawak) Rp 40.000, biasanya saya jual cuma Rp 10.000,” katanya.

Di lokasi lain di Pasar Kemirimuka, Kecamatan Beji selain temulawak harga rempah-rempah yang juga melonjak adalah jahe, sereh dan kunyit.

Namun kenaikan harga rempah-rempah tersebut tidak sesignifikan harga temulawak.

“Jahe harganya sekarang Rp 40.000 dari Rp 20.000. Sereh Rp 10.000 dari Rp 6.000 dan kunyit Rp 12.000 dari 5.000,”kata Suyadi pedagang di Pasar Kemirimuka.

Permintaan rempah-rempah tersebut diakui Yadi terjadi lonjakan sejak dua hari lalu atau bersamaan dengan diumumkan adanya dua warga Depok yang terkena virus Covid-19.

“Sejak senin banyak yang nyari (beli) mungkin karena ada yang kena (Corona) kemarin,”katanya.

Dirinya terpaksa menaikkan harga jual karena harga dari Pasar Induk sudah naik.

Di Pasar Induk, Kramat Jati saja harga Rp 40.000 (temulawak) langka barangnya.

“Pasokan barang ada tapi sedikit. Jadi ya saya jualnya juga sesuai harga karena naik jadi saya naikkan juga,”katanya.

Suyadi menambahkan, selain jahe, temulawak dan sereh, kebutuhan lainya yang mengalami lonjakan adalah kunyit.

Harga kunyit yang biasanya Rp5 ribu-6 Ribu kini jadi Rp12 ribu. Tapi tetap, temulawak paling tinggi.

Sejumlah pedagang mengaku, kenaikan harga terjadi karena stok barang yang terbatas di Pasar Induk, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Suryadi mengaku, sejak selama 15 tahun dirinya berdagang, baru kali ini, harga rempah-rempah khususnya temulawak melambung tinggi.

“Kalau aku ya dari sananya harga agak mahal, ya ikutin aja. Barang apapun kalau kosong pasti mahal, di manapun? pasarnya. Jujur saya baru kali ini jual mahal sejak 15 t Rp5 ribu-6 Ribu kini jadi Rp12 ribu. Tapi tetap, temulawak paling tinggi.”katanya.

Sejumlah pedagang mengaku, kenaikan harga terjadi karena stok barang yang terbatas di Pasar Induk, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Suyadi mengaku, sejak selama 15 tahun dirinya berdagang, baru kali ini, harga rempah-rempah khususnya temulawak melambung tinggi.

“Kalau aku ya dari sananya harga agak mahal, ya ikutin aja. Barang apapun kalau kosong pasti mahal, di manapun? pasarnya. Jujur saya baru kali ini jual mahal sejak 15 tahun lalu,”katanya.

Menurut pedagang permintaan rempah rempah tersebut meningkat karena ada informasi kalau rempah rempah tersebut bisa dijadikan minuman penambah daya tubuh.

“Kalau kami tahu dari informasi rempah rempah tersebut diminum dan berkhasiat untuk kekebalan tubuh sehingga bisa terhindar dari virus corona,”katanya.

Sementara itu salah satu pembeli Karno merasa kaget dengan kenaikan harga.
tersebut.

“Biasanya kalau belanja kami bawa uang Rp 100 ribu cukup beli rempah rempah sekarang harga naik jadi ngak cukup,”katanya.