DepokNews, Bekasi, Anggota Komisi VIII DPR RI Hj. Nur Azizah Tamhid, B.A., M.A, dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI Bersama Pemkot Bekasi dan BNPB di Gor Candrabraga Kota Bekasi, Pada Rabu (3/2), menyebutkan bahwa di tahun 2021 Indonesia banyak dilanda bencana baik bencana alam maupun non alam. Tidak terkecuali Kota Bekasi yang merupakan daerah penyangga ibukota. Hampir setiap tahunnya dikabarkan mengalami bencana banjir yang cukup parah. Menurutnya semua bencana itu terjadi atas kehendak Allah SWT, ia menghimbau agar semua masyarakat untuk tetap menjaga diri dengan terus menerapkan prinsip jaga iman, imun dan aman.

Sebagai satu-satunya Anggota Komisi VIII yang berasal dari Dapil Kota Bekasi, Nur Azizah menyebut dirinya telah banyak mengikuti perkembangan Kota Bekasi khususnya di musim penghujan serta di Masa Pandemi Covid-19. Salah satu daerah terdampak banjir yang baru saja dikunjunginya adalah Villa Jatirasa, di Kecamatan Jatiasih Kota Bekasi, sebagai salah satu daerah yang cukup parah terdampak bencana banjir.

Menurut Nur Azizah, BNPB sebagai salah satu mitra Komisi VIII melalui BPBD Kota Bekasi sudah cukup sigap dalam menanggulangi masyarakat terdampak banjir di Bekasi. “Alhamdulillah BNPB sudah cukup responsif, hanya saja kita perlu ada penanggulangan khusus agar banjir ini tidak terus terulang. Banjir di Bekasi ini memang kebanyakan akibat pendangkalan sungai dan kurangnya daerah resapan air, berdampak pada sistem drainase yang buruk. Alhamdulillah saat ini sudah ada bantuan untuk pengerukan dan normalisasi sungai-sungai, semoga dapat segera tertanggulangi dengan baik”, jelas Nur Azizah.

Menanggapi hal tersebut, Walikota Bekasi, Dr. H. Rahmat Effendi, membenarkan bahwa BPBD Kota Bekasi cukup responsif, hanya saja saat ini belum memiliki sekertariat khusus, dan masih menumpang di Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).

“Kami sudah mengkaji dan menyampaikan kepada bapak Mendagri bahwa BPBD khususnya di daerah-daerah rawan bencana seperti Bekasi ini dia harus mandiri seperti unit-unit kerja lain. Jika otoritas ini tidak diterapkan maka aturan mitigasi ini akan menjadi banci, tidak dapat berjalan dengan optimal”, ungkap Rahmat.

Selain itu Rahmat juga menjelaskan bahwa sistem drainase yang masih buruk di kota Bekasi ini akibat dari tata kelola ruang yang kurang baik “Bekasi ini salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang paling bagus di Jawa Barat, pertumbuhan ekonominya di atas rata-rata 5,7%, inflasinya juga sangat rendah. Namun, dalam hal tata kelola ruang masih belum baik. Sebagaimana disampaikan ibu Nur Azizah, hal ini berdampak pada sistem drainase yang buruk. Jadi bencana di Bekasi ini merupakan bencana topografi”, jelas Rahmat.

Pada kesempatan ini Nur Azizah berharap agar upaya-upaya yang dilakukan Pemkot dan BPBD saat ini dapat menyelesaikan permasalahan yang ada. Disamping itu, Nur Azizah juga berpesan agar masyarakat menjalankan prinsip iman, imun dan aman.

Menurut Nur Azizah, terkait bencana alam ini, disana sudah jelas Allah SWT sudah berfirman dalam QS At Taubah ayat 52 dan QS Ar-rum ayat 41. Jadi memang ada dua hal terkait bencana, ada yang memang Allah sudah takdirkan dan yang terjadi akibat dari ulah tangan-tangan manusia. Bencana alam banjir serta bencana non alam seperti Covid-19, masyarakat harus senantiasa dibekali pemahaman tentang pentingnya menjaga iman, imun dan aman.

“Pertama iman, artinya kita berprasangka kepada Allah, bahwa bencana ini terjadi semua atas kehendak-Nya oleh karenanya kita harus terus mendekatkan diri kepada Allah, berdoa kemudian bertawakal kepada Allah. Yang kedua imun, artinya jasad kita harus terus diberikan asupan-asupan yang baik sehingga dapat menjaga imun atau kekebalan tubuh kita. Kemudian ketiga yaitu aman, dilaksanakan dengan terus menjalankan protokol Kesehatan”, pungkas Nur Azizah.