Oleh: Aisyah Nurmalasari

Allah berfirman dalam al-quran surat An-Nisa (4) ayat 28 yang artinya:

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”

Sebagai makhluk yang lemah, manusia tentunya membutuhkan kekuatan dari luar, seperti dari makhluk lain dan tentunya dari Dzat Yang Maha Kuat, Allah Subhanahu wata’ala. Maka dari itu, Ia mengimbangi kelemahan manusia dengan memerintah hamba-Nya untuk senantiasa berdoa kepada-Nya.

Banyak sekali firman Allah tentang janji-Nya akan mengabulkan doa semua hamba-Nya. Salah satunya dalam surat Ghafir (40) ayat 60 yang artinya:

“Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak akan menolak permintaan orang yang berdoa, dan tidak ada sesuatu apapun yang menyibukkan Dia dari memperhatikan doa hamba-Nya, bahkan Dia Maha Mendengar doa. Di sini ada penekanan, dorongan dan anjuran untuk berdoa, karen doa itu tidaklah disia-siakan di sisi Allah subhanahu wata’ala. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/284).

Lalu bagaimana cara agar doa cepat dikabulkan oleh Allah?
Dalam surat al-Baqoroh (2) ayat 186 Allah berfirman yang artinya:

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sungguh Aku sangat dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kelurusan.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap hamba harus melakukan semua perintah Allah, melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan jahat, senantiasa beirman dan menjauhi segala perbuatan maksiat, baik besar maupun kecil. Maka Allah akan mengabulkan permohonan hamba tersebut.

Lalu bagaimana jika doa tetap belum dikabulkan juga oleh Allah?
Terkait hal ini sahabat ‘Ubadah bin Shamit radiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, melainkan Allah pasti akan memberikannya kepadanya, atau Allah akan menghindarkannya dari kejelekkan yang sebnding dengan doanya, selama ia tidak mendoakan dosa atau memutus silaturahim.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan shahih).

Diriwaytakan juga oleh Al-Hakim dari Abu Sa’id, dan ia menambahkan:
“Atau Allah menyimpan untuknya berupa pahala yang sebanding dengan doa tersebut.” (HR. Ahmad)

Dari hadits tersebut dapat diketahui bahwa ada tiga cara Allah mengabulkan doa hamba-Nya. Dan Ia pasti akan mengabulkan permohonan tersebut selama tidak ada maksiat yang terselip di dalamnya.

Jadi tugas manusia dan seluruh makhluk-Nya adalah bersabar dan berhusnudzhan atau berbaik sangka kepada-Nya bahwa Ia pasti akan mengabulkan doa tersebut, serta senantiasa mengangkat kedua tangan untuk berdoa kepada-Nya.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala malu bila seorang hamba mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu ia mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan hampa (gagal).” (HR. Ahmad, (5/438), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1757).